"Entah mengapa sejak hari itu, aku tidak bisa melupakanmu." Bimo tidak menjawab, ia terdiam mendengar pengakuan dari Alena. Karena sebenarnya, ia pun merasakan hal yang sama. Sering terbayang wajah gadis itu. Namun, Bimo sadar diri. Ia bukanlah lelaki yang kini memiliki kebebasan untuk memikirkan wanita lain. Ia telah terikat dengan perjanjian arisan sosialita itu. Ia hanya bisa bebas jika arisan itu sudah selesai. Tapi, Bimo paham bagaimana kekuatan mereka akan menjeratnya lagi. "Non Alena—" "Jangan panggil aku Non, panggil aku Alena saja," potong Alena dengan cepat. Bimo mengangguk, sekalipun Alena tidak bisa melihatnya. "Kamu bisa datang ke kontrakanku kalau butuh sesuatu," jawab Bimo akhirnya. "Jadi, malam ini kamu gak bisa?" "Untuk malam ini tak bisa." "Baiklah, Bimo." Panggilan itu berakhir, Bimo masih menatap layar ponselnya yang kini layarnya sudah redup. ** Sore harinya... Bimo menatap bayangan dirinya di depan cermin, mengenakan kemeja mahal yang masih baru, d
Zuletzt aktualisiert : 2026-04-29 Mehr lesen