Dulu. “Berhenti, Kallistei!” Dewi Hanum terus memacu kuda putihnya dengan cepat -terima kasih pada Dewa Hefaistos yang telah mengajarinya berkuda di saat mereka bersama- mengabaikan teriakan Dewa Ares yang memintanya berhenti. Usai langkahnya begitu jauh, jangan harap ia akan berhenti.Saat Dewi Hanum menoleh sebentar ke belakang, jarak yang terbentang di antara mereka cukup jauh, karenanyalah ia keheranan saat melihat Dewa Ares berada di hadapannya, menghadang jalannya. Mata indah beriris coklat madu itu tampak kemerahan saat menatapnya tajam. Dewi Hanum tak gentar. Namun mata birunya berkilat cemas. Bukan karena kehadiran Dewa Ares, tetapi Iblis Leozard tengah menanti nya di dataran himalaya. Jika ia meladeni Dewa Ares sekarang, ia hanya akan terlambat dan kehilangan cintanya. “Jika kau mengharapkan kerelaanku seperti keempat dewa lainnya ...” Da
Read more