"Tidak seperti itu, Sayang. Kamu terlihat cantik bukan karena gaunnya milik siapa, tapi karena kamu yang memakainya," ujar Killian jujur. Suara beratnya terdengar begitu lembut, berusaha menenangkan badai terselubung di dalam mata kekasihnya.Irish tersenyum tipis, mengusap pelan rahang tegas Killian. "Terima kasih, Sayang."Ringtone bernada standar mendadak memecah ketegangan halus di antara mereka. Killian merogoh saku jasnya dan melihat layar ponsel. Nama Lucas—asisten pribadinya—terpampang di sana. Jika pria kepercayaan itu menelepon di jam seperti ini, artinya ada hal yang sangat krusial.Irina yang duduk di atas kasur sontak menoleh, menatap Killian dengan kening berkerut penasaran."Aku izin angkat telepon sebentar ya, Sayang," pamit Killian pelan.Irish mengangguk anggun. "Iya, angkat saja."Pria bertubuh jangkung itu segera berdiri, melangkah cepat menuju pintu balkon kamar. Ia menggeser pintu kaca tersebut, berdiri di ambang batas ruangan sembari jemarinya memegang tir
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-10-20 อ่านเพิ่มเติม