LOGINBRUKKK!Tubuh Pangeran Rui Ambruk. Darah mulai mengalir. “Liang Wei!” seru Ming Zhu menerobos maju kearah Liang Wei.Ming Zhu kemudian menoleh kearah Pangeran Rui yang sudah tergeletak tak bernyawa.“Akhirnya, aku berhasil mengambil nyawanya dengan tanganku,” ucap Liang Wei pelan.Kematian Pangeran Rui membuat pasukan Teratai Hitam kehilangan arah. Namun perang belum berakhir. Di sisi lain lembah, Wang Ji'an masih memimpin pasukannya bertahan di depan gerbang makam. "Jangan biarkan mereka mendekati gerbang!" teriak Wang Ji'an. Pasukannya kembali menyerang. Jenderal Xu Rong mengangkat pedangnya. "Pasukan Ming!" "MAJU!" Ratusan prajurit menerjang bersamaan. Benturan kedua pasukan kembali mengguncang lembah. Liang Wei menatap medan perang. "Hei Yan, Mo Lin, Kepung sisi kiri,” ucapnya. "Ye Shuang, Su Mu. Amankan sisi kanan,” lanjutnya Keempat Penjaga Bayangan langsung bergerak. Ming Zhu menggenggam pedangnya. "Aku ikut!” Liang Wei menatapnya. "Jangan terlalu memaksakan luk
“Han Qiye, Kenapa kau begitu bodoh,” lirih Ming Zhu.Ming Zhu masih memeluk tubuh pria itu. Air matanya jatuh tanpa henti. Ia teringat pertama kali bertemu Han Qiye saat masih remaja. Mereka pernah berlatih pedang bersama. Pernah bertengkar, pernah tertawa. Dan pada akhirnya mereka berdiri di sisi yang berlawanan. Han Qiye memang telah melakukan banyak kesalahan. Namun di saat-saat terakhir hidupnya, ia memilih menebus semuanya. Bahkan dengan nyawanya sendiri Liang Wei berjalan mendekat. Ia berlutut di samping jasad Han Qiye. Dengan penuh hormat, ia menutup kedua mata pria itu. "Meski kita tidak pernah menjadi kawan, kau mati sebagai seorang kesatria. Terimakasih, karena sudah menepati janjimu, untuk melindungi Ming Zhu sampai akhir hayatmu,” ucap Liang Wei pelan Air mata Ming Zhu mengalir semakin deras. Isak tangisnya membuat beberapa jenderal ikut tertegun. Jenderal Luo, Xu Rong, bahkan Tuan Tianyi ikut menundukkan kepala. Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada ejekan kep
“Serang!”Perang akhirnya pecah. Teriakan para prajurit mengguncang seluruh lembah. Dentang pedang, hujan anak panah, dan debu yang beterbangan memenuhi udara. Pasukan Pengawal Perbatasan Dinasti Ming bertempur mati-matian melindungi gerbang Makam Teratai Putih, sementara Penjaga Bayangan Xuanyin bergerak lincah menghadapi para pembunuh Teratai Hitam. "Jangan biarkan mereka mendekati Putri Ming!" teriak Jenderal Xu Rong. "Majuuuu!" Liang Wei langsung menerobos ke tengah medan perang bersama Mo Lin dan Hei Yan. Di sisi lain, Ming Zhu dan Ming Yue bertarung bahu-membahu. Tebasan pedang Ming Zhu yang tegas membuat beberapa prajurit musuh tumbang, sementara Ming Yue melindungi sisi belakang adiknya agar tidak dikepung. "Zhu'er, hati-hati di kanan!" teriak Ming Yue. Ming Zhu berputar cepat, menangkis sebuah tombak sebelum membalas dengan satu tebasan yang menjatuhkan lawannya. Liang Wei yang melihat dari kejauhan tersenyum tipis. "Itulah Putri Ming yang sesungguhnya,”gumamnya. Na
Angin gunung berembus kencang. Dua pasukan kini saling berhadapan di depan Gerbang Makam Teratai Putih. Di satu sisi berdiri Liang Wei, Ming Zhu, para Penjaga Bayangan, Jenderal Luo, Penjaga Makam, dan sisa Pasukan Pengawal Perbatasan Dinasti Ming. Di sisi lain, Wang Ji'an beserta pasukannya dan kelompok Teratai Hitam. Suasana begitu tegang hingga suara aliran sungai di bawah tebing terdengar jelas. Jenderal Xu Rong melangkah ke depan. Usianya sudah melewati lima puluh tahun, tetapi posturnya masih tegap. Tatapannya tertuju pada Ming Zhu. "Yang Mulia. Hamba akhirnya dapat menepati janji kepada mendiang Kaisar,” ucap Jenderal Xu Rong. Ming Zhu menatap pria itu penuh haru. "Jenderal Xu, Ayah pernah bercerita tentangmu,” ucap Ming Zhu. Xu Rong sedikit terkejut. "Benarkah Yang Mulia?” Ming Zhu mengangguk. "Beliau pernah berkata. Jika suatu hari ayah tidak lagi berada di sisimu, carilah Jenderal Xu Rong. Selama ia masih hidup, ia tidak akan membiarkan seorang pun men
“Jadi sejak saat itu ada orang yang mengincar rahasia tersebut?” tanya Ming Zhu. "Tepat sekali, Yang Mulia,” ucap Jenderal Luo. "Dan orang pertama yang menginginkannya adalah Pangeran Rui,” lanjutnya. Di sisi lain, Han Qiye mengepalkan tangannya. "Aku baru mengetahui semuanya setelah perang dimulai,” ucap Han Qiye. "Dulu aku hanya diperintah menghancurkan Dinasti Ming. Aku diberi tahu bahwa Kaisar Ming sedang menyembunyikan sesuatu yang dapat mengancam keseimbangan kerajaan-kerajaan,” lanjutnya dengan wajah penuh penyesalan. Han Qiye kemudian menundukkan kepalanya.“Dan aku, mempercayainya,” ucapnya lirih Ming Zhu menatap pria yang pernah menjadi sahabat masa kecilnya itu. Ia masih mengingat Han Qiye yang dahulu sering berlatih pedang bersama di halaman istana. Pria yang kemudian berubah menjadi musuh paling dibencinya. "Dan ketika aku mengetahui kebenarannya, semuanya sudah terlambat,” lirihnya. Tiba-tiba— KRAAK! Suara batu bergeser terdengar dari balik tebin
“Jenderal Luo?” sahut Ming Yue dari belakang dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ming Zhu dan Ming Yue kemudian bertatapan untuk sesaat sebelum keduanya mendesak Jenderal Luo. Jenderal Luo memejamkan mata sejenak. Ia telah bersumpah kepada mendiang Kaisar Ming untuk menyimpan rahasia itu seumur hidup. Namun kini, tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikannya. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Sudah waktunya Yang Mulia mengetahui semuanya,” ucap Jenderal Luo. Ming Yue yang berdiri di samping adiknya mulai merasa gelisah. "Kebenaran apa?" tanya Ming Yue cepat. Jenderal Luo menatap kedua putri itu bergantian. "Kalian memang saudara. Tetapi, kalian lahir dari ibu yang berbeda,” jelas Jenderal Luo. Keheningan langsung menyelimuti lembah. Mata Ming Zhu membesar. Sementara Ming Yue hanya terpaku. Bibi Lan menundukkan kepala perlahan. Air matanya menetes. Jenderal Luo mulai mengisahkan masa lalu. "Sebelum Dinasti Ming mencapai masa kejayaannya, Yang Mulia Kaisar Ming menikahi P
Keesokan paginya, langit istana tampak mendung. Kabut tipis menyelimuti koridor-koridor batu, membuat suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Di Paviliun Giok, semua orang sudah berkumpul sejak pagi. Setelah keributan Tuan Tianyi semalam, suasana akhirnya kembali serius. Karena kondisi Putra M
Malam di Paviliun Giok berubah mencekam. Seluruh area ditutup rapat oleh penjaga bayangan Liang Wei. Tidak ada pelayan yang diizinkan bergerak bebas, bahkan suara langkah kaki di koridor pun nyaris tidak terdengar. Di dalam kamar utama, Ming Zhu akhirnya selesai membersihkan luka kecil di leherny
Suasana di ruang samping Paviliun Giok perlahan kembali serius setelah candaan Hei Yan mereda. Meski sudut bibir Su Mu masih tampak menahan tawa, semua orang akhirnya memusatkan perhatian pada Ye Shuang. Pria itu menarik napas pendek sebelum menyerahkan gulungan kecil ke atas meja. “Kasim Liu d
“Di dalam sup ini, ada satu bahan lain yang sangat samar,” celetuk Ming Yue. Tatapan semua orang langsung tertuju padanya. Dan saat Ming Yue mengangkat wajahnya, ada kegelisahan nyata di matanya. “Bahan itu, hanya digunakan oleh keluarga kekaisaran,” katanya pelan. Ming Yue terlihat ragu bebe







