LOGIN“Aku lagi gak mau,” jawab Karin malas. Arlan juga tidak memaksa, Arlan berdiri dari ranjang dan mengambil laptopnya. Punggungnya bersandar di kepala ranjang sedangkan Karin mendekati Arlan dengan sangat manja. Hubungan mereka salah tapi perasaan ini benar. Karin merasa nyaman dengan Pamannya. Seharusnya tidak berjalan seperti ini tapi Karin tidak bisa mengingkari. “Dokter gak ngantuk?” tanya Karin sambil melingkarkan perut Arlan dengan telunjuknya, Arlan hanya menggunakan celana saja tanpa atasan. “Ada meeting besok pagi,” jawab Arlan. Arlan tersenyum dan tangannya mengusap pipi mulus Karin. Sikap Arlan mulai berbeda pada Karin, tidak lagi antara Konsulen dan Koas tetapi hubungan dewasa antara pria dan wanita. “Kalau mau tidur, tidurlah. Apa aku mengganggumu, aku bisa bekerja di ruang kerjaku kalau memang kau terganggu.” Karin menggeleng pelan. Karin duduk dan masuk ke dalam pelukan Arlan, sebenarnya bukan Karin yang merasa terganggu tapi Arlan. Dengan keadaan seperti ini, Arlan
“Permisi, dr. Arlan?” Karin menyeringai sambil melirik pintu, ada perawat yang memanggil Arlan tepat sekali saat Arlan menagih janjinya. “Saya permisi dokter, mau kembali ke ruang IGD.” Karin tersenyum simpul dan pergi tanpa banyak kata. Bahkan tidak lagi menoleh ke ruang Arlan. Sedangkan Arlan terpaksa melepaskan Karin. Arlan pikir tidak ada yang tahu ia ke rumah sakit malam ini karena memang tidak ada jadwal. Jam dua belas malam, di ruang IGD begitu ramai, ada tabrakan beruntun dan pasien dilarikan ke rumah sakit ini. Sebagai koas, Karin membantu mengobati pasien apalagi dokter yang berjaga malam ini hanya satu orang. “Kamu hecting lukanya Karin,” ucap Residen yang bersama Karin saat ini. Karin mengangguk dan mencobanya. Untuk pertama kalinya Karin melakukan itu tapi Karin masih ragu-ragu.“Kau tidak bisa melakukannya?” Arlan berdiri tepat di belakangnya dan mengambil jarum dari tangan Karin lalu membantu Karin melakukannya. Di depan perawat dan Residen, Arlan bahkan terlihat
Sejak malam itu, Karin benar-benar memutuskan komunikasinya dengan Arlan, padahal mereka romantis. Seperti biasa, tidak ada masalah. Justru Arlan bingung kenapa sejak ia di Jepang, Karin memblokir nomor ponselnya. Hari ini Arlan pulang ke Jakarta, sampai di Jakarta malam hari. Selama di Jepang, Arlan sudah menahan emosinya untuk tidak marah pada Karin. Arlan ingin bertanya apa salahnya? Kenapa ia blokir? Bukankah malam itu mereka bicara hal yang dewasa dan menyenangkan. Tidak ada masalah apapun, Karin tidak marah dan jijik mendengarnya. Semua baik-baik saja. “Kenapa dengannya?” Arlan sudah ada di Bandara, selama ia di Dinas, pikiran Arlan justru ada di Jakarta tepatnya memikirkan Karin. Arlan membeli banyak oleh-oleh untuk temannya dan Karin. Untuk Karin spesial. Saat Arlan memantau ponselnya, ternyata pagi ini Karin sudah membuka blokirnya. Tapi, Arlan memutuskan untuk tidak menghubunginya. Pasti Karin sudah tahu kalau Arlan akan pulang ke Jakarta dan Karin tidak mau punya ma
“Dokter sorry, Karin pulang duluan, Karin tiba-tiba asam lambung.” Karin menghubungi Dimas setelah ia di dalam taxi. “Hoek.” Untuk terlihat natural, Karin berpura-pura muntah padahal sebenarnya tidak seperti itu. “Kenapa gak ngomong Cantik, dokter bisa antar kamu pulang,” jawab Dimas khawatir. “Gak apa dok, ini udah di taxi. Sorry sekali lagi, mungkin next time kita bisa nonton bersama.” Setelah bicara baik-baik, Dimas akhirnya mengerti tapi Karin juga tahu kalau Dimas pasti kecewa. Tidak lama setelah memutuskan teleponnya, hujan deras mengguyur bumi. Tepat sekali dengan hati Karin yang sedang galau. Arlan marah padanya, Dimas juga kecewa dan sekarang dia terpaksa pulang. Sampai di rumah, Karin mendapati pemandangan yang tidak menyenangkan. Pertengkaran orang tuanya lagi. “Pi, baru Minggu kemarin kamu ke luar negeri dengan Asisten Pribadimu yang baru dan sekarang pergi lagi dengan yang lain,” teriak Mami Kaina di depan pintu. Karin turun dari mobil dan mera
Meskipun Karin punya penyakit aneh seperti itu. Tapi Karin tidak merasa terganggu kalau creambath di salon atau perawatan khusus untuk kecantikan. Karin hanya tidak nyaman saat melakukan pemeriksaan saja apalagi pemeriksaan reproduksi. “Pacarnya, Rin?” tanya Mbak Salon yang sudah menjadi langganan Karin. Karyawannya heran saja, biasanya Karin tidak pernah membawa teman pria tapi malam ini ditemani pria tampan dan sepertinya seorang dokter seperti Karin. “Bukan Mbak, itu dr. Dimas,” jawab Karin sambil melihat dari cermin yang ada di depannya. Dimas mau-mau saja diajak Karin ke salon dan tidak protes sama sekali. Tidak juga bosan, Dimas malah sibuk membaca majalah yang disiapkan salon itu. “Kirain pacarnya, ganteng banget loh.”Karin tidak menjawab, ia hanya tersenyum saja. Dimas memang tampan tapi Karin tidak bergetar saat melihat Dimas. Saat kepalanya sedang dipijat, Karin mendapatkan telepon lagi dari Arlan. Karin takut mengangkat telepon pria itu. Tiba-tiba Arlan mengirim fot
“Morning.” Dari malam sampai pagi, Karin tidak istirahat karena pasien yang datang banyak sekali. Meskipun ada Karin di sana tetap saja Karin membatasi diri untuk menyentuh pasien. Ada perawat yang membantu mereka jadi tidak terlalu kentara kalau Karin tidak berjaga. Sapaan pagi ini, itu dari Arlan. Arlan baru saja sampai di Jepang dan langsung mengirim pesan manis pada wanitanya tetapi Karin hanya membacanya. Sudah untung Arlan tidak marah karena Karin dekat dengan Dimas tetapi pagi ini Karin malah mencari perkara dengan mengabaikan pesan darinya. “Aku harus mulai dari hari ini dan seterusnya gak usah balas pesan dia, gak angkat telepon dia dan semuanya,” ucap Karin sambil memukul lembut lehernya. Lelah sekali rasanya tapi belum bisa pulang, Karin masih banyak pekerjaan di rumah sakit, mungkin akan pulang sore nanti. Terpaksa Karin mandi di rumah sakit. “Dibaca kok gak di balas?” Pesan masuk lagi dari Arlan dan setelah Karin melihatnya dari tampilan luar, Karin me







