“Bu?”Satu kata itu meluncur dari bibir Valeria, namun nadanya bukan sekadar pertanyaan. Itu adalah lonceng alarm. Ketegangannya merambat cepat, mengubah udara di sekitarnya menjadi kaku.“Apa ada apa?”Di ujung sana, keheningan pecah oleh suara napas yang terburu-buru, seolah-olah paru-paru Isabella lupa cara bekerja. Terdengar bunyi benda jatuh—samarnya seperti gelas yang retak atau buku yang terjatuh—diikuti dentuman pintu yang tertutup rapat. Lalu, ketika suara ibunya kembali terdengar, ia terdengar kecil, rapuh, dan gemetar seperti daun kering di tengah badai.“Aku tidak tahu dia siapa…”Valeria langsung berdiri tegak, tulang belakangnya menegang seperti busur panah yang siap dilepaskan. Matanya menyipit, mencoba menembus jarak fisik antara mereka.“Apa dia masih di sana?”Alejandro, yang sejak tadi diam mengamati, kini menatapnya. Ia tidak berbicara, tetapi perubahan ekspresinya cukup untuk membuat suhu ruangan turun beberapa derajat. Tatapannya yang semula santai kini tajam
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-19 อ่านเพิ่มเติม