เข้าสู่ระบบKebetulan Papi Rion berteman dengan banyak konglomerat di Jakarta, ia meminta temannya untuk mencari data Karin di maskapai. “Karin baru saja terbang ke Bali, penerbangannya semalam jam setengah sepuluh malam. Mungkin dia sudah di Bali sekarang.” Papi Rion tidak pulang lagi dan sibuk mencari Karin, bahkan Arlan juga ikut dengannya mencari Karin tapi masih belum ketemu. Informasi ini sangat berguna untuk Rion tapi ia tidak bisa sembarangan pergi apalagi ada kasus besar pagi ini yang harus ditangani. “Dion, puas kamu!” Papinya menghubungi Dion, memaki-maki Dion yang begitu kejam dengan adiknya sendiri. Karin tanpa berpikir panjang langsung pergi dari rumah dan merasa sudah tidak pantas lagi tinggal di rumah itu. “Tidak perlu kasihan Pi, dia bukan anak kandung Papi. Bukannya Papi dari dulu selalu mencoba membuat wanita hamil anak Papi, buat saja yang baru dengan wanita lain.” Begitu entengnya mulut Dion membuat Rion sakit hati mendengarnya. “Tidak perlu kamu suruh, aku akan lakuk
Karin mengepak pakaiannya, ia keluar rumah diam-diam dengan taxi. Karin tidak tahu mau pergi kemana tapi ia tidak ingin ada di rumah saat ini. Ia bahkan malu setelah tahu kalau ia bukan anak kandung Mami dan hidup seperti princess. “Pantes dia gak pernah anggap aku adiknya,” ucap Karin dengan sedih. Hari ini Karin banyak menangis. Kepalanya jadi pusing bukan main. “Jadi, kita kemana Mbak?” tanya taxi online itu karena sudah tiga puluh menit tidak jelas berputar-putar di dekat bandara. Karin ragu memesan tiket ke Bali. Ia ingin pergi tapi tidak tahu pergi kemana yang tidak diketahui orang tuanya. “Bandara aja, Pak.” Karin memesan tiket online dan mengambil waktu penerbangan terakhir, untung saja tidak terlambat, penerbangan terakhir pukul setengah sepuluh malam. Sampai di Bandara, Karin menonaktifkan ponselnya, ia langsung check in. Pikiran Karin kacau, ia bahkan tidak menghubungi Silvi atau Arlan apalagi orang tuanya.Ia hanya ingin sendiri. Tanpa harus test DNA, orang tuanya s
Suasana makan malam kali ini lebih menyeramkan dari ujian untuk mendapatkan gelar kedokteran. Tidak ada yang bicara, hanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Meskipun tadi Karin menemani Dion berenang tapi bukan berarti mereka sudah dekat dan akur, Dion hanya ingin menyiksa Karin dengan cara seperti itu. “Karin, Papi sudah melihat apartemenmu, itu kecil sekali. Papa tadi minta sekretaris Papi untuk mencarikan rumah dekat kampus saja,” ucap Rion memecah keheningan. Sebelah sudut bibir Dion terangkat. Sepertinya ia sedang mengejek perhatian Papi Rion. “Karin hanya perlu nama Wijaya di belakangnya dan dia akan kaya seumur hidup,” ejek Dion sambil melihat kedua orang tuanya. “Dion!” Papi Rion kesal sekali kalau Dion sudah bertemu dengan Karin, Dion pasti akan selalu membuat Karin sedih dengan kata-katanya yang tajam. “Memangnya aku salah? Kalau saja Karin dilahirkan oleh rahim wanita jalang. Bagaimana hidupnya?” “DION!” Papi Rion berteriak sambil menunjuk wajah Dion. Sedangkan Mami
“Karin, Mami di Bandara sekarang, malam ini pulang ke rumah. Kakakmu tidak lagi tinggal di luar negeri, dia mau tinggal di Jakarta.” Karin sedang di rumah sakit saat orang tuanya menghubungi Karin pagi ini, subuh tadi sudah berat untuknya, ia menangkap basah Papinya selingkuh dan itu dengan sahabatnya dan sekarang, ia harus menghadapi Kakaknya yang kejam. Meskipun seperti itu, Karin menyayangi Kakaknya berharap suatu hari Kakaknya bisa sayang dengannya sama seperti Kakak yang lain. “Jangan lupa, Sayang!” Mami Kaina bahagia sekali, anak kesayangannya pulang, sudah pasti Mami akan betah di rumah. Karin menekan nomor Arlan, ia tidak tahu kekasihnya ini sibuk atau tidak karena sejak keluar bersama dengan Papi, ia tidak lagi kembali bahkan belum ada pesan darinya. Karin pikir Arlan mungkin tidur karena kelelahan. “Halo, Sayang. Sorry, tadi lagi sibuk. Kamu di mana? Sudah makan? Mau aku pesankan makanan?” tanya Arlan dengan begitu lembut dan sangat perhatian. Sungguh sayang, tunangan
Karin tertidur di mobilnya, padahal mereka sudah sampai di apartemen. Arlan juga melihat ada mobil Rion. Padahal Rion tidak tinggal di apartemen ini. “Kenapa ia datang ke sini?” tanya Arlan penuh selidik. “Karin, Sayang. Ayo bangun! Kita sudah sampai,” ucap Arlan sambil menepuk pipi Karin dengan lembut. Karin terbangun dengan mengeratkan tangannya ke atas. Matanya bengkak karena menangis tadi dan Karin sangat malu kalau mengingat itu, seharusnya Karin simpan saja rahasia kelamnya sampai mati. Untuk apa membuat mereka tahu yang terjadi padahal semua itu sangat rahasia. “Bukannya itu mobil Papi, dok?” tanya Karin. Karin bergegas keluar mobil saat ia mengingat Silvi. Jangan-jangan Papi Rion mengejar Silvi, tidak ada wanita lain yang disukai Papinya. “Ayo dok, aku takut banget. Papi pasti datang ke rumah karena Silvi sendirian. Aku gak mau dia diapa-apain sama Papi.” Tangan Karin ditarik dan mereka terpaksa lari. Arlan juga tidak tahu yang Karin katakan. Mungkinkah Rion yang selalu
Arlan terkekeh sendirian sambil mengusap wajahnya, ia sudah gila! Ya, sudah gila. Apa yang ingin ia lakukan dengan Karin, sudah tentu tidak akan berhasil tanpa izin Karin. Lalu, bagaimana membuat wanita ini setuju mengandung anaknya? “Aku mau pulang, dok!” Karin tidak ingin menginap, dia kepikiran Silvi. Pertengkaran dengan Arlan membuat Karin juga ingin istirahat saja di apartemen dan memikirkan lagi hubungan mereka. Meskipun sudah larut sekali untuk pulang tetapi belum terlambat, ia bisa pesan taxi kalau memang Arlan sibuk untuk mengantarnya pulang. “Pagi nanti saja, kenapa Karin? Kau sudah tidak suka dekat denganku?” tanya Arlan. Biasanya mereka bisa seharian berduaan di kamar, bercanda atau bicara sesuatu yang nakal dan menggairahkan. “Suka dok, tolong jangan salah paham, aku hanya ingin pulang!” Oke, Arlan tidak suka berdebat. Lebih tidak suka lagi kalau bertengkar dengan Karin, mereka baru saja kembali seperti dulu, setidaknya Karin tidak lagi marah dan mulai mau menerima
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”







