Pagi sekali, Alya sudah berdiri di depan salonnya. Udara masih terasa dingin, namun ia tidak keberatan. Demi bisa mengantar Nana dan Rio untuk dijemput Emran, ia rela memulai hari lebih awal. Baginya, menyembunyikan alamat tempat tinggalnya dari mantan suami adalah prioritas utama.Emran turun dari mobil, raut wajahnya tampak lebih lembut dari biasanya. Ia menghampiri Nana dan Rio, merapikan jaket mereka dengan telaten sebelum beralih menatap Alya."Kamu senang?" tanya Emran, matanya menatap Alya intens, seolah mencari sisa-sisa perasaan di sana."Tentu saja," jawab Alya singkat, datar namun jujur.Emran terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Lain kali, kalau kamu mau anak-anak menginap lagi, telepon saja aku. Aku tidak akan melarangmu lagi. Aku ingin keluarga kita utuh kembali, Al."Alya tertawa kecil, namun tidak ada nada jenaka di sana. "Teruslah berkhayal, Mas. Yang bahagia itu cuma aku dan anak-anak. Kamu? Kamu sama sekali nggak diajak. Sudah, sana pulang. Kasihan Nana, n
続きを読む