مشاركة

Bab 2

مؤلف: Jaja
Gantari menghabiskan semalaman penuh untuk menyelesaikan jubah hangat tersebut. Bulu rubah yang putih bersih, dipadu dengan sulaman halus, membuat jubah itu tampak mewah sekaligus hangat.

Saat fajar menyingsing, dia mengantarkan jubah itu sendiri ke Istana Margahayu milik Garwita.

Garwita sedang bersolek di depan cermin. Saat melihat Gantari datang, tatapannya mendadak dingin.

"Kenapa kamu ada di sini?"

"Saya memberi hormat kepada Yang Mulia Permaisuri." Gantari membungkuk memberi salam. "Yang Mulia Kaisar memerintahkan saya untuk menjahit jubah untuk Anda. Jubah ini sudah selesai, dan saya membawanya ke sini."

Seorang pelayan menerima jubah itu dan menyerahkannya kepada Garwita. Garwita mengelus bahan jubah tersebut, lalu wajahnya mendadak muram.

"Berlutut."

Gantari tertegun.

"Aku bilang berlutut!" Suara Garwita terdengar dingin. "Kenapa? Baru beberapa hari menjadi selir agung, kamu sudah lupa tata krama?"

Gantari hening sejenak, lalu perlahan berlutut.

Garwita berjalan ke hadapannya dan menatapnya dari atas dengan angkuh. "Gantari, kamu menyulam jubah ini dengan begitu indah, apa kamu berharap Yang Mulia mengingatmu setiap melihat jubah ini, lalu lebih sering mendatangi istanamu?"

Dia terkekeh dingin. "Aku beri tahu kamu, jangan mimpi! Sejak awal, orang yang dicintai Yang Mulia hanya aku. Kamu tahu sendiri seberapa baik dia padaku dulu. Menikah denganmu hanya perisai untuk melindungiku. Begitu naik takhta, orang pertama yang dia mahkotai sebagai permaisuri adalah aku, sedangkan kamu hanya seorang selir agung. Apa kamu masih belum sadar diri?"

Gantari menunduk. "Saya tidak bermaksud begitu."

"Nggak bermaksud begitu?" Garwita mengulurkan tangan dan mengangkat dagu Gantari. "Bagiku, kamu memang bermaksud begitu."

Garwita melepaskan genggamannya, lalu berseru kepada para pelayan, "Kemari! Selir Agung telah melanggar tata krama, menyimpan rasa dendam, dan berniat jahat. Tahan dia dan cambuk dua puluh kali dengan papan kayu! Jadikan ini sebagai peringatan!"

Para pelayan saling pandang, tidak berani bergerak. Meskipun kaisar telah mengangkat permaisuri baru, terhadap selir agung ... kaisar tampaknya tidak sepenuhnya tega. Jika mereka benar-benar memukulnya ....

"Kenapa?" Suara Garwita makin tajam. "Apa perkataanku sebagai permaisuri tidak ada harganya lagi? Coba kalian pikirkan baik-baik, siapa yang sebenarnya dicintai Yang Mulia. Kalian yakin ingin menentangku demi wanita ini?"

Ancaman dalam perkataan itu terasa sangat jelas. Para pelayan gemetar ketakutan dan tidak berani menunda lagi. Mereka maju dan menahan tubuh Gantari.

"Yang Mulia!" Tisna sangat terkejut. Dia mencoba menerobos masuk untuk melindungi majikannya, tetapi tubuhnya ditahan erat oleh pelayan wanita lainnya.

Gantari dipaksa telungkup di atas lantai batu yang dingin. Papan kayu menghantam punggungnya dengan keras, menimbulkan suara dentuman tumpul yang terdengar sangat jelas di aula yang luas itu.

Pukulan pertama mendatangkan rasa sakit yang luar biasa. Dia mengerang pelan dan menggigit bibirnya.

Pukulan kedua, ketiga ... rasa sakit yang bertumpuk-tumpuk membuat keringat dingin menetes dari dahinya, dan wajahnya memucat dengan cepat.

Dia menatap tekstur batu dingin di lantai, hanya satu pikiran yang tersisa di benaknya. Tahan sedikit lagi, tinggal lima hari lagi ....

Jiwan, tunggu aku lima hari lagi ....

Kesadarannya mulai kabur. Suara dentuman papan kayu dan tangisan Tisna perlahan-lahan menjauh.

Tepat saat dia hampir pingsan sepenuhnya, sebuah teriakan nyaring terdengar dari luar aula. "Hentikan!"

Diikuti oleh suara langkah kaki yang terburu-buru dan terbiasa dia dengar. Ujung jubah berwarna emas terang menerobos pandangannya yang kabur.

Itu Javas.

Dia melangkah dengan cepat ke dalam. Saat melihat pemandangan di dalam, wajahnya seketika menggelap, dan matanya memancarkan kemarahan luar biasa. "Apa-apaan ini?"

Dia maju beberapa langkah, mengibaskan tangannya mengusir pelayan yang mengeksekusi hukuman, lalu membungkuk untuk mengangkat Gantari. Namun, sentuhan tangannya justru menyentuh cairan hangat yang lengket, itu adalah darah yang telah membasahi pakaian istananya yang tipis.

"Gantari!" Suaranya menyiratkan kepanikan dan amarah yang bahkan tidak disadarinya sendiri. "Siapa yang memberi kalian keberanian untuk memukulnya?"

Gantari terlalu kesakitan untuk berbicara, dia hanya mampu membuka kelopak matanya sedikit.

Pada saat itu, Garwita yang duduk di atas mendadak menutupi wajahnya. Suaranya terdengar penuh dengan isakan pilu, "Yang Mulia! Saya yang memerintahkan hukuman untuknya!"

Javas mendadak menengadah menatapnya.

Garwita menangis dengan mata berkaca-kaca, menunjuk ke arah jubah di lantai, lalu terisak. "Dia ... adik saya cemburu karena hamba menduduki posisi permaisuri. Dia secara sembunyi-sembunyi menyembunyikan jarum perak di dalam jubah ini untuk mencelakai saya! Beruntung pelayan saya teliti dan menyadarinya lebih awal. Jika tidak ... saya takut saat ini sudah terluka! Yang Mulia, saya awalnya tidak ingin memperpanjang masalah ini, tetapi saya sekarang adalah permaisuri yang memimpin istana. Jika tindakan jahat seperti ini dibiarkan, bagaimana saya bisa memimpin dan mengatur istana di masa depan?"

Menyembunyikan jarum di dalam jubah?

Javas mengerutkan kening tajam, menatap jubah indah itu. Wajahnya makin kelam saat dia menatap Gantari di pelukannya. "Apakah benar begitu?"

Tisna, pelayan Gantari, akhirnya berhasil melepaskan diri. Dia berlutut dan merangkak ke samping Gantari sambil menangis histeris, "Yang Mulia, mohon periksa kembali! Tidak yang seperti itu! Yang Mulia Selir Agung bergadang semalaman untuk menyelesaikan jubah ini. Setiap tusukan jarum diperiksa dengan teliti, tidak mungkin ada jarum yang tersembunyi! Permaisuri ... Permaisuri sengaja menyusahkan dan mencari-cari kesalahan majikan saya!"

"Tisna! Diam!" Gantari mencoba menghentikannya, tetapi sudah terlambat.

Javas menatap wajah Garwita yang bercucuran air mata, lalu beralih menatap wajah pucat wanita di pelukannya. Tatapan matanya berubah-ubah beberapa kali.

Pada akhirnya, dia melepaskan tangannya yang merangkul Gantari.

"Hanya seorang pelayan, berani-beraninya kamu memfitnah Permaisuri?" Suaranya dingin membeku. "Seret dia keluar, hukum mati dengan pukulan papan!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 26

    Di luar, Darya mendengar pergerakan itu dan mengintip dengan hati-hati. "Yang Mulia? Apa saya perlu mengutus seseorang ...." "Biarkan dia pergi." Dari dalam, terdengar suara Javas yang sangat parau, membawa ketenangan dari jiwa yang telah mati sepenuhnya. "Jangan ada yang menghalanginya. Utus seseorang ... secara rahasia untuk melindungi keluarga mereka meninggalkan Wilayah Dundra menuju tempat yang ingin mereka tuju. Pastikan ... mereka selamat."Mata Darya memerah dan berbicara terisak, "... Baik."Tak ada suara lagi di dalam ruangan.Darya menunggu dalam waktu lama. Rasa cemas di hatinya makin menjadi, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk mendorong celah pintu dan melihat ke dalam.Tampak di atas ranjang, Javas terbaring tenang di sana. Wajahnya memiliki warna pucat kebiruan yang aneh, busa darah merah tua keluar dari sudut bibirnya, matanya terpejam rapat, dan napasnya begitu lemah hingga hampir tak terasa lagi."Yang Mulia!!" Darya hampir pingsan karena terkejut. Dia meran

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 25

    Hari ketujuh, saat petang. Demam tinggi Javas sudah sedikit turun dan kesadarannya telah pulih, hanya saja tubuhnya masih agak lemas. Gantari membawa semangkuk bubur tawar dan melangkah masuk ke kamar.Pria itu tidak menerima bubur tersebut, dia hanya menatap Gantari dengan pandangan berat yang membawa sisa harapan samar terakhir."Waktunya sudah tiba." Gantari meletakkan mangkuk bubur di meja kecil sebelah tangan Javas sambil berkata dengan pelan.Cahaya di mata Javas padam sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hanya menyisakan kegelapan mati."Kamu tetap mau pergi," ucap pria itu, suaranya sangat parau."Ya." Gantari mengangguk tanpa menghindari tatapannya."Kalau aku nggak mengizinkan?" Dia menatap wanita itu bagaikan binatang buas yang melakukan perlawanan terakhir.Gantari menatapnya dalam diam. Wanita itu mengeluarkan belati yang pernah dia tempelkan di lehernya sendiri dari balik lengan baju, lalu meletakkannya di samping mangkuk bubur."Maka yang didapatkan Yang Mulia hanya se

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 24

    Jantung Javas seolah-olah dicengkeram kuat, sangat sakit sampai membuatnya hampir sesak napas.Yang diinginkannya, bukan tindakan patuh dan penuh putus asa wanita itu saat menyetujui penawaran ini.Namun hingga tahap ini, apa lagi yang bisa dia lakukan?"Titah kaisar tidak boleh ditarik kembali." Javas berbalik membelakangi Gantari. Dia tidak menatap Gantari lagi karena takut jika melihat wanita itu sekali lagi, hatinya akan melunak dan hilang kendali.Dalam tujuh hari ini, Javas menghabiskan seluruh kelembutan dan kesabarannya seumur hidupnya.Javas menempatkan Gantari di bangunan paling indah dan nyaman di istana peristirahatan. Seluruh perabotannya, disesuaikan dengan selera wanita itu saat berada di Istana Ayodya dulu.Javas mencari kue-kue paling lezat di wilayah Dundra, serta gaun dan perhiasan paling modern untuk memenuhi kamar Gantari.Javas menemani Gantari makan, meskipun wanita itu hampir tidak menyentuh sendoknya dan hanya menundukkan mata, bagaikan boneka tanpa nyawa.Java

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 23

    Istana peristirahatan dijaga dengan sangat ketat, namun tidak ada seorang pun yang menghentikan Gantari.Langkahnya sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun, dibimbing menuju sebuah paviliun di tepi air.Javas berdiri dengan tangan di belakang punggung di depan jendela, menatap kolam berisi sisa-sisa teratai yang layu. Mendengar suara langkah kaki, dia berbalik perlahan."Kamu akhirnya mau menemuiku," kata Javas, suaranya terdengar agak parau.Gantari berdiri tiga langkah di depannya tanpa menatap Javas. Dia mengangkat ujung gaunnya, lalu berlutut perlahan hingga dahi menyentuh lantai."Hamba memohon kebaikan hati Yang Mulia untuk melepaskan Jiwan."Javas menatap sosok Gantari yang berlutut di lantai. Sikap hormat yang penuh jarak itu, bagaikan duri yang menancap tajam hingga matanya terasa sakit.Dia maju selangkah, hendak membantu Gantari berdiri.Namun, Gantari seolah-olah tersengat panas. Dia mendadak menarik tubuhnya ke belakang untuk menghindari sentuhan pria itu, dan tetap berlu

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 22

    Javas memejamkan matanya. Saat membuka matanya kembali, gelombang dahsyat yang bergolak di matanya perlahan mereda, berubah menjadi kehampaan yang tak berdasar.Pria itu mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat "mundur" kepada para prajurit di sekitarnya.Para prajurit saling pandang, tetapi tidak berani membantah. Mereka mundur dengan cepat dari rumah itu, bagaikan pasang surut air, menyisakan halaman rumah yang berantakan dan udara yang membeku."Baiklah." Suara Javas sangat parau. "Aku nggak akan memaksamu."Tangan Gantari yang memegang belati tetap belum diturunkan, wanita itu menatapnya dengan waspada.Javas menatapnya, melihat kewaspadaan dan jarak yang tidak disembunyikan di mata Gantari, rasa sakit di dadanya telah lama mati."Tapi aku nggak akan menyerah." Dia menatap wanita itu. Dia mengucapkan kata demi kata, seolah bersumpah sekaligus mengutuk, "Gantari, kamu adalah milikku, seumur hidupmu akan tetap begitu. Aku memberimu waktu untuk berpikir dengan jernih.""Tapi sua

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 21

    Tidak pernah mencintai Anda.Kata-kata itu terucap begitu ringan, namun bagaikan belenggu paling berat yang memaku Javas di tempat, hingga tidak mampu bergerak sedikit pun.Javas menatap Gantari. Pria itu menatap wajahnya yang tenang tanpa emosi di bawah sinar bulan, melihat rasa dingin dan ketegasan yang jelas di matanya. Seluruh darah di tubuh Javas seolah-olah membeku menjadi es, lalu seketika bergolak membakar hingga seluruh organ dalamnya terasa melilit kesakitan.Tepat saat pikirannya terguncang hebat dan hampir tidak sanggup berdiri tegak, pintu rumah terdengar berderit terbuka.Jiwan melangkah keluar sambil membawa sebuah lentera, dengan jubah luar tersampir di bahunya. Jelas ia terbangun karena pergerakan di halaman rumah. Melihat dua orang yang sedang berhadapan di sana, keningnya mengerut. Dia melangkah dengan cepat ke samping Gantari, dan dengan sangat alami mengulurkan tangan merangkul bahu wanita itu, lalu menatap Javas dengan tatapan waspada."Gantari, sudah semalam ini,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status