"Nenek, semoga Nenek tenang di sana. Maaf karna Tari nggak bisa jengukin Nenek dulu saat ini," gumam Mentari, dadanya terasa sakit untuk sesaat. Masa remajanya tidak pernah menyisakan kenangan manis. Mentari teringat saat usianya masih enam belas tahun di kampung halamannya. Sore itu, hujan deras mengguyur desa ketika seorang pria dewasa—tetangga dekat yang selama ini dianggapnya seperti paman sendiri—menjebaknya di dalam area gudang beras yang sepi. "Mau apa, Paman? Untuk apa Paman ajak Tari kesini?" "Sudah, kamu ikut aja, ngga usah banyak tanya." "Tapi, Paman, Tari harus pulang." Saat itu Mentari ketakutan, dia menangis memohon, tapi pria tua itu malah seperti orang yang sedang kesetanan. Suara gesekan kain yang dipaksa robek, napas berbau alkohol yang berembus menjijikkan di lehernya, serta cengkeraman kasar di kedua pergelangan tangannya masih membakar ingatan Mentari. Saat itu, seolah tidak cukup hanya menangis histeris, menjerit sekuat tenaga sambil menyikut
Terakhir Diperbarui : 2026-09-28 Baca selengkapnya