Share

Part 76

last update publish date: 2026-05-21 19:00:56

​Saat Zivanya melangkah keluar kamar di hari berikutnya, ia mendapati suaminya tidak sendirian. Di ruang tengah, seorang wanita paruh baya sedang duduk di hadapan Ariyan.

​Mendengar langkah kaki bersandal mendekat, Ariyan yang semula sedang bicara langsung menoleh. Ekspresi datarnya seketika mencair, berganti dengan gurat kehangatan yang mendadak terpasang.

​"Eh, kamu sudah bangun, Sayang?" sapa Ariyan. Ia melangkah mendekat, lalu dengan natural melingkarkan tangannya di pun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
jei
ciri khas dari cerita othor alur lambat dan 300an bab. semoga cerita ank2nya ga kyk cerita ortunya yg balik ke mantan. biarkan ariyan dg selingkuhanya dan zivanya happy ending dg kaivan.
goodnovel comment avatar
Adfazha
Ariyan bnr2 beast Aktor yaa sesuai sm wataknya yg kang selengki manipulatif mky ora the best tp cocoknya the Beast kna slalu mencabik2 hati Zivanya moga smua kebusukannya Ariyan cpt terbongkar & Ziva cerai & pergi jauh dr Ari yaa kak zi
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
berharap mama Zelena dan Seruni segera tahu kebohongan yang di buat Ariyan dan Zivanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 291

    "Aku nggak bawa galon air, Ziva. Tapi aku bisa beliin susu untuk Kaisar sekarang kalau kamu izinkan,” ucap Ariyan di sela-sela keterkejutan Zivanya.“Kenapa kamu nekat ke sini?" tanya Zivanya datar setelah berhasil menguasai diri. "Harusnya kamu paham batasan waktu aku bilang 'tidak' di depan rumah tadi.""Maaf kalau kamu terganggu,” jawab Ariyan seraya memperpendek jarak. “Boleh aku duduk?”“Kalau aku bilang nggak boleh, emangnya kamu bakal pergi?”Ariyan terkekeh mendengarnya. Mengabaikan ketidaksukaan mantan istrinya, ia menarik kursi dan menempatkan diri di sana.“Aku ke sini karena ingin tahu kantor kamu. Aku juga ingin tahu sebesar apa kesalahanku dulu sampai kita bercerai.” Ariyan langsung menyampaikan maksud kedatangannya tanpa basa-basi.Ia mengambil jeda sejenak untuk mengetahui tanggapan Zivanya.Perempuan itu hanya diam, menatapnya dengan dingin."Aku lelah merasa seperti orang bodoh di tengah orang-orang yang tahu segalanya tentang aku. Kalau memang dulu aku penyebabnya,

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 290

    Ariyan memandang ke luar melalui jendela mobil. Setiap ruas jalan yang dilaluinya terasa begitu asing, padahal sang sopir baru saja mengatakan bahwa ini adalah rute yang selalu ia lalui setiap hari. Deretan gedung pencakar langit, papan reklame yang berkedip-kedip, dan hilir mudik kendaraan di sekitarnya terasa bagai potongan gambar dari dunia orang lain. Yang paling menyiksa hatinya bukanlah deretan jalanan yang tak ia kenal ini, melainkan kalimat Zivanya yang terus bergema berulang-ulang di dalam kepalanya. ‘Kamu yang lupa, Ariyan. Tapi aku? Aku mengingat setiap detail rasa sakit yang kamu kasih.’ Ariyan mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Nyeri di hatinya kian merambat kencang. Kesalahan sebesar apa yang pernah ia lakukan di masa lalu hingga membuat Zivanya terluka sedemikian dalam? Kenapa ingatan tersebut harus terhapus bersih, sementara rasa cintanya pada wanita itu tetap tinggal dengan utuh di dalam hatinya? "Pak,” panggil Ariyan pada sopirnya sembari menatap pria

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 289

    Zivanya berharap setelah nanti Abi memberi Seruni nasihat, maminya itu tidak lagi berulah. Memikirkan sikap Seruni membuatnya semakin sakit kepala. Mobil Abi baru saja meluncur keluar dari halaman ketika Zivanya tiba di beranda. Ia lalu masuk ke mobilnya sendiri. Mesin mobil baru saja menyala halus ketika ketukan pelan di kaca jendela mengejutkan Zivanya. Ia menoleh, dan seketika darahnya berdesir. Ariyan berdiri di sana. Lelaki itu membungkukkan badannya agar terlihat oleh Zivanya. Dengan ragu, Zivanya menekan tombol untuk menurunkan kaca mobilnya separuh. "Kok di sini?” Zivanya tidak terpikir pertanyaan lain kecuali yang ia sebut barusan. “Pagi, Ziva.” Ariyan menyapanya dengan senyum tipis menghiasi bibir. Ariyan versi ini benar-benar berbeda dengan Ariyan yang pernah Zivanya kenal. “Pagi,” balas Zivanya kelu. “Mau ke kantor?” Zivanya membalas dengan anggukan. "Biar aku yang antar kamu ke kantor pagi ini.” Zivanya sontak tertawa, merasa tawaran itu sangat kony

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 288

    Semua yang ada di meja makan refleks memandang pada Kaisar setelah mendengar celetukan anak itu. Zivanya dan Abi terlihat terkejut, tetapi Seruni bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Wanita itu dengan santai melanjutkan aktivitasnya mengisi perut, seakan-akan kalimat yang baru saja keluar dari mulut cucunya hanyalah angin lalu. “Kenapa Kai ngomong begitu? Kenapa Ibu nggak boleh nikah sama Ayah?” Zivanya bertanya dengan lembut setelah memiringkan duduk ke arah Kaisar. Kaisar tak seketika menjawab. Ia sempat melirik ominya sebelum akhirnya bicara pada ibunya. "Soalnya, kalau Ibu nikah sama Ayah, nanti Papa sendirian. Nggak ada yang nemenin Papa. Nanti Papa sedih, Papa nangis, terus pergi jauh. Kai nggak bisa ketemu Papa lagi. Kai sayang sama Ayah, tapi Kai juga sayang Papa. Kai takut Papa hilang," jelasnya sambil menahan tangis. "Siapa yang bilang Papa bakal nangis dan pergi jauh, Sayang?" tanya Zivanya selembut mungkin. Kaisar menggelengkan kepalanya cepat-cepat, langs

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 287

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar Kaisar. Bersamaan dengan itu, aroma sabun anak-anak yang wangi tercium samar dari tubuh Kaisar yang baru selesai mandi. Meskipun itu adalah kamarnya, tetapi setiap hari Kaisar tidur dengan ibunya.Seruni duduk di tepi tempat tidur, dengan telaten mengancingkan baju seragam sekolah cucunya satu demi satu. Diusapnya dengan lembut kepala Kaisar seraya menata rambutnya dengan sisir kecil. Kendati sudah berulang kali Zivanya mengatakan bahwa Kaisar bisa berpakaian sendiri, dan jangan dimanja, tetapi Seruni ngotot memasangkannya."Cucu Omi ganteng banget pagi ini," puji Seruni seraya tersenyum manis.Kaisar menyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Ganteng kayak Papa ya, Omi?”Seruni tentu senang mendengarnya. “Pintarnya cucu Omi. Kai, kan, anak Papa, jadi Kai juga ganteng kayak Papa. Tapi Omi belum tahu nih, Kai itu sebenarnya sayang nggak sih sama Papa?”Kaisar mengangguk tanpa ragu. "Iya, Omi.

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 286

    Layar laptop di atas meja menyala terang, memancarkan cahaya yang menerangi wajah Ariyan di dalam kegelapan kamar. Sudah sejak tadi hanya begitu. Ariyan hanya bisa termangu memandanginya tanpa bisa melakukan apa-apa.Ia mencoba mengetikkan tanggal lahirnya yang ia lihat di kartu tanda pengenal, tapi ternyata salah. Ia juga mengetikkan beberapa kombinasi angka maupun huruf secara acak. Tetapi lagi-lagi tidak berhasil.Ia mengacak rambutnya dengan kasar. Benar-benar merasa frustrasi. Penyakit ini membuatnya sangat tersiksa.Teringat sesuatu, Ariyan beranjak dari kursi. Ia melangkah keluar dari kamar sambil membawa laptop.“Pa,” panggilnya pada Jeandra yang belum tidur dan sedang menonton di ruang keluarga. Ariyan memosisikan diri duduk di sebelahnya.“Kenapa? Sakit kepala lagi?”“Bukan, Pa. Laptop aku password-nya apa?”Jeandra memandang laptop yang berada di pangkuan Ariyan kemudian menggelengkan kepala. “Papa nggak tahu. Kamu orangnya sangat menjaga privasi."Ariyan mengesah lelah. “

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 6

    Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 5

    Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 4

    Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status