Marfa makin erat merengkuh tubuh kecil yang terus gemetar itu. Ia menyembunyikan wajahnya di puncak kepala Vian, tak sanggup lagi menatap Liam.Liam tidak membela diri. Pria itu menarik kembali tangannya yang sempat ditolak Vian, lalu berdiri tegak. Sebagai seorang dokter, ia tahu betul ini adalah psychogenic fever—demam yang dipicu oleh stres emosional hebat, kelelahan, dan rasa cemas berlebih pada anak-anak. Namun, raut wajah Liam tetap datar, tak memperlihatkan penyesalan sedikit pun di hadapan Marfa."Jangan biarkan dia terus memelukmu seperti itu. Sirkulasi udaranya tertutup, suhunya sulit turun," ucap Liam dingin, memberi instruksi klinis."Dia butuh rasa aman, Pak Liam," balas Marfa dengan suara tercekat. "Sesuatu yang tidak dia dapatkan saat bersamamu."Pandangan Liam menggelap sejenak, namun ia menahannya. Ia keluar sebentar untuk mengambil stetoskop dan termometer dari dalam tas medis. Tanpa memedulikan tatapan penuh penolakan dari Marfa, Liam mengusap lembut bagian da
Last Updated : 2026-08-06 Read more