مشاركة

Bab 3

مؤلف: Jaja
Gantari mendadak membuka matanya lebar-lebar.

"Yang Mulia!" Dia berjuang menyangga tubuhnya, jarinya yang dingin mencengkeram sudut jubah pria itu. "Tisna hanya ... hanya terlalu ingin melindungi saya. Saya mohon ... ampuni nyawanya ...."

Javas menunduk menatapnya.

Wajah wanita itu sepucat kertas, sudut bibirnya masih meneteskan darah, dan helai rambut di dahinya basah oleh keringat dingin yang menempel di wajahnya. Dia tampak begitu rapuh dan mengenaskan.

Gantari tidak pernah memohon apa pun padanya. Bahkan ketika dulu dia mempertaruhkan nyawa menahan sabetan pedang untuknya dan hampir tewas, begitu terbangun wanita itu hanya berkata dengan tenang, "Baguslah jika Pangeran tidak apa-apa."

Ini adalah pertama kalinya Gantari menatapnya seperti ini, dengan tatapan penuh permohonan.

Dada Javas mendadak luluh. Dia mengerutkan kening dan baru saja hendak berbicara, "Sudahlah, ampunan nyawa diberikan, tetapi hukuman tetap berlaku." Namun, Garwita mendadak menarik-narik lengan bajunya sambil terisak, "Yang Mulia, jika Anda mengampuninya hari ini, bagaimana saya bisa menegakkan wibawa di istana ini kelak? Orang-orang akan menganggap saya lemah dan bisa ditindas, bahkan seorang pelayan pun berani membangkang. Saya ... lebih baik saya mati saja!"

Saat berbicara, Garwita benar-benar mencoba menabrakkan dirinya ke tiang bangunan di dekatnya.

"Garwita!" Javas dengan cepat menariknya kembali ke dalam pelukannya dan membentak tajam, "Jangan bertindak bodoh!"

Dia menatap Garwita yang menangis tersedu-sedu di pelukannya, lalu menatap Gantari yang terkapar tak berdaya di lantai. Dia memejamkan mata, dan pada akhirnya meneguhkan hatinya.

"Seret keluar, hukum mati dengan pukulan papan!" Suaranya terdengar dingin dan tidak terbantahkan.

Kata-kata dingin itu bagaikan belati beracun yang menghantam tepat di dada Gantari.

"Tidak ... jangan ...!" ucapnya serak. Dia berjuang merangkak mendekat, tetapi Javas menahannya dengan kuat.

"Gantari!" Suara pria itu menyiratkan peringatan dan kesal yang samar. "Dia cuma seorang pelayan! Nanti aku akan memberimu pelayan yang lebih baik!"

"Tidak, Yang Mulia, saya tidak ingin orang lain. Saya hanya ingin Tisna ...!"

"Saya mohon kemurahan hati Yang Mulia! Saya mohon pada Anda!"

Dia terus bersujud dan memohon tanpa henti, tetapi tatapan mata Javas tetap dingin tak tergoyahkan. Seolah-olah sudah bertekad bulat untuk membela Garwita.

Hingga jeritan histeris terdengar dari halaman luar, tubuh Gantari gemetar hebat. Rasa amis darah merebak di tenggorokannya.

"Uhuk!"

Rasa amarah dan kesedihan yang membumbung tinggi, bercampur dengan rasa sakit di punggungnya, membuat Gantari memuntahkan darah segar. Pandangannya seketika gelap gulita, dan dia pingsan tak sadarkan diri.

Saat terbangun kembali, dia sudah berada di atas ranjang Istana Ayodya.

Darya menunggunya di samping ranjang. Melihatnya terbangun, pelayan itu bernapas lega. "Yang Mulia Selir Agung, Anda akhirnya sadar."

Gantari tidak berbicara.

"Yang Mulia Kaisar menyuruh hamba mengantarkan obat untuk Anda dan menyampaikan titah beliau," ujar Darya dengan hati-hati. "Mohon Yang Mulia Selir Agung menjaga sikap di masa mendatang, jangan membuat masalah lagi, dan jangan pernah menyimpan niat jahat terhadap Yang Mulia Permaisuri. Istirahatlah dengan baik di istana. Mengenai pelayan Anda, Tisna ... dia telah dieksekusi sesuai aturan istana dan telah dimakamkan. Yang Mulia Kaisar sangat bijaksana, beliau telah memerintahkan orang untuk memberikan uang santunan kepada keluarganya. Nanti, pelayan baru yang terampil akan diatur untuk melayani Anda."

Setiap kata itu terasa bagaikan paku dingin yang ditancapkan ke telinganya.

Gantari berbaring di sana, matanya menatap kosong ke arah ukiran rumit di langit-langit kelambu ranjang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Darya menunggu sejenak. Melihat tidak ada respons sama sekali, dia tidak bicara lagi. Dia meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil di samping ranjang, lalu membungkuk dan mundur keluar.

Ruangan itu kembali hening.

Gantari memejamkan mata. Air mata menetes melewati sudut matanya dan meresap ke dalam rambutnya.

Beberapa hari berikutnya, Gantari hidup bagaikan boneka tanpa jiwa. Dia meminum obat tepat waktu, mengganti balutan luka, makan, dan tidur.

Luka di punggungnya perlahan-lahan mengering berkat perawatan tabib istana. Namun, luka di hatinya makin membusuk dan bernanah, tidak pernah melihat secercah cahaya pun.

Dia merawat lukanya dengan tenang, dan menunggu dengan tenang pula.

Menunggu hari di mana obat mati suri itu bekerja sepenuhnya.

Hari itu, Darya mendadak datang kembali.

"Yang Mulia Selir Agung, Yang Mulia Kaisar meminta Anda datang ke Istana Margahayu."

Gantari bangkit berdiri dan mengikutinya.

Di tengah jalan, Darya berbisik memberitahunya tentang apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini.

"Yang Mulia Selir Agung, entah siapa yang menyebarkan rumor di luar istana bahwa Permaisuri bertindak semena-mena dan membunuh rakyat jelata dengan sewenang-wenang sehingga tidak pantas menjadi permaisuri. Beberapa hari ini, para pejabat mengajukan petisi meminta Yang Mulia Kaisar untuk memakzulkan Permaisuri."

"Setelah mengetahui hal ini, Permaisuri merasa sangat terpukul dan mencoba gantung diri. Para tabib berjuang semalaman baru bisa menyelamatkan nyawanya."

"Yang Mulia Kaisar sangat murka. Beliau mengumpulkan seluruh orang di istana ke Istana Margahayu dan bersumpah akan mencari orang yang menyebarkan rumor tersebut untuk dihukum mati."

Gantari mendengarkannya dengan hati yang tetap tenang.

Saat tiba di Istana Margahayu, benar saja, orang-orang sudah berlutut memenuhi halaman.

Javas duduk di takhta utama. Garwita bersandar di pelukannya sambil menangis tersedu-sedu.

"Yang Mulia ... saya difitnah ... saya tidak pernah melakukan hal-hal itu ...."

"Aku tahu," bujuk Javas lembut. "Aku pasti akan menyelidikinya sampai tuntas dan mengembalikan nama baikmu."

Dia mendongak dan ketepatan bertatap mata dengan Gantari yang baru saja masuk.

Gerakan tangannya yang sedang mengusap air mata Garwita terhenti sejenak.

Gantari menurunkan pandangannya dan berlutut.

Dia tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu.

Bertahun-tahun menikah, dia telah terluka berkali-kali di hadapannya. Terkena racun, sabetan pedang, hingga tercebur ke air ....

Setiap kali itu terjadi, rasa sakitnya merasuk hingga ke tulang. Tetapi dia tidak pernah meneteskan air mata satu titik pun di depan pria itu.

Sebab pria itu pernah berkata bahwa dia tidak menyukai wanita yang suka menangis. Air mata tidak akan bisa meluluhkan hatinya. Dia hanya akan mengusap air mata wanita yang dicintainya.

Maka dari itu, seberapa sakit pun yang dirasakannya, Gantari hanya bisa menahannya dan menelan semua kerapuhan serta rasa sakit itu bulat-bulat.

Hingga suatu hari, ketika pria itu diserang pembunuh dan dia pasang badan menahan sabetan pedang untuk Javas.

Luka Gantari sangat parah. Saat pedang dicabut, rasa sakit yang menghunjam jantung membuat pandangannya gelap gulita. Keringat dingin membasahi pakaian dalamnya, dan dia benar-benar tidak sanggup menahannya lagi hingga air mata menetes.

Pria itu menunggunya di samping ranjang selama tiga hari tiga malam, hingga matanya cekung.

Saat melihat Gantari meneteskan air mata, pria itu tidak memarahinya. Sebaliknya, dia mengulurkan tangan dan menggunakan ibu jarinya untuk menghapus bekas air mata itu dengan lembut. Suaranya terdengar serak saat bertanya, "Apa sangat sakit?"

Gantari tertegun saat itu, dan pria itu pun tampak tertegun, mungkin teringat akan perkataan yang pernah diucapkannya sendiri dulu.

Namun, pria itu tidak menarik tangannya. Dia justru mengusap Gantari sekali lagi. Gerakannya tampak kaku, tetapi menyiratkan kelembutan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

Sejak saat itu, Gantari merasa hubungan di antara mereka telah berubah.

Pria itu mulai memperlakukannya dengan baik, mengingat kue manis kesukaannya, dan datang menjenguknya saat dia sakit.

Waspada dalam hatinya membunyikan alarm keras. Dia sangat ingin menjelaskan bahwa keberaniannya menahan sabetan pedang bukan karena cinta. Melainkan jika pria itu mati dan gagal naik takhta, dia juga tidak akan mendapatkan kebebasannya. Tidak bisa kembali ke Wilayah Dundra, dan tidak akan pernah bertemu Jiwan lagi.

Beruntung, setelah naik takhta, Garwita datang menemuinya sambil menangis, dan pria itu tetap menikahi Garwita serta mengangkatnya menjadi permaisuri.

Semuanya kembali seperti sedia kala.

Seolah-olah kebaikan yang pernah diberikan kepadanya dulu, hanyalah ilusi belaka.

Gantari berlutut di tengah kerumunan, menunggu dengan tenang.

Hingga saat fajar menyingsing, seseorang menyerahkan bukti-bukti ke hadapan Javas.

"Yang Mulia, sudah terungkap. Dalang di balik penyebaran rumor ini ... adalah Yang Mulia Selir Agung."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 26

    Di luar, Darya mendengar pergerakan itu dan mengintip dengan hati-hati. "Yang Mulia? Apa saya perlu mengutus seseorang ...." "Biarkan dia pergi." Dari dalam, terdengar suara Javas yang sangat parau, membawa ketenangan dari jiwa yang telah mati sepenuhnya. "Jangan ada yang menghalanginya. Utus seseorang ... secara rahasia untuk melindungi keluarga mereka meninggalkan Wilayah Dundra menuju tempat yang ingin mereka tuju. Pastikan ... mereka selamat."Mata Darya memerah dan berbicara terisak, "... Baik."Tak ada suara lagi di dalam ruangan.Darya menunggu dalam waktu lama. Rasa cemas di hatinya makin menjadi, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk mendorong celah pintu dan melihat ke dalam.Tampak di atas ranjang, Javas terbaring tenang di sana. Wajahnya memiliki warna pucat kebiruan yang aneh, busa darah merah tua keluar dari sudut bibirnya, matanya terpejam rapat, dan napasnya begitu lemah hingga hampir tak terasa lagi."Yang Mulia!!" Darya hampir pingsan karena terkejut. Dia meran

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 25

    Hari ketujuh, saat petang. Demam tinggi Javas sudah sedikit turun dan kesadarannya telah pulih, hanya saja tubuhnya masih agak lemas. Gantari membawa semangkuk bubur tawar dan melangkah masuk ke kamar.Pria itu tidak menerima bubur tersebut, dia hanya menatap Gantari dengan pandangan berat yang membawa sisa harapan samar terakhir."Waktunya sudah tiba." Gantari meletakkan mangkuk bubur di meja kecil sebelah tangan Javas sambil berkata dengan pelan.Cahaya di mata Javas padam sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hanya menyisakan kegelapan mati."Kamu tetap mau pergi," ucap pria itu, suaranya sangat parau."Ya." Gantari mengangguk tanpa menghindari tatapannya."Kalau aku nggak mengizinkan?" Dia menatap wanita itu bagaikan binatang buas yang melakukan perlawanan terakhir.Gantari menatapnya dalam diam. Wanita itu mengeluarkan belati yang pernah dia tempelkan di lehernya sendiri dari balik lengan baju, lalu meletakkannya di samping mangkuk bubur."Maka yang didapatkan Yang Mulia hanya se

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 24

    Jantung Javas seolah-olah dicengkeram kuat, sangat sakit sampai membuatnya hampir sesak napas.Yang diinginkannya, bukan tindakan patuh dan penuh putus asa wanita itu saat menyetujui penawaran ini.Namun hingga tahap ini, apa lagi yang bisa dia lakukan?"Titah kaisar tidak boleh ditarik kembali." Javas berbalik membelakangi Gantari. Dia tidak menatap Gantari lagi karena takut jika melihat wanita itu sekali lagi, hatinya akan melunak dan hilang kendali.Dalam tujuh hari ini, Javas menghabiskan seluruh kelembutan dan kesabarannya seumur hidupnya.Javas menempatkan Gantari di bangunan paling indah dan nyaman di istana peristirahatan. Seluruh perabotannya, disesuaikan dengan selera wanita itu saat berada di Istana Ayodya dulu.Javas mencari kue-kue paling lezat di wilayah Dundra, serta gaun dan perhiasan paling modern untuk memenuhi kamar Gantari.Javas menemani Gantari makan, meskipun wanita itu hampir tidak menyentuh sendoknya dan hanya menundukkan mata, bagaikan boneka tanpa nyawa.Java

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 23

    Istana peristirahatan dijaga dengan sangat ketat, namun tidak ada seorang pun yang menghentikan Gantari.Langkahnya sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun, dibimbing menuju sebuah paviliun di tepi air.Javas berdiri dengan tangan di belakang punggung di depan jendela, menatap kolam berisi sisa-sisa teratai yang layu. Mendengar suara langkah kaki, dia berbalik perlahan."Kamu akhirnya mau menemuiku," kata Javas, suaranya terdengar agak parau.Gantari berdiri tiga langkah di depannya tanpa menatap Javas. Dia mengangkat ujung gaunnya, lalu berlutut perlahan hingga dahi menyentuh lantai."Hamba memohon kebaikan hati Yang Mulia untuk melepaskan Jiwan."Javas menatap sosok Gantari yang berlutut di lantai. Sikap hormat yang penuh jarak itu, bagaikan duri yang menancap tajam hingga matanya terasa sakit.Dia maju selangkah, hendak membantu Gantari berdiri.Namun, Gantari seolah-olah tersengat panas. Dia mendadak menarik tubuhnya ke belakang untuk menghindari sentuhan pria itu, dan tetap berlu

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 22

    Javas memejamkan matanya. Saat membuka matanya kembali, gelombang dahsyat yang bergolak di matanya perlahan mereda, berubah menjadi kehampaan yang tak berdasar.Pria itu mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat "mundur" kepada para prajurit di sekitarnya.Para prajurit saling pandang, tetapi tidak berani membantah. Mereka mundur dengan cepat dari rumah itu, bagaikan pasang surut air, menyisakan halaman rumah yang berantakan dan udara yang membeku."Baiklah." Suara Javas sangat parau. "Aku nggak akan memaksamu."Tangan Gantari yang memegang belati tetap belum diturunkan, wanita itu menatapnya dengan waspada.Javas menatapnya, melihat kewaspadaan dan jarak yang tidak disembunyikan di mata Gantari, rasa sakit di dadanya telah lama mati."Tapi aku nggak akan menyerah." Dia menatap wanita itu. Dia mengucapkan kata demi kata, seolah bersumpah sekaligus mengutuk, "Gantari, kamu adalah milikku, seumur hidupmu akan tetap begitu. Aku memberimu waktu untuk berpikir dengan jernih.""Tapi sua

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 21

    Tidak pernah mencintai Anda.Kata-kata itu terucap begitu ringan, namun bagaikan belenggu paling berat yang memaku Javas di tempat, hingga tidak mampu bergerak sedikit pun.Javas menatap Gantari. Pria itu menatap wajahnya yang tenang tanpa emosi di bawah sinar bulan, melihat rasa dingin dan ketegasan yang jelas di matanya. Seluruh darah di tubuh Javas seolah-olah membeku menjadi es, lalu seketika bergolak membakar hingga seluruh organ dalamnya terasa melilit kesakitan.Tepat saat pikirannya terguncang hebat dan hampir tidak sanggup berdiri tegak, pintu rumah terdengar berderit terbuka.Jiwan melangkah keluar sambil membawa sebuah lentera, dengan jubah luar tersampir di bahunya. Jelas ia terbangun karena pergerakan di halaman rumah. Melihat dua orang yang sedang berhadapan di sana, keningnya mengerut. Dia melangkah dengan cepat ke samping Gantari, dan dengan sangat alami mengulurkan tangan merangkul bahu wanita itu, lalu menatap Javas dengan tatapan waspada."Gantari, sudah semalam ini,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status