Dewa menatap Alya yang terkulai lelah di jok mobil dengan tatapan yang sulit diartikan."Ikut aku pulang, karena kali ini tak cukup hanya pijatan seperti biasanya," jelas Dewa datar namun penuh penekanan."Tapi Pak, bagaimana kalau Mas Rehan…"“Maka dari itu aku bilang, itu kalau kamu mau. Melakukan pengobatan di dalam mobil seperti ini, ditambah dihantui rasa was-was tidak akan mempan,” potong Dewa tanpa menatap Alya, tangannya menggenggam kemudi erat.Alya bergeming, rasa sakit di bagian bawah tubuhnya kian memuncak dan menusuk-nusuk. Kepalanya berdenyut hebat. Mengingat Rehan dan ibu mertuanya yang hanya bisa mencaci, Alya akhirnya membuang jauh-jauh rasa ragunya. Urusan Rehan bisa dia pikirkan besok, yang terpenting sekarang sakitnya harus sembuh.“Baiklah, Pak Dewa,” sahut Alya pasrah.Dewa langsung menginjak pedal gas. Mobil mewah itu melesat cepat menembus kegelapan malam, meninggalkan kediaman Rehan jauh di belakang.Tiga puluh menit kemudian, Dewa menuntun Alya yang tu
Last Updated : 2026-08-14 Read more