بيت / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Sekar Jadi Mandor

مشاركة

Sekar Jadi Mandor

مؤلف: Falisha Ashia
last update تاريخ النشر: 2026-04-24 22:34:42

Kania berlari membelah rintik sisa hujan pagi, napasnya terengah-engah saat ia mendorong pintu kayu rumah dengan kasar.

Di belakangnya, Sekar mengekor dengan wajah bingung dan selendang batik yang melilit bahu sintalnya.

"Dokter... hah... Tante Sekar sudah kubawa," ucap Kania ngos-ngosan.

Dada gadis belia itu naik turun dengan cepat di balik kaus tipisnya, memancing ekor mata Leo sejenak sebelum sang dokter kembali fokus pada tujuannya.

Sekar melangkah masuk dengan ragu. Memar di sudut bibirnya
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Rayuan Desa Wanita   Utusan dari Kabupaten

    Ruang direktur utama itu kini terasa jauh lebih luas dan berwibawa setelah patung-patung murahan milik Darmo disingkirkan. Leonardo Xaverius duduk bersandar di kursi kulit kebesarannya, memancarkan aura seorang kaisar yang baru saja naik takhta."Semua dokumen pemecatan Hasan dan antek-anteknya sudah saya proses secara hukum, Tuan Leonardo," lapor Siska dengan nada suara yang sangat patuh.Mantan mahasiswi sombong itu berdiri di samping meja kerja, mengenakan rok pensil ketat dan kemeja putih yang mencetak lekuk tubuhnya. Tangannya dengan telaten menuangkan secangkir teh panas untuk sang raja."Kerja bagus, Sekretaris Siska," puji Leo dengan suara bariton yang berat, menyesap tehnya perlahan. "Bagaimana dengan jalur distribusi kita ke ibu kota provinsi?""Tuan Hendra sudah mengirimkan lima truk tambahan pagi ini. Semuanya berjalan sangat lancar, Tuan," jawab Siska, matanya tak bisa lepas dari rahang kokoh Leo.Namun, kedamaian di hari pertama itu tak bertahan lama. Suara derit rem mob

  • Rayuan Desa Wanita   Pembersihan Kandang Tikus

    Sorak-sorai kemenangan di lapangan balai desa telah berlalu, digantikan oleh fajar baru yang membawa angin perubahan tajam. Deru mesin Jeep rampasan itu membelah jalanan aspal kecamatan, berhenti tepat di depan gerbang utama Pabrik Teh Pengolahan yang kini telah berganti kepemilikan."Kita sudah tiba di kerajaan barumu, Tuan Leonardo," lapor Sekar seraya mematikan mesin, menatap bangga pada bangunan raksasa di hadapan mereka."Ini baru sekadar pos jaga, Sekar. Kerajaanku yang sesungguhnya baru akan dimulai hari ini," balas Leo dengan suara bariton yang berat dan maskulin. Pria itu melompat turun dari kursi depan tanpa keraguan sedikit pun.Dari pintu belakang, Siska bergegas turun. Mahasiswi kota yang dulunya sangat arogan itu kini mengenakan kemeja putih rapi dan rok pensil ketat, membawa tas dokumen layaknya abdi yang setia."Biar saya bawakan jaket kulit Anda, Tuan," ucap Siska menunduk patuh, kedua tangannya terulur sopan.Leo hanya mengangguk pelan. Ketiganya melangkah membelah h

  • Rayuan Desa Wanita   Raja Teh Yang Baru

    Pintu kayu tebal ruang belakang balai desa berderit terbuka, memecah ketegangan yang sejak tadi menyiksa Juragan Darmo. Lintah darat itu langsung terlonjak dari kursi tunggunya, mengabaikan lututnya yang masih bergetar parah akibat ketakutan."Bagaimana hasilnya, Ratna? Katakan padaku kau berhasil membujuknya! Bank tidak akan memberi kita waktu lagi besok pagi!" serbu Darmo tak sabar, wajah buncitnya dibanjiri peluh keputusasaan.Leonardo melangkah keluar lebih dulu, mengabaikan kepanikan musuhnya. Pria itu tampak sangat santai. Kemeja linennya sedikit kusut dan dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, memancarkan aura kejantanan maskulin yang baru saja terpuaskan secara absolut."Dokter Leo, apakah tikus kecamatan ini masih mencoba melawan?" tanya Pak Joko yang sedari tadi berjaga ketat di teras bersama pemuda desa lainnya."Tikus ini sudah kehilangan semua giginya, Joko. Dia hanya datang kemari untuk mengemis dan menyerahkan sisa-sisa bangkai kerajaannya," jawab Leo dengan bariton

  • Rayuan Desa Wanita   Syarat Penaklukan

    Cengkeraman tangan Leo di bahu Ratna mengerat, menarik wanita itu bangkit dari lantai dengan satu entakan kasar. Tanpa membuang waktu sedetik pun, sang dewa bedah mendorong tubuh sintal istri musuhnya itu hingga menabrak keras tepi meja jati peninggalan Kades Tirto."A-akh! Pelan sedikit, Tuan..." erang Ratna tertahan, meski kedua matanya memancarkan gairah liar yang sudah tak terbendung."Kau yang menawarkan diri, Ratna. Di ruanganku, di wilayahku, aku yang mengatur ritmenya," desis Leo mematikan, menatap tajam ke arah mata wanita itu dengan wibawa absolut."Aku siap, Tuan! Lakukan sesukamu! Hancurkan sisa-sisa jejak pria tua itu dari tubuhku malam ini juga!" pinta Ratna putus asa, merobek sendiri sisa kewarasannya demi mendapatkan perlindungan sang penguasa baru.Di luar ruangan, udara terasa sangat panas dan mencekik bagi Juragan Darmo. Lintah darat yang dulunya ditakuti itu kini hanya bisa duduk meringkuk di kursi tunggu pendopo balai desa dengan lutut yang masih gemetar parah."S

  • Rayuan Desa Wanita   Negosiasi Berdarah Dingin

    Bab 58: Negosiasi Berdarah DinginPintu kayu berderit kasar, lalu tertutup rapat dengan bunyi klik yang menggema tajam. Di luar ruang belakang balai desa, Juragan Darmo masih berlutut di tanah berlumpur, menyeka keringat dingin yang terus membanjiri dahi buncitnya."Lakukan dengan benar, Ratna. Rayu dia sampai gila. Masa depan kita bergantung pada tubuhmu," gumam Darmo parau, menipu harga dirinya sendiri demi selembar kontrak penyelamat nyawa.Sementara itu, di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya remang menembus jendela nako, atmosfer yang sangat berbeda tengah terjadi. Tidak ada rayuan murahan yang langsung diterima dengan tangan terbuka.Leo melangkah santai menuju meja kayu jati peninggalan mantan Kades Tirto. Pria itu menghempaskan tubuh besarnya ke kursi kulit, menyilangkan kaki dengan dominasi absolut."Berdirilah di situ, Nona. Jangan mendekat sebelum kuperintahkan," titah Leo dingin, suaranya menghentikan langkah Ratna yang baru saja berniat menempelkan tubuhnya.Ratna t

  • Rayuan Desa Wanita   Keputusasaan Lintah Darat

    Deru mesin sedan hitam itu terdengar menyedihkan, merayap pelan meninggalkan kompleks pabrik yang kini dikuasai buruh beringas.Di kursi belakang, Juragan Darmo duduk gemetar dengan keringat dingin yang membasahi kemeja mahalnya."Cepatlah sedikit, Sopir! Kau mau kita mati dikeroyok mereka?!" bentak Darmo dengan suara seraknya.Di sebelahnya, sesosok wanita muda bergaun sutra ketat menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Ratna, istri muda sang juragan, melipat tangan di bawah dada sintalnya yang sengaja ditonjolkan untuk memikat pandangan."Sebenarnya ada apa ini, Mas Darmo? Kenapa kita harus kabur dan pergi ke desa udik itu?" keluh Ratna dengan nada manja namun terselip rasa muak yang pandai ia sembunyikan."Kita tidak kabur, Ratna. Kita sedang menuju satu-satunya jalan keselamatan," jawab Darmo putus asa, mengusap wajahnya yang pucat. "Bank akan menyita pabrik dan seluruh aset kita besok pagi. Kita resmi bangkrut total.""Bangkrut?! Lalu bagaimana dengan jatah bulananku?!" pekik R

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status