مشاركة

Hati yang Tak Bergeming
Hati yang Tak Bergeming
مؤلف: Jaja

Bab 1

مؤلف: Jaja
Pria itu mengenakan jubah agung berwarna emas terang. Perawakannya tegap, tatapannya dingin. Berdiri di tengah aula, dia tampak seperti pohon pinus di tengah salju, berwibawa sekaligus asing.

"Gantari," ucapnya dengan suara berat. "Apa kamu keberatan dengan keputusanku ini?"

Gantari bergegas berdiri dan memberi hormat. "Saya tidak keberatan. Keputusan Yang Mulia mengangkat Kakak sebagai permaisuri adalah tindakan yang bijaksana. Saya ... tidak keberatan sama sekali."

Javas mengerutkan kening menatap wajah tenang itu.

Pria itu mengira ketenangan Gantari beberapa hari ini hanyalah taktik agar dia datang membujuk Gantari secara langsung. Begitu dia datang dan bertanya, wanita itu pasti akan menangis, merasa terintimidasi, lalu mengamuk.

Setelah itu, dia tinggal memberikan beberapa hadiah dan berkata dengan tegas, "Hari saat aku menikahimu, aku sudah bilang bahwa hatiku hanya milik Garwita. Aku bisa memberimu kemewahan dan kekayaan, tapi tidak dengan cinta. Posisi permaisuri hanya untuk wanita yang kucintai."

Dengan ketegasan dan kemurahan hati seperti itu, masalah ini harusnya selesai.

Namun, wanita ini ternyata benar-benar tidak peduli. Padahal, sikap berserah diri seperti ini sangat bagus. Tidak menimbulkan masalah dan menandakan Gantari benar-benar menanamkan ucapannya dulu ke dalam hati tanpa berani berharap lebih.

Akan tetapi, melihat sikap acuh tak acuh itu, dada Javas justru terasa sesak.

"Yang Mulia, Hamba membawa barang-barangnya," ucap Kepala Kasim Istana, Darya Bagawanta. Dia melangkah masuk memimpin rombongan pelayan yang membawa kotak-kotak berbalut sutra.

Kotak itu dibuka, memperlihatkan bulu rubah salju kualitas terbaik, putih bersih tanpa noda sedikit pun.

Bulu ini didapatkan Javas saat berburu beberapa hari lalu. Awalnya, dia berniat memberikannya kepada Gantari sebagai kompensasi.

Namun, melihat sikap Gantari saat ini, dia mendadak bingung harus berkata apa.

Sudahlah.

Berikan saja hadiahnya, lalu pergi.

Baru saja dia hendak berbicara, Gantari sudah mendahuluinya.

"Bulu-bulu ini indah sekali." Gantari menatap bulu rubah salju itu dengan tatapan kagum, tetapi tanpa binar kejutan. "Ini hasil buruan Yang Mulia beberapa hari lalu, ‘kan? Apa Yang Mulia membawanya ke sini agar saya menjahitkan bulu-bulu ini menjadi jubah hangat untuk Kakak?"

Rasa tidak nyaman di dada Javas makin menjadi-jadi. "Kenapa kamu nggak berpikir ... kalau ini hadiah dariku langsung untukmu?"

Gantari bergegas berlutut dengan cemas. "Ampuni saya Yang Mulia, saya tidak berani punya rasa percaya diri seperti itu. Yang Mulia pernah berkata bahwa cinta Anda hanya milik Kakak. Usaha keras Anda berburu rubah salju yang langka ini pasti demi Kakak. Saya ... tidak berani sembarangan menebak keinginan Anda."

Darya hendak meluruskan. "Yang Mulia Selir Agung, sebenarnya ini sengaja dibuat oleh ...."

"Darya," potong Javas dengan suara tajam.

Darya seketika bungkam.

Javas menatap Gantari yang berlutut di lantai. Api amarah tanpa sebab di dadanya, berkobar makin hebat.

"Kalau begitu," ucapnya dingin. "Selesaikan dalam waktu satu hari. Udara belakangan ini makin dingin, dan permaisuri memiliki tubuh yang lemah. Dia tidak boleh kedinginan."

"Saya siap menjalankan perintah," jawab Gantari sambil menunduk.

Melihat kepatuhan itu, amarah Javas makin meluap. Dia mengibaskan lengannya, berbalik, lalu melangkah dengan lebar meninggalkan Istana Ayodya.

Gantari bangkit berdiri. Dia menatap punggung pria itu dengan sedikit kebingungan, tetapi dengan cepat kembali tenang. Dia memanggil pelayannya, Tisna. "Ambilkan jarum dan benang."

"Baik, Yang Mulia."

Setelah Tisna membawakan peralatan jahit, Gantari duduk di samping jendela dan mulai menjahit jubah hangat tersebut. Cahaya matahari menerobos masuk, jatuh di atas jari lentiknya. Jari itu bergerak lincah dan mahir menuntun benang.

"Yang Mulia," panggil Tisna pelan. "Apakah Anda ... benar-benar tidak sedih?"

Gerakan tangan Gantari terhenti sejenak. Dia tersenyum tipis. Senyuman yang sangat samar, tetapi secantik es yang baru mencair. Sebuah keindahan yang memikat hati.

"Sedih?" bisik Gantari. "Untuk apa sedih?"

Lima hari lagi, obat mati suri di dalam tubuhnya akan bekerja. Dia akan bisa meninggalkan istana ini dan bebas dari Javas sepenuhnya. Dia akan pergi ke Wilayah Dundra untuk menemui pria yang benar-benar dicintainya.

Gantari dan Garwita adalah saudara seayah dari kediaman perdana menteri. Namun, Gantari adalah anak dari selir. Karena fisiknya yang lemah sejak kecil, dia dikirim ke Wilayah Dundra untuk dibesarkan oleh neneknya.

Di Wilayah Dundra, dia bertemu dengan Jiwan Laksana. Jiwan adalah putra dari Gubernur Wilayah Dundra, seorang pemuda yang lembut dan sangat berbakat. Mereka tumbuh bersama, membaca buku, menikmati bunga, dan memandangi gerimis Wilayah Dundra bersama-sama.

Pemuda itu pernah menggenggam tangannya dan berjanji, "Gantari, setelah kamu berumur lima belas tahun dan melewati pesta kedewasaan, aku akan menikahimu."

Pipi Gantari merona merah saat itu. "Baiklah."

Namun, tepat di hari usianya genap lima belas tahun, saat Keluarga Laksana bersiap melamar, ayahnya mendadak mengutus orang untuk membawanya pulang ke ibu kota. Dia dipaksa menikah dengan Pangeran Ketiga, Javas.

Sebab saat itu sedang terjadi perebutan takhta di antara sembilan pangeran. Kaisar menganugerahkan putri dari pejabat tinggi kepada setiap pangeran sebagai istri sah. Dan yang dijodohkan dengan Javas adalah putri dari Kediaman Perdana Menteri.

Javas menyukai kakak perempuan Gantari, Garwita. Namun, dia tahu betapa berbahayanya situasi saat itu. Menikahi Garwita sama saja menyeret wanita itu ke dalam bahaya. Jadi, ketika mengetahui ada adik Garwita yang juga anak selir, yang dibesarkan di Wilayah Dundra, dia meminta Gantari.

Gantari menolak. Namun, ayahnya mengancam menggunakan nyawa Jiwan. "Kalau kamu menolak menikah, aku akan membuat seluruh Keluarga Laksana dihukum mati!"

Pada akhirnya, ayahnya berjanji, "Setelah Pangeran Ketiga naik takhta, aku akan memberimu obat mati suri. Saat kamu 'meninggal', kamu bisa meninggalkan istana dan menemui Jiwan."

Gantari menyetujuinya. Dia pun menikah dengan Javas.

Setelah menikah, kehidupan memang penuh bahaya. Pembunuhan, racun, dan jebakan. Gantari terluka berkali-kali dan keracunan berulang kali. Namun, dia tidak pernah mengeluh. Dia mengurus rumah tangga pangeran dengan rapi dan menjadi pendukung yang sempurna.

Ketika Javas terluka dan membutuhkan obat langka, dia mempertaruhkan nyawa untuk mencari obatnya. Ketika Javas dijebak oleh musuh politiknya, Gantari melindunginya menahan sabetan pedang.

Entah sejak kapan, rumor mulai beredar di kediaman pangeran, bahwa Istri Pangeran Ketiga sangat mencintai suaminya.

Gantari tidak repot-repot menjelaskan. Dia hanya ingin berjuang sekuat tenaga membantu Javas naik takhta agar dia sendiri bisa segera menemui Jiwan.

Kini, semuanya telah berakhir. Javas telah menjadi kaisar. Garwita telah diangkat menjadi permaisuri. Dan dua hari lalu, dia sudah meminum obat mati suri itu.

Obat itu membutuhkan waktu tujuh hari untuk bereaksi penuh.

Sekarang, tersisa lima hari lagi.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 26

    Di luar, Darya mendengar pergerakan itu dan mengintip dengan hati-hati. "Yang Mulia? Apa saya perlu mengutus seseorang ...." "Biarkan dia pergi." Dari dalam, terdengar suara Javas yang sangat parau, membawa ketenangan dari jiwa yang telah mati sepenuhnya. "Jangan ada yang menghalanginya. Utus seseorang ... secara rahasia untuk melindungi keluarga mereka meninggalkan Wilayah Dundra menuju tempat yang ingin mereka tuju. Pastikan ... mereka selamat."Mata Darya memerah dan berbicara terisak, "... Baik."Tak ada suara lagi di dalam ruangan.Darya menunggu dalam waktu lama. Rasa cemas di hatinya makin menjadi, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk mendorong celah pintu dan melihat ke dalam.Tampak di atas ranjang, Javas terbaring tenang di sana. Wajahnya memiliki warna pucat kebiruan yang aneh, busa darah merah tua keluar dari sudut bibirnya, matanya terpejam rapat, dan napasnya begitu lemah hingga hampir tak terasa lagi."Yang Mulia!!" Darya hampir pingsan karena terkejut. Dia meran

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 25

    Hari ketujuh, saat petang. Demam tinggi Javas sudah sedikit turun dan kesadarannya telah pulih, hanya saja tubuhnya masih agak lemas. Gantari membawa semangkuk bubur tawar dan melangkah masuk ke kamar.Pria itu tidak menerima bubur tersebut, dia hanya menatap Gantari dengan pandangan berat yang membawa sisa harapan samar terakhir."Waktunya sudah tiba." Gantari meletakkan mangkuk bubur di meja kecil sebelah tangan Javas sambil berkata dengan pelan.Cahaya di mata Javas padam sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hanya menyisakan kegelapan mati."Kamu tetap mau pergi," ucap pria itu, suaranya sangat parau."Ya." Gantari mengangguk tanpa menghindari tatapannya."Kalau aku nggak mengizinkan?" Dia menatap wanita itu bagaikan binatang buas yang melakukan perlawanan terakhir.Gantari menatapnya dalam diam. Wanita itu mengeluarkan belati yang pernah dia tempelkan di lehernya sendiri dari balik lengan baju, lalu meletakkannya di samping mangkuk bubur."Maka yang didapatkan Yang Mulia hanya se

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 24

    Jantung Javas seolah-olah dicengkeram kuat, sangat sakit sampai membuatnya hampir sesak napas.Yang diinginkannya, bukan tindakan patuh dan penuh putus asa wanita itu saat menyetujui penawaran ini.Namun hingga tahap ini, apa lagi yang bisa dia lakukan?"Titah kaisar tidak boleh ditarik kembali." Javas berbalik membelakangi Gantari. Dia tidak menatap Gantari lagi karena takut jika melihat wanita itu sekali lagi, hatinya akan melunak dan hilang kendali.Dalam tujuh hari ini, Javas menghabiskan seluruh kelembutan dan kesabarannya seumur hidupnya.Javas menempatkan Gantari di bangunan paling indah dan nyaman di istana peristirahatan. Seluruh perabotannya, disesuaikan dengan selera wanita itu saat berada di Istana Ayodya dulu.Javas mencari kue-kue paling lezat di wilayah Dundra, serta gaun dan perhiasan paling modern untuk memenuhi kamar Gantari.Javas menemani Gantari makan, meskipun wanita itu hampir tidak menyentuh sendoknya dan hanya menundukkan mata, bagaikan boneka tanpa nyawa.Java

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 23

    Istana peristirahatan dijaga dengan sangat ketat, namun tidak ada seorang pun yang menghentikan Gantari.Langkahnya sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun, dibimbing menuju sebuah paviliun di tepi air.Javas berdiri dengan tangan di belakang punggung di depan jendela, menatap kolam berisi sisa-sisa teratai yang layu. Mendengar suara langkah kaki, dia berbalik perlahan."Kamu akhirnya mau menemuiku," kata Javas, suaranya terdengar agak parau.Gantari berdiri tiga langkah di depannya tanpa menatap Javas. Dia mengangkat ujung gaunnya, lalu berlutut perlahan hingga dahi menyentuh lantai."Hamba memohon kebaikan hati Yang Mulia untuk melepaskan Jiwan."Javas menatap sosok Gantari yang berlutut di lantai. Sikap hormat yang penuh jarak itu, bagaikan duri yang menancap tajam hingga matanya terasa sakit.Dia maju selangkah, hendak membantu Gantari berdiri.Namun, Gantari seolah-olah tersengat panas. Dia mendadak menarik tubuhnya ke belakang untuk menghindari sentuhan pria itu, dan tetap berlu

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 22

    Javas memejamkan matanya. Saat membuka matanya kembali, gelombang dahsyat yang bergolak di matanya perlahan mereda, berubah menjadi kehampaan yang tak berdasar.Pria itu mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat "mundur" kepada para prajurit di sekitarnya.Para prajurit saling pandang, tetapi tidak berani membantah. Mereka mundur dengan cepat dari rumah itu, bagaikan pasang surut air, menyisakan halaman rumah yang berantakan dan udara yang membeku."Baiklah." Suara Javas sangat parau. "Aku nggak akan memaksamu."Tangan Gantari yang memegang belati tetap belum diturunkan, wanita itu menatapnya dengan waspada.Javas menatapnya, melihat kewaspadaan dan jarak yang tidak disembunyikan di mata Gantari, rasa sakit di dadanya telah lama mati."Tapi aku nggak akan menyerah." Dia menatap wanita itu. Dia mengucapkan kata demi kata, seolah bersumpah sekaligus mengutuk, "Gantari, kamu adalah milikku, seumur hidupmu akan tetap begitu. Aku memberimu waktu untuk berpikir dengan jernih.""Tapi sua

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 21

    Tidak pernah mencintai Anda.Kata-kata itu terucap begitu ringan, namun bagaikan belenggu paling berat yang memaku Javas di tempat, hingga tidak mampu bergerak sedikit pun.Javas menatap Gantari. Pria itu menatap wajahnya yang tenang tanpa emosi di bawah sinar bulan, melihat rasa dingin dan ketegasan yang jelas di matanya. Seluruh darah di tubuh Javas seolah-olah membeku menjadi es, lalu seketika bergolak membakar hingga seluruh organ dalamnya terasa melilit kesakitan.Tepat saat pikirannya terguncang hebat dan hampir tidak sanggup berdiri tegak, pintu rumah terdengar berderit terbuka.Jiwan melangkah keluar sambil membawa sebuah lentera, dengan jubah luar tersampir di bahunya. Jelas ia terbangun karena pergerakan di halaman rumah. Melihat dua orang yang sedang berhadapan di sana, keningnya mengerut. Dia melangkah dengan cepat ke samping Gantari, dan dengan sangat alami mengulurkan tangan merangkul bahu wanita itu, lalu menatap Javas dengan tatapan waspada."Gantari, sudah semalam ini,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status