تسجيل الدخول
Di luar, Darya mendengar pergerakan itu dan mengintip dengan hati-hati. "Yang Mulia? Apa saya perlu mengutus seseorang ...." "Biarkan dia pergi." Dari dalam, terdengar suara Javas yang sangat parau, membawa ketenangan dari jiwa yang telah mati sepenuhnya. "Jangan ada yang menghalanginya. Utus seseorang ... secara rahasia untuk melindungi keluarga mereka meninggalkan Wilayah Dundra menuju tempat yang ingin mereka tuju. Pastikan ... mereka selamat."Mata Darya memerah dan berbicara terisak, "... Baik."Tak ada suara lagi di dalam ruangan.Darya menunggu dalam waktu lama. Rasa cemas di hatinya makin menjadi, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk mendorong celah pintu dan melihat ke dalam.Tampak di atas ranjang, Javas terbaring tenang di sana. Wajahnya memiliki warna pucat kebiruan yang aneh, busa darah merah tua keluar dari sudut bibirnya, matanya terpejam rapat, dan napasnya begitu lemah hingga hampir tak terasa lagi."Yang Mulia!!" Darya hampir pingsan karena terkejut. Dia meran
Hari ketujuh, saat petang. Demam tinggi Javas sudah sedikit turun dan kesadarannya telah pulih, hanya saja tubuhnya masih agak lemas. Gantari membawa semangkuk bubur tawar dan melangkah masuk ke kamar.Pria itu tidak menerima bubur tersebut, dia hanya menatap Gantari dengan pandangan berat yang membawa sisa harapan samar terakhir."Waktunya sudah tiba." Gantari meletakkan mangkuk bubur di meja kecil sebelah tangan Javas sambil berkata dengan pelan.Cahaya di mata Javas padam sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hanya menyisakan kegelapan mati."Kamu tetap mau pergi," ucap pria itu, suaranya sangat parau."Ya." Gantari mengangguk tanpa menghindari tatapannya."Kalau aku nggak mengizinkan?" Dia menatap wanita itu bagaikan binatang buas yang melakukan perlawanan terakhir.Gantari menatapnya dalam diam. Wanita itu mengeluarkan belati yang pernah dia tempelkan di lehernya sendiri dari balik lengan baju, lalu meletakkannya di samping mangkuk bubur."Maka yang didapatkan Yang Mulia hanya se
Jantung Javas seolah-olah dicengkeram kuat, sangat sakit sampai membuatnya hampir sesak napas.Yang diinginkannya, bukan tindakan patuh dan penuh putus asa wanita itu saat menyetujui penawaran ini.Namun hingga tahap ini, apa lagi yang bisa dia lakukan?"Titah kaisar tidak boleh ditarik kembali." Javas berbalik membelakangi Gantari. Dia tidak menatap Gantari lagi karena takut jika melihat wanita itu sekali lagi, hatinya akan melunak dan hilang kendali.Dalam tujuh hari ini, Javas menghabiskan seluruh kelembutan dan kesabarannya seumur hidupnya.Javas menempatkan Gantari di bangunan paling indah dan nyaman di istana peristirahatan. Seluruh perabotannya, disesuaikan dengan selera wanita itu saat berada di Istana Ayodya dulu.Javas mencari kue-kue paling lezat di wilayah Dundra, serta gaun dan perhiasan paling modern untuk memenuhi kamar Gantari.Javas menemani Gantari makan, meskipun wanita itu hampir tidak menyentuh sendoknya dan hanya menundukkan mata, bagaikan boneka tanpa nyawa.Java
Istana peristirahatan dijaga dengan sangat ketat, namun tidak ada seorang pun yang menghentikan Gantari.Langkahnya sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun, dibimbing menuju sebuah paviliun di tepi air.Javas berdiri dengan tangan di belakang punggung di depan jendela, menatap kolam berisi sisa-sisa teratai yang layu. Mendengar suara langkah kaki, dia berbalik perlahan."Kamu akhirnya mau menemuiku," kata Javas, suaranya terdengar agak parau.Gantari berdiri tiga langkah di depannya tanpa menatap Javas. Dia mengangkat ujung gaunnya, lalu berlutut perlahan hingga dahi menyentuh lantai."Hamba memohon kebaikan hati Yang Mulia untuk melepaskan Jiwan."Javas menatap sosok Gantari yang berlutut di lantai. Sikap hormat yang penuh jarak itu, bagaikan duri yang menancap tajam hingga matanya terasa sakit.Dia maju selangkah, hendak membantu Gantari berdiri.Namun, Gantari seolah-olah tersengat panas. Dia mendadak menarik tubuhnya ke belakang untuk menghindari sentuhan pria itu, dan tetap berlu
Javas memejamkan matanya. Saat membuka matanya kembali, gelombang dahsyat yang bergolak di matanya perlahan mereda, berubah menjadi kehampaan yang tak berdasar.Pria itu mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat "mundur" kepada para prajurit di sekitarnya.Para prajurit saling pandang, tetapi tidak berani membantah. Mereka mundur dengan cepat dari rumah itu, bagaikan pasang surut air, menyisakan halaman rumah yang berantakan dan udara yang membeku."Baiklah." Suara Javas sangat parau. "Aku nggak akan memaksamu."Tangan Gantari yang memegang belati tetap belum diturunkan, wanita itu menatapnya dengan waspada.Javas menatapnya, melihat kewaspadaan dan jarak yang tidak disembunyikan di mata Gantari, rasa sakit di dadanya telah lama mati."Tapi aku nggak akan menyerah." Dia menatap wanita itu. Dia mengucapkan kata demi kata, seolah bersumpah sekaligus mengutuk, "Gantari, kamu adalah milikku, seumur hidupmu akan tetap begitu. Aku memberimu waktu untuk berpikir dengan jernih.""Tapi sua
Tidak pernah mencintai Anda.Kata-kata itu terucap begitu ringan, namun bagaikan belenggu paling berat yang memaku Javas di tempat, hingga tidak mampu bergerak sedikit pun.Javas menatap Gantari. Pria itu menatap wajahnya yang tenang tanpa emosi di bawah sinar bulan, melihat rasa dingin dan ketegasan yang jelas di matanya. Seluruh darah di tubuh Javas seolah-olah membeku menjadi es, lalu seketika bergolak membakar hingga seluruh organ dalamnya terasa melilit kesakitan.Tepat saat pikirannya terguncang hebat dan hampir tidak sanggup berdiri tegak, pintu rumah terdengar berderit terbuka.Jiwan melangkah keluar sambil membawa sebuah lentera, dengan jubah luar tersampir di bahunya. Jelas ia terbangun karena pergerakan di halaman rumah. Melihat dua orang yang sedang berhadapan di sana, keningnya mengerut. Dia melangkah dengan cepat ke samping Gantari, dan dengan sangat alami mengulurkan tangan merangkul bahu wanita itu, lalu menatap Javas dengan tatapan waspada."Gantari, sudah semalam ini,







