"Halo, Bu," jawab Vivian. "Nak, gimana kabar kamu?" tanya Ibunya. "Baik, Bu. Ibu gimana kabarnya? Kemonya masih lanjutkan?" tanya Vivian was-was. "Masih, Rayan baik sekali. Bahkan dia minta Ibu kemo ke luar negeri. Ibu nggak enak, di sini aja udah syukur di mau membiayai Ibu," kata Ibunya. Vivian bersyukur karena Rayan tak menghentikan biaya pengobatan ibunya. "Vi, kamu jangan bersedih terus karena putrimu. Kasihan Rayan, dia nggak ada yang urus di rumah. Kamu pulang ya, jangan jalan-jalan terus," kata ibunya lagi. Jalan-jalan? Vivian tak percaya mendegarnya, ia bukan jalan-jalan ia dipaksa untuk berada di rumah sahabat suaminya untuk menyusui bayi dan Rayan mengatakan pada ibunya ia jalan-jalan? "Vi, Rayan baik lho. Kemana kamu cari suami sebaik dia. Iklaakan anakmu ya, nggak baik terus larut dalam kesedihan. Pikirkan suamimu," kata Ibunya lagi. Vivian tersenyum, urusan mengambil hati Rayan memang jagonya. Bahkan memfitnahnya demi dia terlihat baik. "Ibu istirahat
Read more