"Rin, maaf ya. Mamah kesel banget sama Alfan. Duh... Anak satu bikin pusing! Eh ini mamah bawain buah seger. Ada apel, buah naga, sama mangga, " Ujar sekarwati membuka bungkus plastik, lalu ia melirik ke arah Alfan tajam. "Mau sampai kapan kami jadi patung, sini bantuin istrimu makan! " Hardik Sekarwati galak. Melihat Alfan kena omel tiada henti membuat Wijaya harus menahan tawa nya. "Siap sang ratu, " Tanggal Alfan malas, lalu membantu Sekar membuka plastik yang berisi buah. "Pokoknya kamu makan yang bayak ya sayang. Makan yang mahal, dan bergizi. Suruh suamimu yang ngurusin semua, jangan sedetikpun kamu capek ya. Biar dia berguna, " Nasihat Sekarwati halus, lalu menyiapkan potongan mangga ke mulut Karina. "Makasih mamah, " Bals Karina tersenyum lembut, sekaligus merasakan sebuah kehangatan selain bersama keluarga nya. "Orang tua kamu sudah tahu? " Seloroh Wijaya menatap cemas sang menantu. "Jangan kasih tahu dulu pah, aku nggak mau buat cemas mereka. Lagipula luka ini mungkin
더 보기