Share

Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!
Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!
Author: Luna Maji

1 - Siapa?

Author: Luna Maji
last update publish date: 2026-05-07 11:24:09

“Kau tidak terlihat seperti Edmund Sterling yang kukenal.”

Langkah Rosemary terhenti.

Ia bukan Edmund Sterling. Tapi sejak kemarin—sejak surat bertanda segel Ratu itu tiba dengan ancaman penyitaan aset dan pencabutan gelar bangsawan Sterling—ia tidak punya pilihan selain menjadi kakaknya.

Jantung Rosemary berdetak kencang. Keringat mulai menetes di pelipisnya. 

Pelan-pelan ia menoleh.

Seorang pria berdiri di hadapannya. Rambut pirangnya tersisir licin, wangi minyak rambut menyengat dari jaraknya. Matanya menyipit. 

“Lalu aku harus terlihat seperti apa?” Rosemary menekan suaranya supaya terdengar lebih rendah dan mantap, namun suaranya bergetar di ujung kalimat.

Pria itu melangkah mendekat, sedikit membungkuk hingga wajah mereka nyaris sejajar. “Entahlah,” katanya. “Seingatku, kau seharusnya tidak sependek ini.” 

Rosemary tidak menjawab. Ia membuka mulut—lalu menutupnya lagi.

Satu kata yang salah saja … semuanya berakhir.

Tangannya yang basah oleh keringat mengepal disisi tubuhnya.

“Kau ini aneh, Sterling.” Lord Vane meluruskan punggung, tapi sorot matanya tidak berubah. “Aku ingat kau dulu hampir setinggi aku. Sekarang … kau bahkan tidak sampai ke bahu Harrington di belakangku.” 

Rosemary refleks melirik ke belakang Lord Vane. 

Dan di sanalah ia—Lord Benedict Harrington. Bersandar di dinding, dengan tangan terlipat, dan tatapan mata abu-abu yang tidak bisa dibaca. 

Tidak seperti Lord Vane yang sorot matanya penuh curiga, tatapan Harrington kosong. Dan entah kenapa, itu jauh lebih meresahkan. 

“Lima tahun bukan waktu yang sebentar, Vane,” jawab Rosemary akhirnya. Ia memaksakan sudut bibirnya terangkat—sebuah senyum tipis yang dilatihnya di depan cermin berkali-kali. “Orang berubah. Kau sendiri … rambutmu dulu tidak semengilap itu.”

Vane mengerutkan kening. Tapi sebelum mulutnya terbuka— 

“Vane.”

Satu kata. Diucapkan dengan suara rendah dan datar. Tapi koridor terasa lebih sempit seketika, membuat bulu kuduk Rosemary berdiri.

Satu kata itu membuat koridor mendadak sunyi. Bahkan Vane langsung tutup mulut.

Benedict Harrington akhirnya bergerak. Ia mendorong tubuhnya dari dinding perlahan, tanpa tergesa, namun entah mengapa gerakan itu terasa seperti ancaman. Ia tidak melihat Vane. Matanya tertuju pada Rosemary. 

“Kita akan terlambat untuk upacara pembukaan.” Ia berhenti sejenak. “Dan buang-buang waktu di sini tidak akan mengubah apapun.”

Lord Vane menoleh ke arah Benedict, lalu kembali ke Rosemary. Seringai tipis muncul di wajahnya. “Benar juga." Tangannya menepuk bahu Rosemary dengan keras, lebih keras dari seharusnya. Lalu jari-jarinya mencengkeram kerah mantel coklat lusuh yang dipakainya. “Apa gunanya menginterogasi Viscount miskin yang bahkan tidak bisa membeli jubah akademinya?” Seringai Vane melebar. “Aku dengar pelayan terakhir keluarga Sterling bahkan sudah menjual perabot rumah kalian.”

Kata-kata itu menampar harga diri Rosemary. Namun ia mengunci mulutnya kuat-kuat. Matanya tidak berkedip. Ia sudah terlatih menelan penghinaan. 

Benedict melangkah pergi tanpa menoleh, dan Vane mengikutinya.

Saat mereka berjalan di koridor, tidak ada yang berani bersuara. Bahkan mahasiswa tingkat akhir mundur memberi jalan.

Namun tepat sebelum ia menghilang di tikungan koridor, mata abu-abu itu melirik sekilas ke arah Rosemary. Hanya sedetik. Tapi cukup untuk membuat jantung Rosemary berdetak dua kali lebih cepat.

Koridor kembali sunyi. Rosemary menghela napas panjang. 

Jemarinya masih gemetaran. Ia menyembunyikannya di saku mantel, mengepal kuat-kuat sampai kuku-kukunya menekan telapak tangan. Tenang, perintahnya pada dirinya sendiri. Kau belum gagal. 

Ia menegakkan punggungnya, meluruskan bahunya, dan melangkah menuju aula.

“Lord Sterling!”

Rosemary hampir tersentak saat seseorang memanggilnya. Untuk sepersekian detik, ia pikir penyamarannya akan terbongkar.

Oliver Finch berlari kecil ke arahnya, kacamatanya melorot. “Kau di sini! Aku mencarimu ke mana-mana. Upacara pembukaan lima menit lagi!” 

Rosemary mengangguk. Ia meluruskan bahunya, menegakkan posturnya. 

“Ayo.” Suara Rosemary kembali rendah, kembali stabil. “Kita tidak boleh terlambat.”

Rosemary baru menyadari telapak tangannya mati rasa.

Sial. Sedikit lagi saja dan semuanya bisa terbongkar.

Mereka berjalan menuju aula. Tapi di sepanjang jalan, pikiran Rosemary tidak ikut melangkah bersamanya.

Benedict Harrington berbahaya. Bukan hanya karena ia adalah pewaris dari pria yang telah menghancurkan keluarganya. Pria itu adalah ancaman nyata. Caranya menatap Rosemary—dingin, menguliti, dan tajam layaknya elang yang memantau mangsanya—membuat sekujur bulu kuduk Rosemary meremang. 

Dan Rosemary tahu, jika ia tertangkap, semuanya akan berakhir.

Mereka akhirnya tiba di aula, namun pemandangan yang mereka lihat bukan deretan mahasiswa yang berbaris tertib, melainkan kerumunan para mahasiswa membentuk lingkaran. 

Rosemary dan Oliver mendekat, berjinjit untuk melihat ke tengah kerumunan.

Dan Rosemary terhenti.

Di tengah lingkaran itu berdiri dua pemuda. Salah satunya berdiri tegak. Posturnya lebih tinggi dari siapapun di ruangan itu, dengan bahu lebar yang dibalut jubah akademi biru tua yang tampak sangat pas di tubuhnya. Rambut hitamnya yang pekat kontras dengan kulitnya yang pucat, dan bahkan dari jarak itu, Rosemary bisa melihat sorot mata warna abu-abu itu.

Rosemary membeku. 

Benedict Harrington berdiri di tengah lingkaran mahasiswa. Dan di bawah kakinya—seseorang sedang berlutut.

Luna Maji

Terimakasih sudah membuka Bab pertama dan membaca sampai akhir. Perjalanan Rosemary sebagai Edmund Sterling di Akademi Kingsley baru saja dimulai. Ikuti terus kisahnya, silakan tinggalkan ulasan bintang lima serta dukungannya. Setiap dukungan, komentar dan ulasan dari kalian, jadi semangat buat Luna melanjutkan kisah ini.

| 4
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Luna Maji
Hai kak, Ini novel asli karya aku ya, bukan terjemahan atau adaptasi dari novel China. Terima kasih banyak sudah tertarik sama ceritanya 🤍 Doain semoga aku selalu sehat dan lancar nulis biar bisa update terus yaa (⁠~⁠‾⁠▿⁠‾⁠)⁠~
goodnovel comment avatar
Irsaliena Liena
thor mau nanya aja. novel ini asli rekayasa thor atau dari novel china alih bahasa. hanya mau tahu supaya ngak nunggu lama update dari thor ,,......
goodnovel comment avatar
Freyaa
Wah Rosemary pura-pura jadi laki-laki ya? Menarik nih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   250 - Tahun Ajaran Baru

    Halaman Kingsley kembali dipenuhi kereta sejak pagi.Suara roda berhenti bergantian di depan gerbang. Para pelayan sibuk menurunkan koper, sementara mahasiswa lama berjalan melewati halaman dengan langkah yang jauh lebih santai daripada mahasiswa baru yang terus melihat ke segala arah.Tahun akademik baru telah dimulai.Untuk pertama kalinya, mahasiswa perempuan berdiri di halaman Kingsley dengan pakaian resmi akademi. Rok panjang berwarna gelap, blus berkerah rapi, dan jubah tipis yang sama dengan mahasiswa laki-laki. Rosemary berdiri di dekat tangga gedung utama, memperhatikan semuanya. Ia masih ingat bagaimana dulu ia datang ke tempat ini sebagai Edmund. Kaku, waspada, dan selalu memastikan suaranya cukup dalam dan caranya berdiri cukup meyakinkan. Sekarang ia berdiri di sini sebagai senior tingkat dua, dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan pakaian perempuan.“Senior, boleh tanya sesuatu?”Rosemary menoleh. Seorang mahasiswi baru berdiri di hadapannya, menenteng koper di tangan

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   249 - Kembali

    Rosemary kembali ke Kingsley saat sore mulai turun.Setelah berpisah dari Edmund di Sterling Manor, ia menghabiskan perjalanan dengan menatap jalan yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada lagi yang ia tunggu di balik tikungan. Tidak ada yang harus ia sembunyikan dari pandangan siapa pun.Halaman Kingsley terlihat ramai, tapi tidak mencekam. Beberapa mahasiswa lalu-lalang membawa buku. Yang lain duduk di bangku kayu dekat jalan setapak. Rosemary turun dari kereta, menyesuaikan tas di bahunya, lalu berjalan melewati gerbang.Ia berhenti sebentar di tengah halaman.Pertama kali ia berdiri di titik yang sama, ia baru saja tiba sebagai Edmund Sterling dan sedang menghitung berapa banyak orang yang harus ia waspadai. Sekarang udara sore yang hangat menyen

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   248 - Pulang

    Perjalanan pulang terasa lebih singkat daripada yang Rosemary ingat. Jalan yang sama membentang di depan kereta, melewati ladang-ladang yang mulai menguning dan deretan pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin. Edmund duduk di seberangnya. Sejak meninggalkan Kingsley, ia beberapa kali membuka buku yang dibawanya, tetapi tidak pernah benar-benar membacanya. Akhirnya buku itu diletakkan begitu saja di sampingnya. Rosemary memperhatikan hal itu sambil tersenyum kecil. “Capek?” Edmund menggeleng. “Tidak.” “Bohong.” Edmund menatapnya. “Kau juga tidak membaca apapun sejak tadi.” Rosemary melihat buku yang sejak satu jam lalu masih terbuka pada halaman yang sama. “Aku sedang menikmati pemandangan.” “Oya?” Rosemary menutup bukunya. “Baiklah. Mungkin kita memang capek.” Edmund tersenyum kecil dan kembali memandang keluar jendela. Tidak banyak yang mereka bicarakan setelah itu. Sterling Manor akhirnya terlihat dari ujung jalan ketika matahari mulai turun. Bangunan batu yang selam

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   247 - Presentasi Langston

    Beberapa hari setelah keputusan Dewan, Kingsley mulai kembali terasa seperti akademi.Rosemary dan Benedict kembali mengikuti jadwal kuliah. Tidak ada lagi surat yang harus disembunyikan di saku jas. Tidak ada lagi arsip yang harus mereka periksa hingga larut malam. Yang mereka bawa sekarang hanya satu map tipis dengan hasil yang sah dan bisa ditunjukkan kepada siapapun yang bertanya.Profesor Langston meminta mereka maju untuk mempresentasikan tugas.Ruangan lebih penuh dari biasanya. Oliver duduk di baris tengah bersama Cedric. Beberapa mahasiswa yang dulu menatap Rosemary dengan curiga kini hanya diam menunggu. Tidak ada bisik-bisik. Semua mata tertuju ke depan.Rosemary membuka map itu.Benedict berdiri di sampingny

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   246 - Selesai

    Lima hari setelah sidang, Henry datang ke Kingsley.Ia tidak menyembunyikan kedatangannya kali ini. Ia berjalan melewati koridor utama dengan langkah tenang, memberi salam singkat pada beberapa mahasiswa yang menyapanya. Langit pagi itu cerah, dan udara sudah mulai hangat. Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver sudah menunggu di kamar Benedict.Tidak banyak yang mereka lakukan sambil menunggu. Beberapa buku masih terbuka di atas meja, tetapi tidak ada yang benar-benar membaca. Oliver sempat membalik dua halaman sebelum akhirnya membiarkan jarinya berhenti di sudut kertas. Edmund duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut, sesekali melirik ke arah pintu. Rosemary sendiri beberapa kali melihat jam.Tidak ada yang mengatakan apa yang sedang mereka tunggu. Mereka bahkan sudah tahu berita apa yang akan dibawa Henry. Tetapi selama keputusan itu belum berada di tangan mereka, semuanya masih terasa seperti sesuatu yang bisa berubah.Benedict berdiri di dekat jendela.Pagi sudah cukup terang

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   245 - Ashworth

    Semua mata tertuju ke pintu ketika nama itu disebut.Duke Ashworth masuk dengan langkah tenang, dan tidak terburu-buru. Pintu besar menutup di belakangnya dengan bunyi berat yang menggema pelan di seluruh ruangan. Ia berjalan melewati barisan kursi dengan punggung tegak, dan tidak menoleh pada siapa pun. Hanya matanya yang sempat berhenti sekejap pada Lord Lancaster, lalu bergeser ke Rosemary. Tidak lebih dari satu detik. Tapi cukup untuk membuat Rosemary merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.Ashworth berhenti di tempat yang ditentukan. Ia memberi hormat pada Ratu. Wajahnya tenang.“Duke Ashworth,” kata Ratu. “Kau tahu alasan pemanggilan ini.”“Aku bisa menebaknya, Yang Mulia.” Ashworth tersenyum tipis. “Dan aku bisa mema

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   4 - Kelas

    Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   7 - 1 Sentimeter

    “Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   6 - Duel

    “Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   5 - Debat

    Semua mata masih tertuju pada Rosemary.Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.“Lord Sterling t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status