Terik matahari menjelang siang mulai memanggang tanah lapang di depan pos penimbangan teh. Belasan warga desa berdiri tertunduk dengan wajah putus asa, menatap keranjang-keranjang anyaman berisi pucuk teh hijau mereka yang kini tak ada harganya."Timbang yang benar! Ini tehnya sudah basah, potong lagi harganya sepuluh persen!" bentak Jono, salah satu preman bayaran Kades Tirto, sambil menendang keranjang milik seorang petani tua hingga sedikit isinya tumpah.‘Mereka benar-benar memeras kami sampai ke tulang,’ batin Pak Joko, petani tua itu, tangannya gemetar menahan amarah yang tak berani ia luapkan. Tanpa Mandor Suroto, kami cuma sapi perah bagi Kades Tirto.Di teras pos, Kepala Desa Tirto duduk bersandar di kursi goyangnya sambil mengipasi wajah dengan gulungan koran. Senyum licik tak lepas dari wajah tambunnya melihat betapa mudahnya ia mengontrol ekonomi desa ini."Jangan ada yang mengeluh! Pabrik pusat sedang krisis, paham?! Kalau kalian tidak mau kucairkan dengan setengah harga,
最後更新 : 2026-04-24 閱讀更多