Share

Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku
Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku
Author: Saraswati_5

Bab 1

Author: Saraswati_5
last update Last Updated: 2026-02-23 15:57:57

“Dia bilang aku anak pembawa sial.”

Bianca Xaviera Putri terbelalak mendengarnya. Ucapan itu terlontar dari mulut Cilla, anak muridnya yang berusia 7 tahun. 

Pembawa sial? Yang Bianca tahu, Cilla berasal dari keluarga kaya. Biasanya Cilla akan dijemput oleh sopir pribadi atau pelayan-pelayan yang berseragam rapi. 

Dari desas-desus orang tua murid yang beberapa kali didengar oleh Bianca pun, keluarga Cilla sangat menyayanginya. Jadi, Bianca benar-benar kaget ketika mendengar itu. 

Sore ini, Bianca sedang menemani Cilla menunggu sopir pribadi menjemputnya. Tadi, Bianca sempat memisahkan Cilla ketika bertengkar dengan anak murid yang lain. Sekarang, Cilla berada di pangkuan Bianca dengan kepala tertunduk. 

“Siapa yang bilang gitu, Cilla?” tanya Bianca.

Anak perempuan itu menunjuk seorang anak perempuan lain di kejauhan. “Asya,” katanya. 

Bianca menoleh ke arah sana. Asya baru saja dijemput oleh ibunya. 

“Asya bilang Cilla pembawa sial?”

“Iya. Katanya, aku yang bikin Mama pergi ninggalin Papa.”

Bianca tertegun. Ternyata orang tua Cilla sudah bercerai? 

“Nggak ada anak pembawa sial, Cilla. Nanti Miss tegur Asya, ya?” ucap Bianca sambil mengelus kepala Cilla. “Lagipula, Papa Cilla pasti sayang sama Cilla.”

Cilla menggeleng. “Papa juga nggak sayang aku, Miss.”

Bianca terkejut. Namun belum sempat membalas lagi, sebuah mobil hitam mewah sudah membunyikan klakson dan memasuki area pekarangan sekolah. Itu mobil jemputan Cilla. 

Seorang sopir dengan jas rapi keluar dari kursi pengemudi. Bianca sudah mengenalnya karena pria tua itu setiap hari menjemput Cilla. 

Mendengar klakson yang familiar, Cilla mengangkat kepalanya. Ia lalu turun dari pangkuan Bianca dan berjalan gontai ke arah mobil itu. Sang sopir dengan sigap menghampiri, kemudian membawakan tas sekolah Cilla. 

“Kami permisi,” pamit si sopir sopan sesaat setelah Cilla masuk ke dalam mobil. 

Bianca mengangguk. Tak lama, mesin mobil berderu dan dengan cepat menghilang dari pekarangan sekolah. 

Bianca hanya berdiam diri di sana sebelum ponsel dalam sakunya bergetar. Sebuah pesan masuk. 

[Hari ini ada tamu spesial. Bayarannya tinggi.]

Bianca sedikit terkejut. Cepat-cepat ia menyembunyikan ponselnya, takut ada orang lain yang mengintip pesannya. 

Bianca pun bergegas masuk ke dalam untuk berkemas dan pulang ke rumah. 

—oOo—

Sesampainya di rumah, Bianca berdiri di depan cermin kecil di kamar. Pakaiannya sudah berganti menjadi luaran kemeja yang sopan. Bianca juga sempatkan untuk merias tipis wajahnya. Cukup untuk sekadar menghiasi paras cantiknya. 

Bianca berjalan keluar kamar sambil menyampirkan tas di bahu.

“Mbak, mau berangkat?” suara Clara, adiknya, terdengar dari arah dalam kamar.

“Iya,” jawab Bianca.

“Mbak nggak capek? Pagi kerja, malam kerja lagi!” 

Bianca tersenyum tipis sambil menyemprotkan parfumnya. Tentu saja ia lelah, namun Bianca tidak punya pilihan lain karena harus membiayai pengobatan nenek sambil menyambung hidup. Sejak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, Bianca yang menjadi tulang punggung bagi adik dan neneknya.

Ia sempatkan menoleh ke arah kamar utama, tempat neneknya terbaring lemah. 

“Jangan khawatir, Clara. Yang penting nenek sembuh dan kamu bisa kuliah nanti.”

Clara tersenyum. “Kalau gitu, hati-hati, Mbak. Malam ini merawat di panti jompo mana? Sama seperti kemarin?”

Bianca menelan ludahnya. Tiap kali adiknya itu bertanya soal pekerjaan malamnya, Bianca selalu menjadi gugup. “I-iya, yang … kemarin. Sudah, ya, Clara. Aku pamit.”

Bianca menutup pintunya dan ia melangkah dengan cepat menyusuri jalanan yang masih ramai. Langkahnya dibawa menuju ke tengah kota, tempat bekerjanya berada. 

Yang tidak seorang pun tahu selain dirinya, pekerjaannya di malam hari sama sekali bukan sebagai sebagai perawat di panti jompo. Ia merahasiakan pekerjaan ini rapat-rapat dari semua orang. 

Tidak ada yang boleh mengetahui tentang pekerjaan ini selain dirinya.

Bianca melangkah pasti menuju gedung yang berdiri megah di tengah kota. Sebuah klub malam. Lampunya mencolok. Ketika masuk ke dalam, musiknya langsung menggelegar.

Bianca masuk melewati pintu samping, mengganti senyum lembutnya ketika menjadi guru di pagi hari, dengan ekspresi profesional untuk melayani tamu-tamunya. 

Ia berjalan cepat menuju ruang belakang. Reno, si pemilik klub, sedang duduk di sana sambil merokok.

“Tamu spesialnya baru saja datang. Layani mereka dengan baik,” kata Reno.

Bianca hanya mengangguk sambil mempersiapkan pakaian gantinya dan menghela napas pendek. 

Sebenarnya ia tidak pernah menyukai ini. Setiap malam Bianca harus rela melayani pria-pria di klub malam, menemani mereka mabuk semalaman sambil mengenakan pakaian yang terlalu pendek demi mendapatkan bayaran besar. 

Semua ini dilakukannya demi membiayai biaya perawatan neneknya dan kehidupan sehari-hari. Ia tidak punya pilihan lagi karena menjadi guru saja tidak cukup untuk menutup itu semua. 

“Bianca?” suara Reno membuyarkan lamunannya.

Bianca menoleh. 

“Jangan melamun. Ke ruang VIP sekarang,” pinta Reno singkat.

“Baik,” jawab Bianca seadanya. 

Bagaimanapun, Bianca harus tetap bersikap profesional. Ia membutuhkan uang ini dan pria-pria itu membutuhkan pelayanannya. 

Jadi, ia melangkahkan kakinya ke arah ruang VIP berada. Dari luar, suara musik keras dari mesin karaoke sudah menggema. Bianca membuka pintu sambil tersenyum lebar, sebuah senyum profesional. 

“Selamat malam, Tuan-tuan!”

Di dalam ruang VIP, segerombolan pria tengah menikmati malamnya. Mereka menoleh begitu Bianca masuk. “Ini dia yang ditunggu!” sahut salah satu pria di sana.

Dari beberapa pria di sana, pandangan Bianca tersita oleh salah satu pria yang duduk bersandar di ujung sofa. Tatapan mata pria itu sedikit kosong, tidak terlihat tertarik dengan pesta yang berlangsung. Di hadapannya, sebuah gelas kecil berisi alkohol terlihat belum disentuh. 

Saat sedang menyisir seluruh ruang, tiba-tiba pinggangnya ditarik oleh salah satu pria di sana, Aldo, salah satu pelanggan setia. “Bianca, kamu mau bayaran lebih?” bisiknya.

Bianca mengerjap mendengar itu. Tentu saja ia mau. Memang itu tujuannya bekerja di klub malam seperti ini. “Tentu, Tuan Aldo.”

Mata Bianca masih memindai ruangan itu meski lampu yang berkedip membuatnya tak dapat melihat begitu jelas. Saat itulah Bianca merasakan tatapan tajam dari pria yang duduk di ujung sofa tadi. Namun, Bianca cepat mengabaikannya ketika Aldo berujar lagi.

“Itu temanku, namanya Logan,” Aldo menunjuk seorang pria di ujung sofa. 

“Oh. Pria itu bernama Logan rupanya,” batin Bianca.

Logan tidak lagi menatap Bianca. Pandangannya kini berpaling ke kawan-kawannya yang sedang bernyanyi keras-keras.

Namun, Bianca masih belum mengerti maksud dan arah pembicaraan Aldo.

“Ada apa dengan Tuan Logan?” bisik Bianca. 

“Aku beri bayaran lima kali lipat … kalau kamu bisa memuaskan Logan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 6

    “Ternyata dugaan saya benar. Kita memang pernah bertemu sebelumnya.”Suara Logan rendah, nyaris tenggelam oleh dentuman musik dari luar ruangan. Namun, kalimat itu terasa jauh lebih keras daripada musik mana pun di telinga Bianca. Bianca mencoba berdiri tegak, meski jantungnya berdegup tidak karuan. “Sepertinya Anda salah orang, Tuan. Kita baru bertemu dua kali ini,” jawab Bianca mencoba menutupi jati diri, walau sepertinya sia-sia saja. Logan menarik ujung bibirnya ke atas membentuk senyum sinis. “Kamu tidak perlu berpura-pura lagi, Miss Bianca. Semuanya sudah jelas.”Jantung Bianca semakin berdebar tidak karuan. Tubuhnya terasa panas dingin, mendapati Logan yang mengenalinya. Padahal, ia kira Logan tidak mengenali dirinya tapi ternyata tidak. Perasaannya selama ini memang benar, jika laki-laki itu curiga padanya. Ia lalu menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan. Ia memberanikan diri menatap Logan. “Ya, Anda memang benar, Tuan. Tidak ada yang harus ditutup-tutupi,” ucap

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 5

    Cilla menatap ayahnya dan tersenyum. Gadis itu lalu berlari kecil. “Maaf, ya, Pa! Aku lama,” ucap Cilla saat sudah di hadapan Logan. Sementara itu, Bianca melangkah lebih pelan. Perasaannya betul-betul tidak karuan. Ia tahu celotehan Cilla hanyalah ucapan anak-anak pada umumnya. Namun, keadaannya dengan Logan sekarang membuat Bianca kikuk.Logan pun tidak langsung berbicara. Ia malah menatap Bianca dengan tatapan yang masih sulit diartikan. Logan kemudian beralih pada Cilla yang ada di hadapannya. “Iya, nggak apa-apa,” jawabnya. Setelah sampai di depan mobil kembali, pria itu membukakan pintu mobil untuk putrinya. Sebuah gestur yang nampaknya disukai oleh Cilla, sebab gadis itu tersenyum lemar. Logan juga memastikan sabuk pengamannya terpasang setelah Cilla duduk manis. Bianca pikir, Logan akan segera berpamitan. Namun, Logan malah menutup pintu mobil dan kembali berdiri menghadap Bianca.“Apa dia sering seperti itu?” tanya Logan pelan.Bianca mengerjapkan matanya beberapa kali.

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 4

    Mata Bianca terbuka lebar. Ia semakin salah tingkah selepas mendengar pertanyaan Logan. Bianca merasakan jantungnya menghantam tulang rusuknya sendiri. Namun wajahnya ia paksa tetap tenang. Sudah terlalu banyak hal dalam hidupnya yang menuntutnya untuk berpura-pura. Ia bukan lagi gadis belia yang mudah tersipu atau panik. Ia perempuan dewasa yang tahu bagaimana menyelamatkan dirinya.Bianca tersenyum tipis. “Seingat saya belum pernah, Pak,” jawab Bianca lembut. “Saya hanya pernah bertemu sopir dan pelayan yang biasa antar jemput Cilla.”Logan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih melekat. Ditatap seperti itu oleh Logan membuat Bianca menahan napas. Setiap detik terasa lebih panjang dari seharusnya.Lalu Logan mengangguk pelan. “Begitu, ya.”Hanya dua kata. Namun cukup membuat lutut Bianca hampir lemas.“Kalau begitu kami pamit, Miss Bianca,” lanjut Logan akhirnya.Bianca mengangguk. “Hati-hati di jalan, Pak.” Bianca lalu beralih pada Cilla. “Sampai jumpa besok, Cilla!”Cilla t

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 3

    Bianca terpaku sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya. Otaknya seperti terlambat memproses kenyataan.Tubuh Bianca terasa dingin. Semalam ia sudah menggoda pria itu sebagai wanita penghibur. Dan hari ini, Bianca berdiri sebagai seorang guru, satu-satunya identitas yang masih ia banggakan. Miss Bianca, seorang guru yang sabar dan lembut. Bagaimana jika Logan mengenalinya? Lalu bagaimana jika kabar itu menyebar ke sekolah?Karirnya bisa hancur begitu saja!Kepala Bianca dipenuhi bayangan-bayangan buruk. Mulai dari kepala sekolah yang memanggilnya dengan wajah kecewa. Orang tua murid yang berbisik-bisik. Clara yang mengetahui semuanya. Neneknya .…Bianca menelan ludah.Ia hanya bisa berharap Logan tidak mengenalinya. Toh, di sekolah, Bianca hampir tak pernah memakai riasan tebal. Hanya bedak tipis dan lip balm. Rambutnya pun selalu diikat sederhana. Sangat berbeda dengan perawakannya tiap malam di klub. Mengerjap dari lamunan dan paniknya, Bianca lantas memperhatikan Logan

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 2

    Mata Bianca melebar. Ia menoleh, menatap Aldo tidak percaya. Bukan soal bayaran lima kali lipat yang mengejutkan Bianca, tamu-tamu lain juga pernah membayarnya tinggi. Tapi … memuaskan? Apa maksudnya?Meski pekerjaannya melayani para tamu, namun Bianca belum pernah sama sekali melakukan lebih dari sentuhan-sentuhan nakal. Jadi, Bianca memutuskan untuk bertanya. “Apa maksud Tuan Aldo?”Aldo tertawa. “Logan itu sudah bercerai. Sudah lama nggak sama wanita,” katanya. “Aku dan teman-teman ingin taruhan, apa bisa si Logan itu dipuaskan wanita lain setelah ditinggalkan istrinya?” jelasnya lagi sambil terkekeh.Bianca ragu, sebetulnya tidak ingin melakukannya. Namun, dibayar lima kali lipat lebih banyak terdengar begitu menarik. Biaya perawatan neneknya pasti akan sangat terbantu.Bianca pun mengangguk, tersenyum sambil berjalan ke arah Logan dan menatap lurus pria itu. Sementara itu, Logan masih belum memperlihatkan ekspresi apa-apa. Wajahnya datar.Dengan cekatan dan profesional, Bianca

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 1

    “Dia bilang aku anak pembawa sial.”Bianca Xaviera Putri terbelalak mendengarnya. Ucapan itu terlontar dari mulut Cilla, anak muridnya yang berusia 7 tahun. Pembawa sial? Yang Bianca tahu, Cilla berasal dari keluarga kaya. Biasanya Cilla akan dijemput oleh sopir pribadi atau pelayan-pelayan yang berseragam rapi. Dari desas-desus orang tua murid yang beberapa kali didengar oleh Bianca pun, keluarga Cilla sangat menyayanginya. Jadi, Bianca benar-benar kaget ketika mendengar itu. Sore ini, Bianca sedang menemani Cilla menunggu sopir pribadi menjemputnya. Tadi, Bianca sempat memisahkan Cilla ketika bertengkar dengan anak murid yang lain. Sekarang, Cilla berada di pangkuan Bianca dengan kepala tertunduk. “Siapa yang bilang gitu, Cilla?” tanya Bianca.Anak perempuan itu menunjuk seorang anak perempuan lain di kejauhan. “Asya,” katanya. Bianca menoleh ke arah sana. Asya baru saja dijemput oleh ibunya. “Asya bilang Cilla pembawa sial?”“Iya. Katanya, aku yang bikin Mama pergi ninggalin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status