“Byakta?” Suara Ivanka bergetar. Tangannya langsung berpindah ke wajah pria itu, menepuk pelan, lalu semakin keras saat tidak ada respon cepat. “Byakta, bangun… tolong,” bisiknya nyaris dengan suara putus. Napas pria itu masih ada, walau terdengar sangat berat dan tersengal. Keningnya dipenuhi keringat dingin. Namun kali ini, ada sesuatu yang berubah. Jarinya mulai bergerak pelan. Ivanka membeku sepersekian detik, lalu langsung menggenggam tangan itu erat. “Byakta, kamu dengar aku?” Kelopak mata Byakta kembali bergetar. Pandangannya perlahan terbuka, meski masih tampak kabur. Dunia di sekelilingnya seperti terpecah—lampu, bayangan, suara mesin, dan suara Ivanka. Belum sepenuhnya jelas. Tapi dia tahu, dia sedang berada di mana. “Ivanka…,” suaranya serak, hampir tidak terdengar. “Iya! Aku di sini!” jawab Ivanka cepat. “Kamu harus tetap sadar. Kita sudah—” Kalimatnya terhenti saat Byakta mencoba bangkit. Tubuhnya masih lemah, tapi dorongan di dalam dirinya jauh lebih ku
Read more