Share

4 - Kelas

Penulis: Luna Maji
last update Tanggal publikasi: 2026-05-07 11:26:27

Benedict menatap tepat ke arahnya.

Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. 

Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”

Benedict tidak langsung memalingkan wajah. Ia membiarkan Rosemary ketahuan menatapnya beberapa detik terlalu lama. Lalu ia berbalik dengan sangat santai, tidak menunggu jawaban. Ia mengambil kemeja putihnya, dan mengenakannya dengan gerakan lambat.

Rosemary membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi. “Aku—” Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.

Benedict berbalik lagi menatap Rosemary.

Tok tok tok.

“Lord Sterling!”

Terdengar suara Oliver dari balik pintu, dan Rosemary tidak pernah merasa sesenang ini mendengar suara Oliver Finch. 

“Kelas dimulai tiga puluh menit lagi!” lanjut Oliver. “Kau sudah bangun?”

“Sudah,” jawab Rosemary. Suaranya serak, tapi kembali ke nada rendah yang ia latih. Ia melompat dari ranjang, menyambar mantel lusuhnya yang tergantung di tiang ranjang.

Dengan tangan gemetar yang bergerak jauh lebih cepat dari otaknya, ia membuka koper, menarik asal kemeja bersih, mengepitnya di lengan, dan bergegas membuka pintu.

“Finch!” seru Rosemary setengah berbisik saat pintu terbuka. “Aku … ganti baju. Di mana?”

Tapi Oliver tidak mendengarnya. Di balik kacamatanya yang melorot, matanya tertuju pada sosok lain di kamar Rosemary. “Lord Benedict Harrington!” ucapnya tak percaya.

Matanya membulat, rahangnya turun sedikit, lalu ia mendorong kacamatanya yang melorot dengan gerakan gugup. “An-Anda … di sini? Di kamar ini?” 

“Di ujung lorong,” kata Benedict tiba-tiba—bukan pada Oliver, tapi pada Rosemary.  “Ada kamar mandi bersama.”

Rosemary mengangguk kaku dan menghilang di balik pintu.

***

Sepanjang perjalanan menuju kelas, Rosemary masih bisa merasakan tatapan dingin mata abu-abu itu. Sampai mereka tiba di depan pintu kelas. 

Ruang kelas itu berbentuk teater kecil dengan kursi dan meja kayu yang disusun melingkar ke atas. Di tengahnya, terdapat sebuah podium untuk pengajar. 

Rosemary duduk di barisan tengah, berusaha mengatur napasnya. Di sebelahnya, Oliver sudah membuka buku catatannya meski kelas belum dimulai—pensilnya berputar-putar di antara jari, satu-satunya tanda bahwa ia sama gugupnya dengan Rosemary.

Professor Vance, pria paruh baya dengan tatapan setajam elang, berdiri mematung di dekat podium.

“Kalian adalah calon pemimpin,” Professor Vance memulai, suaranya menggema di seluruh ruangan. “Kalian akan menjadi duke, menteri, duta besar. Dan suatu hari nanti, kalian akan dihadapkan pada pilihan. Kebenaran atau kehormatan keluarga.” Ia berhenti, matanya menyapu seluruh ruangan. “Kita akan mulai dengan sebuah perdebatan sederhana.”

Ia berbalik dan menulis di papan dengan kapur.

"Kehormatan keluarga adalah segalanya, bahkan jika itu berarti menyembunyikan kebenaran."

Rosemary menelan ludah. Kerah kemejanya mendadak terasa mencekik. Kalimat di papan itu seolah sedang menertawakan penyamarannya.

Di barisan belakang, Lord Vane tertawa kecil. Pemuda pirang itu memutar cincin emas di jarinya dengan angkuh.

“Tentu saja setuju,” suara Vane menggema, sarat akan arogansi. “Kebenaran adalah mainan rakyat jelata. Bagi seorang bangsawan, nama baik adalah mata uang. Kebenaran yang menghancurkan keluarga tidak pantas diungkap. Lebih baik dikubur selamanya.”

Beberapa mahasiswa mengangguk setuju. 

Di sebelah Lord Vane, Benedict Harrington duduk bersandar dengan tangan terlipat di dada. Lalu ia berbicara. Ia tidak berdiri. Tidak mengangkat tangan. Hanya membuka mulut, dan seisi kelas tiba-tiba lebih sunyi dari sebelumnya.

“Setuju,” gumam Benedict pelan. “Kehormatan keluarga adalah fondasi kerajaan ini. Tanpa nama keluarga yang bersih, seorang bangsawan bukanlah apa-apa. Jika menyembunyikan kebenaran itu diperlukan—entah itu skandal, utang, atau rahasia kecil yang tidak perlu diketahui dunia—maka itu memang harus dilakukan."

Rahasia kecil yang tidak perlu diketahui dunia. Rosemary menelan ludah. Ia menoleh. Apakah Benedict sengaja memilih kata-kata itu? Atau itu kebetulan?

“Kebenaran yang diungkapkan pada waktu yang salah bisa menghancurkan keluarga yang telah dibangun selama puluhan generasi,” lanjut Benedict. “Apakah kita rela menjadi generasi terakhir hanya karena kita terlalu jujur?”

Mata Benedict bertemu dengan mata hijau Rosemary. Tatapan pria itu seolah mampu menembus lapisan pakaian dan ikatan yang mengikat dadanya.

Rosemary tidak bisa memalingkan wajahnya. Sebenarnya ia ingin, bahkan sangat ingin melakukannya. Tapi otot-otot lehernya menolak bergerak. Dan di seberang sana, tatapan abu-abu itu tidak berkedip. Seolah sedang menguji. Menunggu siapa yang akan menunduk lebih dulu. 

Kelas riuh oleh beberapa mahasiswa yang berseru setuju. Professor Vance mengangguk pelan, lalu berputar menatap mahasiswa lainnya. “Ada yang mau menyanggah? Silakan berdiri dan sampaikan pendapat kalian.”

“B-bagaimana dengan keadilan?” Oliver Finch mencoba bersuara, meski bahunya bergetar. “Kebenaran yang disembunyikan … bisa saja melukai orang tak bersalah.”

Vane mendengus keras. “Orang miskin selalu terlalu sentimental soal keadilan.” 

Seisi kelas menertawakan Oliver, sedangkan Vane semakin merendahkan.

Rosemary merasakan darahnya mendidih. Tangannya mencengkeram erat tepi meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih. Jika ia membenarkan Vane, ia tidak lebih dari sekadar pengecut.

Tanpa sadar, Rosemary bangkit berdiri. Gesekan kursi kayunya yang berderit memecah keheningan.

Semua mata tertuju pada Rosemary.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   247 - Presentasi Langston

    Beberapa hari setelah keputusan Dewan, Kingsley mulai kembali terasa seperti akademi.Rosemary dan Benedict kembali mengikuti jadwal kuliah. Tidak ada lagi surat yang harus disembunyikan di saku jas. Tidak ada lagi arsip yang harus mereka periksa hingga larut malam. Yang mereka bawa sekarang hanya satu map tipis dengan hasil yang sah dan bisa ditunjukkan kepada siapapun yang bertanya.Profesor Langston meminta mereka maju untuk mempresentasikan tugas.Ruangan lebih penuh dari biasanya. Oliver duduk di baris tengah bersama Cedric. Beberapa mahasiswa yang dulu menatap Rosemary dengan curiga kini hanya diam menunggu. Tidak ada bisik-bisik. Semua mata tertuju ke depan.Rosemary membuka map itu.Benedict berdiri di sampingny

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   246 - Selesai

    Lima hari setelah sidang, Henry datang ke Kingsley.Ia tidak menyembunyikan kedatangannya kali ini. Ia berjalan melewati koridor utama dengan langkah tenang, memberi salam singkat pada beberapa mahasiswa yang menyapanya. Langit pagi itu cerah, dan udara sudah mulai hangat. Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver sudah menunggu di kamar Benedict.Tidak banyak yang mereka lakukan sambil menunggu. Beberapa buku masih terbuka di atas meja, tetapi tidak ada yang benar-benar membaca. Oliver sempat membalik dua halaman sebelum akhirnya membiarkan jarinya berhenti di sudut kertas. Edmund duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut, sesekali melirik ke arah pintu. Rosemary sendiri beberapa kali melihat jam.Tidak ada yang mengatakan apa yang sedang mereka tunggu. Mereka bahkan sudah tahu berita apa yang akan dibawa Henry. Tetapi selama keputusan itu belum berada di tangan mereka, semuanya masih terasa seperti sesuatu yang bisa berubah.Benedict berdiri di dekat jendela.Pagi sudah cukup terang

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   245 - Ashworth

    Semua mata tertuju ke pintu ketika nama itu disebut.Duke Ashworth masuk dengan langkah tenang, dan tidak terburu-buru. Pintu besar menutup di belakangnya dengan bunyi berat yang menggema pelan di seluruh ruangan. Ia berjalan melewati barisan kursi dengan punggung tegak, dan tidak menoleh pada siapa pun. Hanya matanya yang sempat berhenti sekejap pada Lord Lancaster, lalu bergeser ke Rosemary. Tidak lebih dari satu detik. Tapi cukup untuk membuat Rosemary merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.Ashworth berhenti di tempat yang ditentukan. Ia memberi hormat pada Ratu. Wajahnya tenang.“Duke Ashworth,” kata Ratu. “Kau tahu alasan pemanggilan ini.”“Aku bisa menebaknya, Yang Mulia.” Ashworth tersenyum tipis. “Dan aku bisa mema

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   244 - Ruang Dewan

    Ruang Dewan kerajaan jauh lebih tertutup daripada ruang audiensi biasa.Letaknya di sisi utara istana, di balik koridor yang dijaga dua penjaga yang berdiri tanpa bergerak. Pintunya tinggi, terbuat dari kayu tua dengan ukiran lambang kerajaan di bagian tengah. Begitu pintu terbuka, bau lilin dan kayu tua langsung keluar, bercampur dengan hawa dingin batu istana yang tidak pernah sepenuhnya hilang bahkan di tengah hari.Meja panjang berbentuk setengah lingkaran berdiri di tengah. Di atasnya, beberapa lilin menyala dalam tempat dari perak. Kursi-kursi tinggi mulai terisi satu per satu oleh anggota Dewan. Pakaian mereka gelap, jubah mereka panjang, dengan pin kerajaan di dada kiri. Beberapa sudah duduk dan berbicara pelan. Beberapa lagi berdiri di dekat jendela, dan menatap ke luar.Rosemary berdiri di sisi yang diperu

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   243 - Menjelang

    Edmund duduk di meja paling ujung perpustakaan.Owen datang beberapa menit kemudian dengan membawa satu buku tipis. Ia menarik kursi di seberang Edmund, membuka bukunya, lalu menatap Edmund tanpa bicara.“Sidang Dewan tinggal dua hari,” kata Edmund.Owen tidak langsung menjawab. Ia membalik halaman, tapi matanya tidak benar-benar membaca. “Ayahku harus tahu.”“Pulanglah ke rumah, sampaikan langsung.”“Dia akan bertanya apa yang harus dilakukan."“Biarkan dia di rumah. Pengawal kerajaan yang akan datang menjemputnya. Dia tidak perlu melakukan apapun selain menunggu dan bersiap.”Owen menatap Edmund. “Kapan pengawal itu datang?”“Aku tidak tahu. Tapi mereka akan datang sebelum sidang.”“Itu saja yang perlu disampaikan?”“Itu saja.”Owen menatap buku di tangannya. Jarinya masih berada di antara dua halaman yang sejak tadi ia buka. Ia akhirnya menutupnya.“Aku akan segera berangkat.”Edmund mengangguk.Owen tidak langsung berd

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   242 – 

    Cedric dipanggil pulang keesokan harinya. Ia langsung berjalan ke ruang kerja. Di dalam, Duke Ashworth sudah duduk di belakang meja. Buku catatan cokelat tua terletak di sisi mejanya, tidak jauh dari tangan kanannya.“Duduk,” kata Ashworth.Cedric menurut.Ruangan itu begitu sunyi sampai suara jarum jam di dinding terdengar jelas. Cedric bisa mencium aroma tinta dan kayu tua dari meja di hadapannya. Ia tidak tahu kenapa ayahnya membiarkannya duduk dalam diam selama itu, tetapi ia tahu lebih baik tidak memulai percakapan lebih dulu.Ashworth masih belum bicara. Ia menatap putranya selama beberapa detik, lalu membuka laci kecil di samping meja, mengeluarkan selembar kertas, dan membacanya.Baru setelah i

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   105 - Seperti Biasa

    Surat itu tiba di meja sarapan, disampaikan oleh seorang pelayan istana dengan sikap resmi yang membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh."Temani aku di perpustakaan pagi ini. Aku butuh seseorang yang mengerti sejarah untuk melihat beberapa arsip. —H."Oliver membaca dari

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   7 - 1 Sentimeter

    “Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   6 - Duel

    “Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   5 - Debat

    Semua mata masih tertuju pada Rosemary.Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.“Lord Sterling t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status