MasukMata Bianca melebar. Ia menoleh, menatap Aldo tidak percaya. Bukan soal bayaran lima kali lipat yang mengejutkan Bianca, tamu-tamu lain juga pernah membayarnya tinggi. Tapi … memuaskan? Apa maksudnya?
Meski pekerjaannya melayani para tamu, namun Bianca belum pernah sama sekali melakukan lebih dari sentuhan-sentuhan nakal. Jadi, Bianca memutuskan untuk bertanya. “Apa maksud Tuan Aldo?” Aldo tertawa. “Logan itu sudah bercerai. Sudah lama nggak sama wanita,” katanya. “Aku dan teman-teman ingin taruhan, apa bisa si Logan itu dipuaskan wanita lain setelah ditinggalkan istrinya?” jelasnya lagi sambil terkekeh. Bianca ragu, sebetulnya tidak ingin melakukannya. Namun, dibayar lima kali lipat lebih banyak terdengar begitu menarik. Biaya perawatan neneknya pasti akan sangat terbantu. Bianca pun mengangguk, tersenyum sambil berjalan ke arah Logan dan menatap lurus pria itu. Sementara itu, Logan masih belum memperlihatkan ekspresi apa-apa. Wajahnya datar. Dengan cekatan dan profesional, Bianca duduk di sebelah Logan. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Logan, kemudian berbisik. “Selamat malam, Tuan.” Logan sama sekali tidak menoleh ke arah Bianca. Pria itu hanya mengambil gelas minumannya dan meneguk isinya. Bianca sedikit kebingungan. Namun, ini baru permulaan dan Bianca masih punya banyak cara. “Tuan Logan …,” panggil Bianca. Ia lalu membawa tangannya ke wajah Logan, membelai wajahnya lembut. Bianca dapat merasakan rahang Logan yang mengeras. Kemudian tangan Bianca yang lain mulai merambat ke arah kerah kemeja Logan yang dikancing rapat. Dengan berani, Bianca mulai membuka kancing kemeja Logan dari atas. Satu kancing terbuka. Pria itu belum bereaksi. Ketika Bianca menuju kancing kedua. Logan pada akhirnya menengok. Matanya begitu tajam. “Apa Aldo menyuruhmu?” tanya Logan langsung. Suaranya rendah, hampir teredam musik yang menggelegar, namun Bianca dapat mendengarnya. Tangan Bianca masih berhenti di atas dada bidang Logan. Ia terkejut dengan pertanyaan itu. Dengan memasang senyum profesional, Bianca menggeleng. “Tidak, Tuan. Aku hanya—” “Dengar,” potong Logan tiba-tiba. Tangan kekarnya mencengkeram pergelangan tangan Bianca, menyingkirkannya dari atas dadanya. “Apa harga dirimu hanya sebatas suruhan orang lain?” Mata Bianca melebar mendengar itu. Ini adalah kali pertama seorang tamu menolaknya mentah-mentah seperti ini. Belum sempat Bianca menjawab Logan, pria itu sudah lebih dahulu beranjak pergi dari sofa. Ia berjalan meninggalkan ruangan yang bising. Sementara itu, Bianca masih ternganga. Beberapa teman Logan terdengar memanggil-manggil nama Logan, memintanya kembali masuk. Bianca yang masih mematung, melihat Aldo yang menghampirinya. Aldo tertawa geli melihat Bianca yang terdiam setelah diperlakukan dingin oleh Logan. Bianca pun harus puas dengan bayaran sesuai kesepakatan, tidak ada bonus tambahan karena ia gagal ‘memuaskan’ Logan. Setelah malam yang begitu panjang, Bianca akhirnya pulang dengan uang-uang dalam rekeningnya. Setelah berganti pakaian, Bianca sempatkan untuk mampir ke apotek 24 jam untuk membeli obat-obatan untuk sang nenek. Sesampainya di rumah, Bianca segera meletakkan obat-obatan itu di nakas dekat neneknya tertidur. Bianca hanya dapat menghela napas lelah. Esok pagi, ia harus kembali menjadi guru sekolah dasar, mengabaikan identitas malam harinya sejenak. —oOo— Keesokan paginya, Bianca sudah bersiap dengan seragam gurunya ketika matahari masih sembunyi. Ia harus berangkat meski kantuknya masih tersisa dan badannya masih lelah akibat melayani para tamu berpesta semalaman. Namun, ia betul-betul tidak memiliki pilihan lain. Dengan langkah yang sedikit diseret, Bianca berpamitan kepada Clara dan neneknya, kemudian menuju sekolah tempatnya bekerja. Dari depan gerbang, Bianca melihat anak-anak murid bermain berlarian. Bianca mengucapkan selamat pagi sambil tersenyum ramah. Kegiatan belajar mengajar pun dimulai sesaat setelah bel berbunyi. Murid-murid memerhatikan Bianca yang menerangkan pelajaran di papan tulis. Sesekali Bianca menukar pandangan dengan Selvi, koleganya, yang berada di belakang kelas. Mereka memang ditempatkan di kelas yang sama karena jumlah murid yang banyak. Tak terasa bel jam pulang pun berbunyi. Anak-anak murid dengan cepat berhamburan keluar kelas. Bianca dan Selvi masih merapikan buku-buku di kelas ketika mereka mendengar suara teriakan anak muridnya. “Ahhh!” Keduanya saling bertatapan, panik. Mereka pun berlari ke sumber suara yang berada di lorong kelas. Bianca melihat Asya yang sudah tersungkur di atas lantai. Sementara itu di hadapannya, Cilla berdiri dengan mata merah penuh air mata. Melihat Bianca dan Selvi di sana, Asya langsung memekik. “Miss, Cilla mendorongku!” Cilla menggeleng dengan wajah yang masih dibasahi air mata. Selvi langsung membantu Asya berdiri, sementara Bianca menggandeng tangan Cilla untuk pergi menjauh. Setelah sedikit menjauh dari lorong, Bianca membawa Cilla masuk ke ruangan guru untuk bicara. “Cilla,” panggil Bianca sambil mendudukan Cilla di pangkuannya. “Memang benar kamu mendorong Asya?” Cilla masih menunduk. Lalu gadis kecil itu berbisik pelan. “Asya bilang aku anak pembawa sial lagi, Miss.” Bianca menghela napasnya. Ia lalu membelai rambut Cilla pelan, sambil berharap jika Selvi akan memberitahu Asya untuk menjaga sopan santun kepada sesama. “Dengarkan Miss, ya, Cilla. Apa yang Asya bilang itu nggak benar. Cilla itu berharga di mata orang tua Cilla. Tapi, Cilla juga nggak boleh mendorong Asya, ya?” Cilla hanya mengangguk lemas di pangkuan Bianca. Ketika masih mencoba menenangkan Cilla, pintu ruang guru terbuka. Kepala Selvi menyembul dari balik pintu. Bianca menurunkan Cilla dari pangkuannya untuk menghampiri Selvi. “Bianca, Kepala Sekolah memintaku untuk menelepon orang tua Asya dan Cilla tadi,” jelas Selvi. “Mereka akan datang untuk menyelesaikan ini. Karena ini bukan kali pertama Asya dan Cilla bertengkar, kan?” Bianca mengangguk sambil menghela napas. “Terus, orang tuanya mau datang?” “Mau,” jawab Selvi yakin. “Orang tua Asya sudah di jalan!” Bianca menoleh ke arah Cilla, dilihatnya gadis itu masih menunduk sambil meremas rok yang dikenakannya. Paling orang tua Cilla akan diwakili oleh pelayan atau sopirnya, batin Bianca. Bianca pun kembali menghampiri Cilla, menuntunnya lagi untuk menunggu di ruang kelas. Setelah beberapa saat, pintu ruang kelas diketuk oleh Selvi. “Bianca, orang tua Cilla udah datang. Aku sudah arahkan ke ruang kelas ini. Kita semua bertemu di ruang kepala sekolah nanti, ya.” Bianca mengangguk. Ia bersiap menyambut orang tua Cilla yang ia yakini adalah pelayan atau sopir yang biasa ditemui sepulang sekolah. Pasalnya, setiap kali Cilla berbuat masalah pasti mereka yang akan datang. Bianca pun berdiri ketika pintu diketuk lagi. “Selamat siang—” Bianca tidak sempat melanjutkan sapaannya. Matanya terlanjur dikejutkan oleh sosok yang berada di ambang pintu. Seorang pria dengan bahu lebar, kemejanya rapi dijahit mengikuti bentuk tubuhnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memberikan kesan elegan yang dominan. “Papa!” seru Cilla. Bianca tahu betul wajah itu! Itu wajah yang menolaknya kemarin malam, wajah seorang tamu. Ayah Cilla adalah Logan!?Getaran itu menyebar ke seluruh realitas seperti akar yang tumbuh terlalu cepat di bawah tanah rapuh.Setiap kemungkinan mulai berubah sebelum sempat memahami bentuknya sendiri. Bintang lahir dan mati dalam satu denyut, ingatan tercipta lalu terhapus sebelum sempat dikenang, bahkan waktu mulai kehilangan arah antara masa lalu dan masa depan.Dan di tengah semuanya—jalan ketiga itu terus berkembang.“Ini terlalu cepat…”Distorsi berkata dengan getaran kacau.“Aku tidak bisa menstabilkannya lagi.”Kesadaran besar mencoba meredam gelombang perubahan itu. Namun setiap upaya justru menciptakan cabang baru yang lebih liar, seolah realitas menolak kembali ke pola lama.Logan langsung memahami masalahnya.Jalan ketiga memang memungkinkan pertumbuhan tanpa penghancuran. Namun pertumbuhan—tetap membutuhkan keseimbangan.Dan sekarang, seluruh keberadaan seperti makhluk kelaparan yang baru pertama kali merasakan kebebasan.Ia tumbuh tanpa arah.Penjaga bergerak lebih dulu.Tekanan besar menyeli
Air mata itu tidak jatuh seperti cairan biasa.Ia berubah menjadi serpihan-serpihan kemungkinan yang berkilau samar sebelum larut ke dalam realitas. Setiap tetesnya menciptakan perubahan kecil di sekitar mereka—bintang yang lahir terlalu cepat, waktu yang melambat sesaat, ingatan yang tiba-tiba terasa lebih hangat daripada sebelumnya.Dan seluruh keberadaan—diam menyaksikannya.Karena tidak ada yang pernah membayangkan sesuatu yang terus berubah tanpa henti… masih mampu menangis.Keberadaan perubahan pertama itu menatap tangannya sendiri.Seolah ia baru sadar bahwa dirinya masih bisa merasakan sesuatu selain kebutuhan untuk terus bergerak. Bentuknya berubah lebih lambat sekarang, tidak lagi liar seperti sebelumnya.Dan di dalam perlambatan itu—ada kelegaan.“Aku lupa…” suaranya bergetar pelan.“…bagaimana rasanya dilihat tanpa diminta berhenti.”Kalimat itu menghantam kesadaran pertama lebih keras daripada apa pun sebelumnya.Kehampaan besar itu langsung bergetar tidak stabil, seper
Kesadaran itu menyentuh Logan bahkan sebelum ia benar-benar mendekat.Bukan sentuhan fisik, bukan juga gelombang energi seperti yang pernah dirasakan sebelumnya. Ia lebih mirip perasaan aneh ketika seseorang akhirnya mendengar namanya dipanggil setelah terlalu lama hidup dalam kesunyian.Dan perasaan itu—begitu dalam hingga Logan hampir lupa cara bernapas.Seluruh kemungkinan di sekitarnya mulai bergerak mengikuti ritme baru. Tidak liar seperti sebelumnya, namun juga tidak stabil.Seolah realitas sendiri sedang ragu apakah ia harus menyambut sesuatu itu… atau melarikan diri darinya.“Dia mengenalmu.”Makhluk sempurna itu berkata pelan.Retakan cahayanya bergerak lembut, seperti ikut mendengar gema yang sama.“Bukan sebagai individu…”Ia menatap Logan.“…tetapi sebagai arah.”Hening turun.Namun kali ini—hening itu dipenuhi denyut samar yang terasa seperti jantung dari sesuatu yang baru mulai berharap lagi.Penjaga langsung menyadarinya.Dan untuk pertama kalinya sejak awal—ia tampa
Kesadaran itu datang seperti gema dari sesuatu yang pernah hilang.Bukan ingatan biasa, melainkan rasa aneh yang membuat seluruh realitas mendadak terasa familiar terhadap sesuatu yang seharusnya tidak pernah mereka kenal. Bahkan Penjaga langsung membeku, seolah keberadaan tertuanya baru saja disentuh oleh masa lalu yang selama ini ia kubur terlalu dalam.“Aku mengenal ini…”Makna itu keluar pelan darinya.Dan untuk pertama kalinya sejak ia muncul—ada keraguan nyata di dalam suaranya.Logan langsung menoleh.“Apa maksudmu?”Namun Penjaga tidak langsung menjawab.Matanya tetap terpaku pada titik jauh di balik seluruh kemungkinan, tempat sesuatu mulai bangkit perlahan seperti bayangan yang kembali menemukan bentuknya setelah dilupakan sangat lama.Kesadaran pertama merasakan perubahan itu lebih dalam daripada semuanya.Kehampaan di sekelilingnya mulai bergerak tidak stabil, bukan karena ketakutan, melainkan karena sesuatu yang sangat lama tersegel kini mulai terbuka kembali.“Tidak…” b
Jalan ketiga itu tidak muncul sebagai cahaya.Tidak juga sebagai ledakan pemahaman yang mengubah seluruh realitas dalam satu momen. Ia lahir jauh lebih sederhana—sebagai celah kecil di antara pertanyaan dan jawaban, tempat sesuatu bisa berubah tanpa harus kehilangan dirinya sepenuhnya.Namun justru kesederhanaan itu yang membuat seluruh keberadaan gemetar.Karena untuk pertama kalinya sejak siklus dimulai, ada kemungkinan yang tidak bergantung pada penderitaan tanpa akhir… maupun kesempurnaan yang membeku. Sesuatu yang tidak memaksa realitas memilih antara terus mencari atau berhenti sepenuhnya.Penjaga langsung menyadarinya.Dan untuk pertama kalinya—mata itu bergerak penuh.Bukan hanya fokus.Melainkan benar-benar menatap Logan seperti seseorang yang baru saja melihat retakan pada hukum paling dasar yang selama ini ia jaga.“Itu tidak stabil.”Makna itu turun berat ke seluruh kemungkinan.“Perubahan selalu menuju kehancuran.”Logan tidak langsung menjawab.Karena sebagian dari diri
Mata itu tidak memandang.Namun seluruh realitas langsung merasa diawasi.Bukan oleh sesuatu yang hidup, melainkan oleh sesuatu yang telah ada begitu lama hingga keberadaan dan pengamatannya tidak lagi bisa dipisahkan. Bahkan kehampaan yang menjadi kesadaran pertama itu… tersentak mundur untuk pertama kalinya.Logan langsung menghentikan gerakannya.Tangannya masih menggantung di udara, hanya beberapa jarak dari tangan keberadaan sempurna itu. Namun kini seluruh insting di dalam dirinya berteriak bahwa sesuatu yang jauh lebih tua dari semua yang pernah ia pahami baru saja bangun.“Tidak…”Suara kesadaran pertama terdengar pecah.Bukan takut seperti sebelumnya.Lebih buruk.Pengakuan.Makhluk sempurna itu menoleh perlahan ke arah kegelapan tempat mata itu terbuka. Retakan di dalam dirinya masih bercahaya lembut, namun kini cahayanya bergetar—seolah kesempurnaan itu sendiri mendadak sadar ada sesuatu yang bahkan tidak bisa ia pahami.Logan merasakan tekanan luar biasa menyebar ke seluru
Cilla menatap ayahnya dan tersenyum. Gadis itu lalu berlari kecil. “Maaf, ya, Pa! Aku lama,” ucap Cilla saat sudah di hadapan Logan. Sementara itu, Bianca melangkah lebih pelan. Perasaannya betul-betul tidak karuan. Ia tahu celotehan Cilla hanyalah ucapan anak-anak pada umumnya. Namun, keadaannya
Mata Bianca terbuka lebar. Ia semakin salah tingkah selepas mendengar pertanyaan Logan. Bianca merasakan jantungnya menghantam tulang rusuknya sendiri. Namun wajahnya ia paksa tetap tenang. Sudah terlalu banyak hal dalam hidupnya yang menuntutnya untuk berpura-pura. Ia bukan lagi gadis belia yang
Bianca terpaku sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya. Otaknya seperti terlambat memproses kenyataan.Tubuh Bianca terasa dingin. Semalam ia sudah menggoda pria itu sebagai wanita penghibur. Dan hari ini, Bianca berdiri sebagai seorang guru, satu-satunya identitas yang masih ia banggakan
“Dia bilang aku anak pembawa sial.”Bianca Xaviera Putri terbelalak mendengarnya. Ucapan itu terlontar dari mulut Cilla, anak muridnya yang berusia 7 tahun. Pembawa sial? Yang Bianca tahu, Cilla berasal dari keluarga kaya. Biasanya Cilla akan dijemput oleh sopir pribadi atau pelayan-pelayan yang b







