Dia yang Terluka

Dia yang Terluka

By:  Henny Djayadi   Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.4
Not enough ratings
197Chapters
436.6Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Nadia ingin berbagi kebahagiaan atas kehamilannya pada kedua orang tua dan Nabila saudaranya. Betapa terkejutnya Nadia saat melihat keluarganya bahagia atas kehamilan Nabila yang ia ketahui belum menikah, dan yang lebih mengejutkan lagi lelaki yang menjadi ayah dari anak yang dikandung Nabila adalah Rama suaminya. Talak akhirnya terucap dari bibir Rama. Nadia pergi dalam kekalutan hingga mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia keguguran. Nadia yang merasakannya sakit raga dan hatinya masih harus berhadapan dengan Gio pemilik mobil mewah yang ia tabrak. Dan sebagai ganti rugi yang tak sedikit Gio meminta Nadia menjadi istrinya. Padahal Gio adalah pemilik perusahaan tempat Rama bekerja. Terbesit balas dendam, tapi ternyata menikah dengan Gio bagaikan memasuki neraka dunia yang lain.

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
197 chapters
1. Dua Garis Biru
Sudah tiga bulan Nadia dan Rama menjalani kehidupan berumah tangga. Sederhana, itulah gambaran yang pas bagi pasangan muda ini. Diawali dengan pernikahan yang sederhana, hanya ijab qobul di KUA dilanjutkan dengan jamuan sederhana yang dihadiri oleh keluarga dan tetangga dekat saja. Selain sebagai syukuran juga pegumuman bahwa Nadia dan Rama telah sah sebagai pasangan suami istri. Setelah rangkaian acara telah selesai, Nadia dan Rama dilepas untuk hidup mandiri. Disinilah mereka sekarang, tinggal mengontrak di sebuah rumah petak sederhana.Meskipun berbalut kesederhanaan tetapi Nadia bahagia. Merangkai rencana untuk masa depan mereka, mulai menyisihkan rejeki untuk uang muka KPR, agar tidak hidup mengontrak selamanya, hingga rencana untuk memiliki momongan.Binar bahagia terpancar dari sorot mata Nadia, sudut bibirnya tertarik ke atas hingga membentuk lukisan senyum yang indah. Dipandanginya sebuah benda pipih yang berada di tangannya, sebuah testpack yang d
Read more
2. Talak
Hanya suara tangis Nadia yang terdengar di ruang tamu keluarga Permadi. Rama, Nabila, Permadi dan Yunita hanya diam menyaksikan Nadia menangis. Satu hal yang mereka sadari saat ini adalah bahwa Nadia telah mengetahui apa yang selama ini mereka rahasiakan, pernikahan siri Rama dan Nabila."Kau sudah tahu semuanya?" Yunita bertanya dengan nada sinis.Nadia yang masih menunduk hanya mengangguk pelan. Rasanya sudah tak sanggup lagi untuk bicara. Bibirnya terasa kelu, bahkan mungkin seluruh tubuhnya sudah mati rasa. Dia hanya bisa tergugu meratapi nasib."Dia, kami sudah menikah, hubungan kami halal. Dan saat ini aku sedang mengandung, kami akan memiliki anak," ucap Nabila dengan lembut, lalu melangkah mendekati Nadia dan duduk di sampingnya. "Aku harap kau bisa menerima ini semua, dan memberi ijin pada Mas Rama untuk menikahiku secara resmi, agar saat anak ini lahir nanti  dia bisa mendapat akta lahir dengan nama ayahnya."Nadia m
Read more
3. Masa Iddah
Nadia mengendarai motor maticnya meninggalkan rumah orang tuanya. Rumah yang penuh kenangan dalam hidupnya. Rumah tempat ia tumbuh dari kecil hingga dewasa. Kebersamaannya dengan kedua orang tua dan Nabila kakaknya. Mereka dulu menghabiskan waktu bersama penuh suka cita dan saling menyanyangi. Tetapi kini, di rumah itu juga ia merasakan hidupnya hancur karena sebuah pengkhianatan.Hari ini statusnya telah berubah, dia telah menjadi janda setelah tiga bulan dalam mahligai pernikahan bersama lelaki yang dia cintai. Sebuah pernikahan yang sangat singkat, tetapi untuk apa pernikahan itu dipertahankan jika hanya akan membuat luka semakin menganga di dalam hati.Keluarga yang Nadia anggap akan menjadi tempat baginya kembali disaat-saat sulit, justru merekalah yang mempersulit hidup Nadia. Setelah menikah Nadia langsung diboyong Rama ke rumah kontrakannya. Di balik alasan agar mereka belajar hidup mandiri ternyata alasan utama Nadia meninggalkan rumah kedua orang
Read more
4. Verstek
 Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Nadia diperbolehkan untuk pulang meskipun kakinya belum sembuh sepenuhnya, bahkan untuk berjalan pun dia masih membutuhkan alat bantu jalan. Nadia duduk di tepi brankar, pandangannya kosong menerawang jauh. Nadia bingung akan pulang kemana, jika pulang ke kontrakan kenangan bersama Rama terus menghantui, tapi jika pulang ke rumah orang tuanya ada Nabila kakaknya yang tak lain adalah istri Rama. Nadia menarik nafas dalam-dalam, lalu dia mengetik sebuah pesan dengan ponselnya.Pintu ruangan terbuka, Permadi muncul dari balik pintu memasuki ruang rawat Nadia. Ayah dan anak tersebut saling berpandangan, tampak ada rasa canggung yang membuat suasana menjadi kaku. "Kau sudah siap?" tanya Permadi sambil mendekati putrinya."Untuk?" Nadia yang justru balik bertanya membuat Permadi merasa ada tembok penghalang di antara mereka berdua."Mari pulang!" Permadi segera me
Read more
5. Luka di Atas Duka
Tetangga adalah saudara jauh yang dekat jaraknya. Keberadaannya tidak bisa diabaikan begitu saja, karena saat berada dalam kesulitan, tetangga akan datang lebih dulu dari pada saudara kita yang tinggal jauh. Hal lain yang tidak bisa diabaikan adalah suara mereka, suara yang mungkin akan membuat telinga panas dan hati meradang. Sesumbang apapun suara itu dengan terpaksa harus didengarkan, karena tidak mudah menutup mulut tetangga. Perlu kehati-hatian dan sikap bijak menghadapi tetangga agar tidak menjadi masalah yang lebih besar. Apa yang terjadi di keluarga Permadi tak luput dari perhatian tetangga sekitar. Pernikahan kedua putri Permadi dengan Rama menjadi perbincangan hangat ibu-ibu komplek. Mereka menganggap Nabila sebagai orang ketiga dalam hubungan Nadia dan Rama, bahkan julukan pelakor pun mereka sematkan pada Nabila. Dan simpati pada Nadia mereka tunjukkan dengan menjenguknya saat baru pulang dari rumah sakit. Yunita tidak terima dengan kabar yang bere
Read more
6. Hutang
 Bermesraan dengan suami sendiri adalah hal yang lumrah dan halal. Setelah melangsungkan pernikahannya dengan Rama, Nabila tidak sungkan untuk menunjukkan kemesraannya. Ritual mengantar dan menyambut Rama kerja bukan hanya cium tangan, pipi kanan kiri dan kening, tetapi mereka tak sungkan untuk cium bibir di depan pintu.Nabila bersikap semakin manja dan bagaikan ratu di rumah tersebut. Rama, Permadi, dan Yunita selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan Nadia yang berbalut kata ngidam. Semua harus dituruti dengan alasan agar keturunan Permadi yang akan lahir tidak ngeces. Tak peduli badan lelah pulang kerja atau tengah malam yang gelap, semua dilakukan katanya permintaan bayi yang masih dalam kandungan.Pada awalnya Nadia merasa cemburu setiap menyaksikan kemesraan Nabila dan Rama, tetapi dengan berjalannya waktu semua rasa itu seakan menguap dan lama-lama biasa saja. Tetapi rasa sakit hati karena pengkhianatan itu masih terasa, dan lebi
Read more
7. Tawaran Gio
 Nadia bergegas keluar dari kamarnya lalu mengendarai motor maticnya. Ini adalah untuk pertama kalinya Nadia keluar dengan mengendarai motor sendiri setelah kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu yang lalu. Entah hal penting apa yang membuatnya nekad keluar sendiri tanpa menunggu Hanna seperti biasanya.Rama yang sedianya akan sarapan di ruang makan, tampak cemas memperhatikan Nadia, apalagi Nadia tampak terburu-buru. Rama akhirnya memilih untuk meninggalkan meja makan tanpa menikmati sarapan yang sudah dihidangkan oleh Nabila, bahkan Rama tak sempat berpamitan pada Nabila.Menyaksikan dua orang yang pernah bersatu dalam ikatan pernikahan tampak saling berkejaran, membuat hati Nabila menjadi was-was. Apalagi Rama tidak menghiraukan panggilannya tadi, Rama terus melaju mengejar Nadia yang sudah lebih dahulu keluar. Meskipun saat ini dialah istri sah dan istri satu-satunya Rama, tapi Nabila sadar bahwa Rama masih memendam rasa pada Nadia adikn
Read more
8. Dilema Dia
 Semangkok bakso dengan uap panas yang mengebul, tangan dengan jari-jari lentik menambahkan tiga sendok sambal yang berwarna jingga tampak menggugah selera, ditambahkan lagi saos sambal dan sedikit kecap manis. Setelah diaduk sebentar, Nadia menyantap bakso di depannya. Baru beberapa suap, keringat mulai membasahi dahi Nadia, dan bibirnya tampak kemerahan. Tidak seperti biasanya, semangkok bakso pedas kali ini sama sekali tidak bisa meredakan kegalauan hatinya. Pandangannya beralih pada wadah sambal di depannya, mungkin menambah satu sendok lagi akan terasa meringankan beban pikirannya, tetapi akal sehat Nadia membuatnya mengurungkan niat itu. Mungkin mulutnya masih bisa menikmati rasa super pedas tetapi dia juga harus menjaga kesehatan perutnya agar tidak menimbulkan masalah baru dalam hidupnya yang sudah rumit itu. Perbincangan dengan Gio terus menghantuinya ingatannya. Rasa sesak di dada dan terl
Read more
9. Peringatan Rama
Menjalani pagi hari bersama Gio sungguh berhasil menghancurkan mood Nadia, hingga semua yang telah dia rencanakan menjadi berantakan. Seharusnya hari ini dia mulai membersihkan rumah yang dia kontrak dan sudah bisa menempatinya. Jika sesuai rencana seharusnya kepulangannya ke rumah orang tuanya hari ini hanya untuk berpamitan karena ia akan meninggalkan rumah orang tuanya dan tinggal di kontrakan yang berada di dekat kontrakan Hanna. Belajar untuk bisa hidup mandiri menjadi alasan yang akan dia utarakan di hadapan kedua orang tuanya. Sebuah alasan yang terdengar sangat klise, tetapi hanya itu alasan yang terbaik yang bisa dia sampaikan dari pada harus jujur mengungkapkan alasan yang sebenarnya, yaitu menjauhi keluarga sementara waktu untuk mengobati luka hatinya.  Adzan maghrib telah berkumandang saat motor Nadia memasuki pekarangan rumah orang tuanya. Rama keluar dengan mengenakan sarung berjalan dengan terburu-buru, sepertinya dia aka
Read more
10. Meninggalkan Rumah
Suara tamparan menggema membuat suasana pagi hari di keluarga Permadi menjadi terasa semakin kelam. Sinar matahari yang masuk melalui jendela pun tak mampu membuat cerah suasana, bahkan suara kicau burung yang bersahutan pun seakan-akan menertawakan keluarga Permadi yang selalu dirundung masalah dan tak segera menemukan titik akhir.  Ruang keluarga yang seharusnya menjadi tempat berkumpul dan berbagi cerita penuh bahagia, justru menjadi saksi bagaimana Nadia diperlakukan dengan tidak adil oleh keluarganya.  "Keterlaluan, benar-benar tidak punya perasaan, bagaimana bisa kau menggoda suami kakakmu?" Yunita meluapkan emosinya dengan caci maki dan kata-kata pedas, setelah menampar pipi Nadia. Sedangkan Nadia hanya diam sambil memejamkan matanya menahan rasa nyeri di pipinya, dan seakan mengorek luka lama yang mulai mengering, apa yang dilakukan Yunita membuat sakit di hati Nadia terasa semakin menganga. Read more
DMCA.com Protection Status