Nindy tidak sempat menghitung berapa jumlah barang yang baru saja disebutkan Marni satu per satu, hanya sempat mengangguk-angguk sendiri di depan ponsel, tidak menemukan celah untuk menolak satu pun dari daftar itu."Bu Marni, nggak usah repot-repot, aku sama Malik bisa—""Nggak, Nindy, ini hak Ibu jadi nenek!" potong Marni lagi, tegas, tidak menerima bantahan apa pun.Nindy menyerah, membiarkan Marni terus bicara, sementara di sela ceritanya Marni tiba-tiba berpindah topik tanpa jeda, seolah pikirannya bergerak lebih cepat dari mulutnya sendiri."Eh, ngomong-ngomong, tadi malem Eleanor telepon Ibu lagi, lho," ucap Marni, nadanya masih santai, seolah sedang membicarakan hal biasa. "Jam dua dini hari, aneh banget, kan?"Nindy langsung menegakkan punggungnya di kursi. "Nanya apa lagi, Bu?""Nanya aneh-aneh, Nindy. Katanya, Ibu pernah nggak nyesel sama satu keputusan besar dalam hidup," jawab Marni, tertawa kecil. "Ibu bilang aja, nyesel kan wajar, siapa juga yang nggak pernah nyesel sek
최신 업데이트 : 2026-09-12 더 보기