Share

2 - Kamar

Author: Luna Maji
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-07 11:25:14

Benedict maju selangkah, tangan kirinya mencengkeram kerah jubah pria dihadapannya. Kepalan tangan kanannya masih terangkat di udara. 

Napasnya memburu. 

“Tarik ucapanmu, Ashworth!”

Lord Cedric Ashworth—salah satu senior di Akademi Kinsley—menyeringai. “Apa ucapanku salah?” tantangnya. “Ku ulangi, ayahmu itu anjing peliharaan Ratu!”

Tak tertahan lagi, kepalan tangan Benedict mendarat mulus di pipi kiri Cedric menyebabkan sudut kiri bibir Cedric mengeluarkan setetes darah.

Aula langsung meledak oleh sorakan.

“Hajar dia lagi!”

“Dia pantas mendapatkannya!”

“Sial … Harrington benar-benar marah.”

Rosemary menelan ludah. Jika Benedict tahu identitas aslinya, apakah pria itu juga akan menghajarnya seperti ini?

“Itu Lord Benedict Harrington,” bisik Oliver di telinga Rosemary. “Semua orang tahu rumor itu, tapi tidak ada yang berani mengatakannya tepat di muka Harrington.”

Napas Oliver hangat dan bergetar di daun telinganya. Oliver meraih lengannya, jemarinya yang kurus mencengkeram mantel Rosemary. Rosemary sadar. Oliver takut pada Benedict.  

Rosemary tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada dua sosok di tengah lingkaran. Cedric Ashworth sedang menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan, menatap noda darah di sana. Sementara Benedict tetap berdiri tegak, dadanya naik-turun, dan tangannya masih mengepal.

“Ayo, Harrington!” teriak seseorang dari kerumunan. “Hajar dia lagi!”

Suara-suara lain menyusul. Sebagian bersorak menyemangati, sebagian lagi berbisik-bisik dengan nada khawatir. Udara di aula terasa semakin panas. Rosemary bisa merasakan bahu seseorang mendorongnya dari belakang, membuatnya terhuyung sedikit sebelum Oliver menahannya.

“Mundur sedikit,” kata Oliver sambil menarik lengannya. “Kerumunan begini bisa berbahaya.”

Rosemary mengangguk, tapi ia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Cedric Ashworth telah meluruskan tubuhnya, seringai meremehkan kembali muncul di wajahnya meskipun darah masih menetes dari sudut bibirnya.

“Itu saja?” Ia meludah ke lantai. “Pukulanmu mewarisi kelemahan ayahmu, Harrington. Seluruh ibu kota tahu Duke Harrington lebih sering berlutut di istana daripada memegang pedang.”

Benedict maju sekali lagi.

Cedric akhirnya kehilangan seringainya untuk pertama kali. “Tunggu—”

“CUKUP!”

Ruangan langsung sunyi. Bahkan Benedict menghentikan langkahnya.

Kepala Akademi Kingsley, Profesor Aldric Voss, berdiri di ambang pintu aula. Jubah hitamnya yang panjang menyapu lantai, dan sepasang matanya memindai seluruh ruangan.

Para mahasiswa yang sedetik lalu berteriak-teriak kini membeku di tempat. Rosemary belum pernah melihat pria setua itu, tapi entah mengapa, ia merasa pria itu bisa melihat menembus ke dalam tulang.

Di belakangnya, beberapa pengajar akademi berdiri dengan tangan di belakang punggung.

“Upacara pembukaan ditunda,” suara Profesor Voss menggema di aula yang mendadak hening. “Mahasiswa baru, kembali ke asrama kalian. Mahasiswa senior yang tidak terlibat … kalian tahu di mana pintu keluar.”

Kerumunan mulai bubar perlahan. Para mahasiswa saling bertukar pandang, beberapa masih berbisik, tapi tidak ada yang berani membantah. Rosemary merasakan tangan Oliver menariknya mundur.

“Ayo, Lord Sterling. Kita harus pergi.”

Tapi kaki Rosemary tidak bergerak.

Matanya masih tertuju pada dua sosok yang menjadi pusat perhatian. Cedric Ashworth dengan bibir berdarah dan seringai yang akhirnya luntur. Lalu pada Benedict Harrington dengan buku-buku jari yang memerah dan napas yang masih belum stabil.

“Ashworth. Harrington.” Suara Profesor Voss kembali terdengar. “Ruanganku. Sekarang.”

Cedric menggerutu pelan, tapi ia melangkah lebih dulu. Benedict tidak bergerak secepat itu. Ia menunduk sebentar, menghela napas, lalu melonggarkan kepalan tangannya. Buku-buku jarinya tidak hanya memerah. Ada luka gores kecil di sana, dan setetes darah masih menempel.

Benedict melangkah mengikuti Cedric. Melewatinya begitu saja, tapi cukup dekat bagi Rosemary untuk mencium aroma sandalwood bercampur keringat, melihat urat di pelipisnya yang masih berdenyut, dan merasakan hawa panas dari tubuhnya 

Rosemary menahan napas. Baru setelah punggung lebar itu menjauh beberapa langkah, ia berani mengembuskannya.

Oliver menarik lengannya lagi, kali ini lebih pelan. “Lord Sterling, ayo. Kita kembali ke asrama.”

Rosemary mengangguk kosong. Ia membiarkan Oliver menuntunnya keluar dari aula, melewati sisa-sisa kerumunan yang masih berbisik.

Mereka berjalan menyusuri koridor menuju asrama. Langkah kaki mereka adalah satu-satunya suara di lorong itu. Oliver terus mengoceh, tentang betapa gilanya insiden tadi dan hukuman apa yang menanti mereka, tapi kata-katanya hanya lewat begitu saja di telinga Rosemary. 

***

Rosemary akhirnya duduk di tepi ranjang di kamar asramanya.

Kamar itu sempit, ada dua ranjang besi di kedua sisi temboknya, satu jendela kecil, dan perapian kecil yang belum dinyalakan. 

Rosemary mengambil ranjang di dekat jendela. Ia melirik ranjang di seberangnya. Tidak ada koper, tidak ada tanda-tanda ada mahasiswa lain yang mengisinya. Tapi Rosemary tetap tidak bisa benar-benar lega. Keberuntungannya jarang bertahan lama.

Ia membuka kopernya. Ia mulai membuka kancing mantelnya. Melonggarkan sedikit ikatan di dadanya yang terasa sesak.

Ia menarik napas panjang dan merebahkan diri di atas kasur. Tatapannya menerawang kosong ke langit-langit.

Rosemary memejamkan mata. Bayangan wajah Edmund yang asli melintas di balik kelopak matanya yang menutup perlahan. Pipi cekungnya. Bercak darah di saputangannya. 

Aku akan menjagamu., bisiknya dalam hati, sampai akhirnya kegelapan menghampirinya. 

Rosemary pun terlelap.

BRAK!

Suara pintu yang terbuka dengan keras membangunkannya, cukup keras untuk membuat Rosemary tersentak bangun dan jantungnya melompat ke tenggorokan. Kepanikannya memuncak saat teringat satu hal fatal, ikatan dadanya masih longgar! 

“Bangun!”

Suara itu. Suara yang sama yang tadi ia dengar di koridor. Dalam, rendah, dan penuh otoritas.

Rosemary menoleh cepat. Jantungnya berdetak tak karuan. Cahaya obor dari koridor di belakang pintu membuat siluet tinggi itu tampak lebih gelap, lebih besar, dan lebih mengancam.

“Ada dua ranjang,” kata sosok itu sambil berjalan masuk, melemparkan koper mahalnya ke ranjang dekat jendela. Ranjang yang sudah ditempati Rosemary. “Aku ambil yang ini.”

Itu bukan permintaan. Itu perintah.

Napas Rosemary terhenti saat cahaya dari jendela akhirnya menyapu wajah pria itu. Rambut hitam pekat. Urat pelipis yang masih menegang.

Mata abu-abu itu menatap langsung ke arahnya. Rosemary merasa darah di tubuhnya membeku. Dari seluruh mahasiswa di Akademi Kingsley … teman sekamarnya adalah Benedict Harrington.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Freyaa
Oh-oh Rosemary satu kamar dengan Harrington, bakal ketauan gak yah klo Rosemary adalah....
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   234 - Buku Itu

    Pengumuman itu membuat semua orang tetap berada di tempatnya.Beberapa bangsawan yang tadinya sudah berdiri kembali duduk. Pelayan-pelayan berhenti di sisi ruangan, menunggu aba-aba. Henry berdiri di bawah cahaya lilin yang menggantung rendah. Semua mata tertuju padanya.“Aku tidak akan menahan kalian terlalu lama.” Henry mengangkat gelasnya. “Malam ini aku hanya ingin menyampaikan satu hal.”Duke Ashworth menyandarkan punggungnya dan mendengarkan. Cedric di sampingnya menunduk, tapi matanya sesekali melirik ke arah Henry.“Kerajaan ini dibangun oleh keluarga-keluarga di ruangan ini,” lanjut Henry. “Aku berharap, apa pun perbedaan di antara kita, kita masih bisa duduk di meja yang sama. Dan malam ini adalah buktinya.”

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   233 - Jamuan

    Aula besar dipenuhi lilin-lilin tinggi yang berdiri di sepanjang dinding. Cahaya keemasan jatuh di atas meja panjang yang dilapisi taplak putih. Para pelayan bergerak tanpa suara, mengatur detail terakhir sebelum para tamu memasuki ruangan.Henry berdiri di dekat pintu utama. Jas biru tuanya rapi, dan tidak ada tanda-tanda kegugupan di wajahnya. Tapi matanya tidak pernah berhenti bergerak, memeriksa setiap sudut, setiap pelayan, setiap tamu yang mulai berdatangan.Para bangsawan masuk satu per satu. Duke Harrington tiba lebih dulu, mengenakan jas hitam dengan kerah tinggi. Di sampingnya, Benedict berjalan dengan postur tegak, meskipun bahunya sesekali masih sedikit kaku. Henry menyambut mereka dengan anggukan formal.“Duke Harrington.” Henry tersenyum tipis. “Aku senang kalian bisa datang.&rd

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   232 - Tiga Hari

    Oliver tiba di perpustakaan lebih awal dari biasanya.Ruangan itu masih sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa di meja seberang. Cedric datang beberapa menit kemudian, membawa satu buku tipis di tangan. Wajahnya pucat, dan ada bayangan gelap di bawah matanya. Ia duduk di seberang Oliver tanpa mengucapkan apapun.“Kau terlambat,” kata Oliver.“Aku tidak tidur semalaman.”Oliver tidak menanggapi. Ia membuka bukunya, memberi kesan mereka sedang membicarakan tugas. “Aku kira kau tidak akan datang.”“Ku kira aku memang tidak bisa datang.” Cedric meletakkan bukunya di atas meja. “Tapi kalau aku tidak datang, kau pasti akan mulai mencari. Dan itu lebih berbahaya.”Oliver menatapnya. “Kenapa lebih berbahaya?”“Karena ayahku akan makin curiga. Bukan hanya padaku. Pada semua orang-orang yang berhubungan dengan Sterling.” Cedric menatap meja. “Dia tidak lagi menyimpan buku catatan itu di laci. Dia selalu membawanya ke mana pun dia pergi.”Oliver menahan napas.

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   231 - Kembali ke Kingsley

    Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya saat kereta berhenti di halaman Kingsley.Rosemary turun lebih dulu. Di belakangnya, Benedict, Edmund, dan Owen mengikuti. Beberapa mahasiswa berjalan menuju ruang makan, sebagian lagi menenteng buku ke arah perpustakaan.“Kalian di sini.”Oliver muncul dari arah perpustakaan. Langkahnya cepat, kacamatanya miring seperti biasa. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan sesuatu—campuran antara lelah dan ingin segera bicara.“Sudah selesai bicara dengan Cedric?” tanya Rosemary.Oliver mengangguk. “Lebih dari yang kuduga.”Mereka berjalan ke kamar Benedict. Ruangan itu masih terasa sama: jendela besar, kurs

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   230 - Cedric

    Oliver bertemu Cedric di meja panjang di sudut perpustakaan yang mulai sepi. Sebagian mahasiswa meninggalkan bangku mereka. Cedric duduk di kursi paling ujung, menghadap setumpuk kertas, dengan sebuah buku tebal terbuka di hadapannya.Oliver mendekat sambil membawa beberapa catatan. “Kau sudah mulai? Langston belum sempat menyetujui bagian ketiga, dan aku tidak mau ketinggalan.”Cedric mengangkat kepala. Matanya tampak lelah, tapi ekspresinya tetap datar. “Aku tidak mulai. Aku cuma membaca ulang untuk bagian sebelumnya.”Oliver duduk di seberangnya. Ia meletakkan catatannya di atas meja dan membuka salah satu halaman. “Aku sudah hafal itu.”Cedric tidak menanggapi.Mereka membahas tug

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   229 - Janjiku

    Kereta berhenti di depan gerbang kediaman Lancaster.Dinding batu tua, jendela tinggi dengan kusen kayu gelap, dan halaman depan yang tertata rapi. Seorang pelayan membukakan pintu begitu melihat kereta berhenti.Rosemary turun lebih dulu, diikuti Benedict, lalu Edmund.Pelayan itu membungkuk. “Selamat datang di kediaman Lancaster. Tuan-tuan dan Nona dari?”“Saya Rosemary Sterling.” Rosemary memperkenalkan diri sambil mengangguk sopan. “Ini Kakak saya, Edmund Sterling. Dan ini Benedict Harrington.” Tunjuk Rosemary ke Edmund dan Benedict. “Kami perlu bicara dengan Tuan Owen Lancaster. Dan Lord Lancaster, jika memungkinkan.”“Silakan tunggu sebentar. Saya sampaikan.&rd

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   1 - Siapa?

    “Kau tidak terlihat seperti Edmund Sterling yang kukenal.”Langkah Rosemary terhenti.Ia bukan Edmund Sterling. Tapi sejak kemarin—sejak surat bertanda segel Ratu itu tiba dengan ancaman penyitaan aset dan pencabutan gelar bangsawan Sterling—ia tidak punya pilihan selain menjadi kakaknya.Jantung Ro

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   106 - Peringkat Baru

    Pengumuman peringkat akhir semester baru saja ditempel, dan dalam waktu kurang dari lima menit seluruh koridor sudah penuh.Oliver Finch: peringkat 3.“PERINGKAT TIGA!

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   4 - Kelas

    Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   3 - Punggung

    Rosemary tersentak. Ia terduduk dengan cepat. Tangannya segera menarik mantel, teringat ikatan dadanya yang tadi dilonggarkan.“Anda … Anda tidak bisa masuk begitu saja!”Dan begitu suara itu mencapai telinganya sendiri, Rosemary ingin menggigit lidahnya.Suara rendah yang selama ini ia pertahankan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status