LOGINRosemary tersentak. Ia terduduk dengan cepat. Tangannya segera menarik mantel, teringat ikatan dadanya yang tadi dilonggarkan.
“Anda … Anda tidak bisa masuk begitu saja!”
Dan begitu suara itu mencapai telinganya sendiri, Rosemary ingin menggigit lidahnya.
Suara rendah yang selama ini ia pertahankan hilang. Yang keluar adalah suara aslinya.
Benedict Harrington, yang sedang melemparkan kopernya ke ranjang tempat Rosemary duduk, berhenti. Kepalanya menoleh perlahan.
“Suaramu …,” katanya datar. “... kenapa seperti itu?”
Rosemary tidak menjawab.
Ia bahkan tidak bisa berpikir untuk menjawab. Karena sekarang Benedict berbalik sepenuhnya dan berjalan mendekat.
Ia berhenti tepat di depan Rosemary. Lalu, tanpa peringatan, ia duduk. Bukan di sisi lain. Bukan di ranjang seberang. Tapi di ranjang yang sama. Cukup dekat hingga kasur itu melesak ke bawah, dan Rosemary ikut bergeser sedikit ke arahnya.
Aroma sandalwood memenuhi penciuman Rosemary.
Rosemary mendorong tubuhnya mundur, nyaris jatuh, sebelum akhirnya melompat berdiri. Mantelnya hampir terbuka. Ia buru-buru menariknya menutupi dada.
“A-aku pindah ranjang yang itu saja.”
Sial. Suaranya masih belum kembali ke nada rendah yang seharusnya. Rosemary bergegas menyeberang ke ranjang kosong di sisi lain, kakinya nyaris tersandung ujung koper. Kopernya masih terbuka di dekat ranjang lama. Isinya setengah berantakan—kemeja, celana, perlengkapan cukur yang tidak akan pernah ia gunakan, dan … itu.
Matanya menangkap sesuatu di antara lipatan kain. Sebuah benda kecil. Putih. Terbuat dari katun lembut dengan renda di ujungnya. Pembalut kain. Ibunya yang menyelipkannya, ia ingat sekarang. “Untuk berjaga-jaga,” kata Lady Beatrice Sterling dengan mata berkaca-kaca.
Kenapa benda itu ada di atas?
Darah Rosemary berdesir.
Benedict mengikuti arah pandangannya. Matanya yang abu-abu itu jatuh tepat ke koper yang terbuka.
“Apa itu?”
Tidak. Tidak. Tidak.
Rosemary melesat. Ia menubruk koper itu, membanting tutupnya. Tapi gerakannya terlalu cepat, terlalu panik, dan ia lupa, mantel yang masih belum dikancingkan kini terbuka.
Bodoh.
Tangannya yang satu tetap di atas tutup koper. Tangannya yang lain refleks menyilang di depan dadanya.
Benedict perlahan berdiri dari ranjang. Gerakannya tidak tergesa, tapi justru itu yang membuatnya lebih mengancam. Matanya menyipit, menatap Rosemary yang kini setengah membungkuk, satu tangan di atas koper, satu tangan di depan dada, napasnya memburu, dan pipinya mulai terasa panas.
“Kau … menyembunyikan sesuatu dariku.”
“Ti-tidak.” Rosemary berusaha mengembalikan suaranya ke nada rendah. Tapi kata-katanya keluar terlalu cepat dan terbata-bata.
Benedict melangkah mendekat. “Kau buru-buru pindah ranjang. Kau tutup koper itu seperti ada mayat di dalamnya. Suaramu berubah. Dan sekarang kau bungkuk seperti itu.”
Rosemary sadar posisinya. Tangan menyilang di dada, lutut sedikit menekuk, tubuh membungkuk melindungi diri. Persis seperti seorang gadis yang ketakutan. Bukan seperti Edmund Sterling.
“Aku hanya tidak suka orang membangunkan aku dengan kasar,” katanya, kali ini lebih pelan, lebih rendah. Ia memaksakan bahunya untuk tegak, memaksakan tangannya untuk lepas dari dadanya.
Benedict tidak menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa detik lebih lama. Mata abu-abu itu turun sekilas ke leher Rosemary. Rosemary refleks menarik cravat-nya lebih tinggi.
Lalu, Benedict mengangkat bahunya. “Terserah. Aku terlalu lelah untuk interogasi.” Ia berbalik, mulai membuka kancing kemejanya. “Tapi satu hal, Sterling.”
Ia menoleh sekilas, cukup untuk membuat Rosemary melihat kilat di mata abu-abu itu.
“Aku tidak suka orang menyembunyikan sesuatu dariku. Dan kau … kau jelas menyembunyikan sesuatu.”
***
Sepanjang malam, Rosemary berbaring menghadap tembok. Tidak berani untuk berbalik walau lengannya mulai pegal menahan berat tubuhnya sendiri.
Ia tidak bisa tidur.
Di kepalanya, hanya ada satu pikiran yang berputar-putar.
Pria yang hampir menghancurkan wajah seniornya tanpa ragu … pria itu adalah teman sekamarnya.
Di belakangnya, napas Benedict teratur. Terlalu teratur untuk seseorang yang beberapa jam lalu nyaris menghancurkan wajah orang lain.
Rosemary membalik tubuhnya pelan-pelan, menatap langit-langit asing.
Aku di Kingsley College, batinnya. Di kamar asrama. Bersama Lord Benedict Harrington.
Ia menoleh sedikit, cukup untuk melihat ranjang di seberang dari sudut matanya. Cahaya rembulan menembus jendela, membuat siluet tubuh Benedict terlihat seperti punggung bukit yang gelap.
Bagaimana aku bisa tidur sekamar dengan orang seperti ini?
Rosemary menoleh kembali ke tembok. Jemarinya meraba ikatan dadanya. Masih terikat. Ia menekan pelan, masih cukup kencang.
Tapi besok pagi? Apa yang akan terjadi besok?
Ia harus bangun lebih dulu dari Benedict. Ia tidak bisa membiarkan pria itu melihatnya tepat setelah bangun—saat suaranya belum terlatih, posturnya belum dikendalikan, dan wajahnya yang masih menyisakan sisa-sisa Rosemary Sterling yang muncul saat bangun tidur.
Ia menyusun rencana.
Besok ia harus bangun lebih awal. Cravat tidak boleh dilepas. Dan koper itu, ia harus mulai menguncinya.
Kau bisa melakukan ini, bisiknya dalam hati. Kau sudah biasa melakukan ini.
Tapi tetap saja, matanya tidak mau terpejam.
Di ranjang seberang, Benedict bergerak sedikit. Rosemary langsung menahan napas dan pura-pura tidur. Terdengar suara gemerisik sebentar, lalu hening lagi.
Jam di menara Kingsley berdentang dua kali. Lalu tiga kali. Rosemary masih terjaga, masih menyusun ulang rencananya.
Pada dentang keempat, tubuhnya akhirnya menyerah. Kelopak matanya terasa berat. Pikirannya melambat, sampai akhirnya ia tidur.
Cahaya pagi pertama mengenai matanya.
Rosemary mengerjap.
Ia menoleh ke ranjang seberang.
Kosong.
Lalu ia menoleh ke arah sudut kamar di dekat perapian kecil. Di sana, Benedict Harrington berdiri membelakanginya. Tanpa kemeja.
Punggungnya tegak, dengan otot yang bergerak setiap kali ia menggerakkan tangannya. Rambut hitamnya basah.
Rosemary membeku. Matanya terpaku. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan. Tapi terlambat. Pemandangan punggung telanjang itu sudah terlanjur melekat di kepalanya.
Jangan bernapas terlalu keras. Jangan bergerak.
Benedict mengambil handuk dari sisi meja, mengeringkan rambutnya. Lalu ia berbalik. Matanya langsung bertemu dengannya.
Rosemary lupa menutup mata.
Sial. Apakah sejak tadi ia ketahuan memperhatikan tubuh Benedict?
Halaman Kingsley kembali dipenuhi kereta sejak pagi.Suara roda berhenti bergantian di depan gerbang. Para pelayan sibuk menurunkan koper, sementara mahasiswa lama berjalan melewati halaman dengan langkah yang jauh lebih santai daripada mahasiswa baru yang terus melihat ke segala arah.Tahun akademik baru telah dimulai.Untuk pertama kalinya, mahasiswa perempuan berdiri di halaman Kingsley dengan pakaian resmi akademi. Rok panjang berwarna gelap, blus berkerah rapi, dan jubah tipis yang sama dengan mahasiswa laki-laki. Rosemary berdiri di dekat tangga gedung utama, memperhatikan semuanya. Ia masih ingat bagaimana dulu ia datang ke tempat ini sebagai Edmund. Kaku, waspada, dan selalu memastikan suaranya cukup dalam dan caranya berdiri cukup meyakinkan. Sekarang ia berdiri di sini sebagai senior tingkat dua, dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan pakaian perempuan.“Senior, boleh tanya sesuatu?”Rosemary menoleh. Seorang mahasiswi baru berdiri di hadapannya, menenteng koper di tangan
Rosemary kembali ke Kingsley saat sore mulai turun.Setelah berpisah dari Edmund di Sterling Manor, ia menghabiskan perjalanan dengan menatap jalan yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada lagi yang ia tunggu di balik tikungan. Tidak ada yang harus ia sembunyikan dari pandangan siapa pun.Halaman Kingsley terlihat ramai, tapi tidak mencekam. Beberapa mahasiswa lalu-lalang membawa buku. Yang lain duduk di bangku kayu dekat jalan setapak. Rosemary turun dari kereta, menyesuaikan tas di bahunya, lalu berjalan melewati gerbang.Ia berhenti sebentar di tengah halaman.Pertama kali ia berdiri di titik yang sama, ia baru saja tiba sebagai Edmund Sterling dan sedang menghitung berapa banyak orang yang harus ia waspadai. Sekarang udara sore yang hangat menyen
Perjalanan pulang terasa lebih singkat daripada yang Rosemary ingat. Jalan yang sama membentang di depan kereta, melewati ladang-ladang yang mulai menguning dan deretan pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin. Edmund duduk di seberangnya. Sejak meninggalkan Kingsley, ia beberapa kali membuka buku yang dibawanya, tetapi tidak pernah benar-benar membacanya. Akhirnya buku itu diletakkan begitu saja di sampingnya. Rosemary memperhatikan hal itu sambil tersenyum kecil. “Capek?” Edmund menggeleng. “Tidak.” “Bohong.” Edmund menatapnya. “Kau juga tidak membaca apapun sejak tadi.” Rosemary melihat buku yang sejak satu jam lalu masih terbuka pada halaman yang sama. “Aku sedang menikmati pemandangan.” “Oya?” Rosemary menutup bukunya. “Baiklah. Mungkin kita memang capek.” Edmund tersenyum kecil dan kembali memandang keluar jendela. Tidak banyak yang mereka bicarakan setelah itu. Sterling Manor akhirnya terlihat dari ujung jalan ketika matahari mulai turun. Bangunan batu yang selam
Beberapa hari setelah keputusan Dewan, Kingsley mulai kembali terasa seperti akademi.Rosemary dan Benedict kembali mengikuti jadwal kuliah. Tidak ada lagi surat yang harus disembunyikan di saku jas. Tidak ada lagi arsip yang harus mereka periksa hingga larut malam. Yang mereka bawa sekarang hanya satu map tipis dengan hasil yang sah dan bisa ditunjukkan kepada siapapun yang bertanya.Profesor Langston meminta mereka maju untuk mempresentasikan tugas.Ruangan lebih penuh dari biasanya. Oliver duduk di baris tengah bersama Cedric. Beberapa mahasiswa yang dulu menatap Rosemary dengan curiga kini hanya diam menunggu. Tidak ada bisik-bisik. Semua mata tertuju ke depan.Rosemary membuka map itu.Benedict berdiri di sampingny
Lima hari setelah sidang, Henry datang ke Kingsley.Ia tidak menyembunyikan kedatangannya kali ini. Ia berjalan melewati koridor utama dengan langkah tenang, memberi salam singkat pada beberapa mahasiswa yang menyapanya. Langit pagi itu cerah, dan udara sudah mulai hangat. Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver sudah menunggu di kamar Benedict.Tidak banyak yang mereka lakukan sambil menunggu. Beberapa buku masih terbuka di atas meja, tetapi tidak ada yang benar-benar membaca. Oliver sempat membalik dua halaman sebelum akhirnya membiarkan jarinya berhenti di sudut kertas. Edmund duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut, sesekali melirik ke arah pintu. Rosemary sendiri beberapa kali melihat jam.Tidak ada yang mengatakan apa yang sedang mereka tunggu. Mereka bahkan sudah tahu berita apa yang akan dibawa Henry. Tetapi selama keputusan itu belum berada di tangan mereka, semuanya masih terasa seperti sesuatu yang bisa berubah.Benedict berdiri di dekat jendela.Pagi sudah cukup terang
Semua mata tertuju ke pintu ketika nama itu disebut.Duke Ashworth masuk dengan langkah tenang, dan tidak terburu-buru. Pintu besar menutup di belakangnya dengan bunyi berat yang menggema pelan di seluruh ruangan. Ia berjalan melewati barisan kursi dengan punggung tegak, dan tidak menoleh pada siapa pun. Hanya matanya yang sempat berhenti sekejap pada Lord Lancaster, lalu bergeser ke Rosemary. Tidak lebih dari satu detik. Tapi cukup untuk membuat Rosemary merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.Ashworth berhenti di tempat yang ditentukan. Ia memberi hormat pada Ratu. Wajahnya tenang.“Duke Ashworth,” kata Ratu. “Kau tahu alasan pemanggilan ini.”“Aku bisa menebaknya, Yang Mulia.” Ashworth tersenyum tipis. “Dan aku bisa mema
Semua mata masih tertuju pada Rosemary.Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.“Lord Sterling t
Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti
Benedict maju selangkah, tangan kirinya mencengkeram kerah jubah pria dihadapannya. Kepalan tangan kanannya masih terangkat di udara. Napasnya memburu. “Tarik ucapanmu, Ashworth!”Lord Cedric Ashworth—salah satu senior di Akademi Kinsley—menyeringai. “Apa ucapanku salah?” tantangnya. “Ku ulangi, a
“Kau tidak terlihat seperti Edmund Sterling yang kukenal.”Langkah Rosemary terhenti.Ia bukan Edmund Sterling. Tapi sejak kemarin—sejak surat bertanda segel Ratu itu tiba dengan ancaman penyitaan aset dan pencabutan gelar bangsawan Sterling—ia tidak punya pilihan selain menjadi kakaknya.Jantung Ro







