Usai melontarkan kata-kata tajam, Clara mendadak menjerit. Suaranya melengking tinggi, memecah keheningan rumah itu. Clara memanggil para pelayan dengan nada histeris, seolah ia baru saja lolos dari ancaman maut.Tak butuh waktu lama, langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah koridor. Para pelayan berhamburan masuk, napas mereka memburu. Pemandangan di depan mata membuat nyali mereka menciut. Di sana, Clara duduk di lantai dengan telapak tangan yang merembeskan darah segar.“Nona Clara, apa yang terjadi?” Martha bertanya dengan suara bergetar. Ia segera berlutut, wajahnya pucat pasi melihat noda merah di kulit putih Clara.“Sabiya … dia tidak sengaja melukai aku,” ujar Clara terbata-bata. Ia menunjuk serpihan kaca di dekat kaki Sabiya.“Tolong, ambilkan kotak obat, Mia. Dan Bibi Martha, bersihkan semua serpihan ini sebelum ada yang terluka lagi."Mia dan Martha segera bergerak ke arah berbeda, kepanikan mereka terasa nyata. Namun, di tengah kesibukan itu, mereka sempat melirik
더 보기