MasukDijual kepada pria paling berbahaya di kota demi melunasi utang sang ayah tiri, Eleanor Juliet Hayes tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah menjadi mimpi buruk tanpa akhir. Grayson Oliver Blake, mafia kejam dan tak tersentuh. Menerimanya bukan karena cinta, tetapi karena sebuah alasan yang lebih kelam. Tanpa kelembutan. Tanpa kasih sayang. Hanya kontrak dingin dan tatapan tajam yang menusuk jantung. Namun, di balik semua itu, ada rahasia yang disembunyikan. Ada masa lalu yang gelap, dendam yang belum selesai, dan bahaya yang mengintai dalam diam. Bisakah Eleanor bertahan di dunia Grayson yang penuh darah dan kekuasaan? Atau justru ia akan menjadi titik lemah dari pria yang tak pernah punya hati?
Lihat lebih banyakDi ambang pintu telah berdiri seorang wanita dengan pakaian kurang bahannya, ia menatap sinis dengan bibir menyeringai.
"Mas, kamu tega usir aku yang lagi hamil anak kamu?"
Dian mengiba, berharap masih ada secercah rasa kasihan di hati suaminya, setidaknya untuk calon anak mereka yang saat ini berusia delapan bulan di kandungan."Aku gak peduli, dia bukan anakku, dia anak hasil perselingkuhan kamu sama laki-laki itu, cih! Tak sudi memungut anak haram itu."
Radit murka lalu masuk ke dalam rumah membuat mata Dian membulat seketika lantaran ketidakpedulian suaminya.Radit nampak marah besar, urat-urat di lehernya menonjol, bahkan sebelum pergi ia tega meludahi Dian. Sementara Raya dan ibunya menatap sinis ke arah Dian, mereka tersenyum menyeringai melihat penderitaan wanita hamil itu.
Dada Dian terasa sesak diperlakukan hina oleh suaminya sendiri, suami yang dulu berjanji akan selalu melindungi dan mencintai sepenuh jiwa.
"Silakan pergi, jangan ganggu suamiku lagi!"
Kali ini Raya bicara sembari menyilangkan kedua tangan di dada."Dian, anak haram kayak kamu itu cuma bisa jadi ibu dari anak haram juga."
Indira ikut menimpali, Ibu kandung Raya itu tersenyum sinis."Kalian dengar, saya bukan anak haram. Satu lagi, anak yang saya kandung ini anak biologis Mas Radit," sergah Dian membela diri, "justru anak di dalam kandungan Raya yang entah siapa ayahnya," balas Dian sinis.
"kamu!"
Raya mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan ke arah pipi Dian."Apa? Mau tampar, tampar silakan!"
Dian mengancam, ia sama sekali tak gentar oleh layangan tangan sepupu pengkhianat itu, justru Dian mendekatkan pipinya ke arah Raya untuk menantang emosinya. Wanita itu sudah muak dengan semua keangkuhan mereka.Dian melangkah pergi meninggalkan rumah dan suami yang selama ini menemani, wanita itu berjanji akan mengambil semua hak-haknya, tak mau lagi diinjak-injak oleh mereka, Dian tak boleh terus mengalah, ini saatnya Dian harus bahagia, catatan kelam kehidupan harus berganti dengan catatan kebahagiaan.
Raya adalah sepupu Dian dan Indira adalah adik kandung dari ibunya, tetapi dari dulu mereka tak pernah menyayangi Dian laksana keluarga.
Bahkan saat Nenek Dian masih ada pun wanita malang itu selalu dibedakan oleh mereka. Sementara ibunya lebih memilih menjadi istri kedua laki-laki lain dan meninggalkan Dian, sedangkan ayahnya entah siapa. Ibu kandung Dian melahirkan tanpa ikatan pernikahan dengan lelaki manapun. Membuat hidup Dian terhina dan tak punya harga diri.
Dian berjuang menempuh pendidikan tinggi lalu dipersunting oleh Radit, pemilik perusahaan material bangunan yang memiliki beberapa cabang di negeri ini. Hidup keduanya rukun dan bahagia, tetapi semua berubah saat Raya dan Indira kembali hadir dalam kehidupan Dian.
Nasi sudah menjadi bubur, kebaikan Dian pada Raya dan Indira tak pernah berarti di matanya, mereka bak singa peliharaan yang memangsa tuannya. Kini Dian tak lagi mau dibodohi mereka, pengusiran ini sudah cukup menjadi penghinaan perih yang menghunus jiwanya.
Dengan berat hati Dian melanjutkan perjalanan sambil mengelus perut yang semakin membuncit, berjalan tak memiliki tujuan, seketika bayangan kelam masa kecil berkelebat di benaknya bagaikan slide film yang tengah dipertontonkan."Nek, tadi Dian dikasih sate sama Om Damar," ucapnya dengan mata berbinar.
Dian bahagia karena bisa menikmati makanan mewah bersama-sama dengan orang yang ia sayang.
"Wah, wanginya enak banget," ucap Raya yang tengah asyik menonton TV, ia segera berlari ke arah Dian lalu mengambil satu tusuk sate dan memakannya dengan lahap.
"Raya, aku juga belum makan, kita barengan ih," kata Dian pada Raya saat ia mengambil lagi satu tusuk padahal di tangannya sudah habis satu tusuk.
"Pelit amat sih kamu Dian, timbang makanan begini doang, Ayah sama Bunda aku juga bisa beliin banyak kalau mereka pulang nanti," balas Raya kecil dengan sombongnya.
"Iya kamu ini Dian, begitu saja pelit, barengan lah makan itu."
Nenek menimpali tanpa melihat wajah Dian. Bukannya membela, wanita tua itu pun malah ikut menyalahkannya.Nenek Dian berjalan mendekati mereka yang tengah rebutan sate, lalu Nenek memberikan dua tusuk sate pada Dian, sisanya sang Nenek berikan pada Raya.
"Sudah, kamu dua saja, sisanya buat Raya."
Nenek memberikan sisa sate yang Dian hitung masih delapan tusuk itu pada Raya.Hati Dian kecil sangat sedih, padahal Om Damar memberikan sate itu untuknya, tapi saat dibawa pulang Dian hanya boleh makan dua tusuk saja.
Dian tak berani melawan meski ia ingin melawan, gadis kecil itu membawa dua tusuk sate dan piring nasi ke dapur, hatinya kian sakit karena selalu dibedakan oleh Nenek.
Dian menyuap nasi dan sate ke dalam mulutnya dengan air mata yang tak mampu terbendung, bukan karena sate yang diberikan kurang, melainkan karena perlakuan sang Nenek yang kerap pilih kasih.
Setiap hari pun Dian tak pernah diberi jajan oleh sang Nenek, sedih rasanya jika waktu istirahat di sekolah semua temannya jajan, sedangkan Dian hanya minum air putih yang dibawa dari rumah menggunakan botol bekas air mineral.
Tapi Dian cukup tahu diri, ia tak pernah meminta uang jajan pada Neneknya saat wanita tua itu memberi uang jajan pada Raya, karena Dian sadar tak memiliki orang tua yang menitipkan uang jajan pada sang Nenek. Kadang sesekali ada orang baik yang memberinya uang sehingga bisa jajan es atau cilok seperti teman lainnya.
"Dian, nih cuci piringnya."
Raya melempar piring plastik bekas makannya ke arah Dian.Sang Nenek hanya melirik sekilas saat Raya memperlakukan Dian bagai pembantu, tak menegurnya atau membelanya. Dian tahu, Neneknya pasti tak berani menegur Raya, karena pasti sang Nenek akan dimarahi habis-habisan oleh Indira. Ibu kandung Indira itu tak berani menegur anak keduanya karena hidupnya ditanggung oleh Indira.
Pembagian raport kenaikan kelas enam masih setengah jam lagi, Dian bermain dengan temannya yang lain, tapi lagi-lagi gadis kecil itu memilih bermain sendiri saat temannya hendak jajan. Malu jika ikut mereka sedangkan Dian tak punya uang, takut disangka celamitan.
"Ma, baksonya enak banget, terima kasih ya sudah belikan Raya sama teman-teman bakso, Mama baik deh."
Sepupu Dian itu bergelayut manja di pundak ibunya. Sementara Dian menoleh ke arah pedagang bakso keliling saat mendengar sumber suara yang tak asing di telinga, ternyata di sana ada Indira yang sedang membelikan Raya dan teman-temannya semangkuk bakso, Raya dan teman-temannya terlihat begitu bahagia."Kok Tante Indira gak beliin aku ya, padahal aku keponakannya sendiri," gumam Dian pelan, hatinya sakit melihat Tante sendiri mentraktir orang lain, sedangkan dirinya tak dihiraukan, padahal Indira melihat Dian mematung seorang diri saat ditinggal teman-temannya jajan tadi.
"Dian, sini!"
Indira memanggil, gadis kecil itu segera berlari ke arahnya yang masih menikmati semangkuk bakso, mungkinkah Dian hanya terlalu terbawa perasaan, pasti Indira kasihan melihat keponakannya tak jajan, wanita itu pasti akan membelikan Dian semangkuk bakso juga. Dengan perasaan bahagia gadis kecil itu menghampiri mereka sambil berlari."Iya Tan, kenapa?" tanya Dian dengan wajah berbinar, berharap Indira akan memesankan bakso untuknya.
"Kamu mau?" tanya Indira, membuat mata Dian semakin berbinar bahagia.
"Iya mau, Tan." Dian mengangguk cepat.
"Nih...." Indira menyodorkan mangkuk yang hanya tersisa kuahnya saja.
"Apa ini, Tan?" tanyanya heran.
"Katanya mau, nih makan."
Indira menaruh mangkuk berisi kuah ke atas tanah, kebetulan mereka makan bakso dengan duduk di atas matras, karena matras itu penuh oleh teman-teman Raya, maka Indira menaruh mangkuknya di atas tanah."Tapi ini tinggal kuahnya saja Tan."
Dian protes sambil menatap mangkuk berisi kuah."Iya memang, tapi kuah juga enak kok, bisa makan kuah bakso saja harusnya kamu bersyukur, jarang kan makan bakso?"
Meski bertanya, tetapi perkataan Indira terdengar seperti ledekan di telinga Dian. Karena rasa lapar yang mendera, terpaksa Dian menerima pemberian dari Indira."I_iya Tan, terima kasih ya," balas Dian lalu melahap kuah bakso, dengan sekuat tenaga menahan air mata agar tak tumpah.
Beeeepp ... beepp....
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Dian tentang kepedihan masa kecilnya bersama dua mahluk berhati iblis. Hampir saja wanita hamil itu terjungkal saking kagetnya.
"Eh Bu, jalan jangan ke tengah-tengah dong, mau mati apa?" hardik pemilik mobil itu.
"I_iya, maaf Pak," jawab Dian dengan perasaan bersalah.
'Ya Allah, aku harus ke mana sekarang?'
Dian bergumam dalam hati sembari menatap langit yang kian gelap, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan."Kenapa Raya dan Tante Indira selalu jahat dan tak pernah bisa melihatku bahagia? Kenapa mereka selalu menghancurkan kebahagiaanku? Aku sudah berjuang keras untuk mendapatkan kebahagiaan dengan bersekolah tinggi dan mendapatkan suami yang mapan, tapi lagi-lagi Raya datang menghancurkan semuanya dengan memfitnahku. Kenapa harus kamu, Raya?"
Dian berbicara sendiri sambil menangis."Mungkin saat ini kita kalah Nak, tapi kita gak boleh menyerah, kita harus membalas semua perbuatan mereka, mereka harus membayar luka masa kecil Mama, juga membayar luka karena telah merebut hak yang seharusnya milikmu."
Dian mengelus perut dengan lembut lalu menatap langit yang kian mendung laksana hati dan kehidupannya.Meskipun perih, tetapi dia yakin akan ada pelangi setelah hujan. Akan ada bahagia setelah air mata, badai akan sirna dan langit cerah akan membentang, wanita dengan perut buncit itu terus memberikan energi positif pada dirinya sendiri untuk tetap bertahan dan bangkit."Lihat saja Raya, jika kamu anggap aku sebagai musuh, mari kita mulai permainan ini dan lihatlah siapa yang akan menangis nantinya."Dian tersenyum sinis membayangkan rencana demi rencana yang akan ia jalankan untuk memberi pelajaran pada Raya dan Indira. Sementara tangannya mengepal kuat hingga uratnya menonjol.Bersambung.
POV EleanorHari demi hari kami lewati dengan penuh bahagia. Dari sebuah pilihan kecil membuat hidup kami begitu harmonis hingga tak terasa kini telah menginjak satu bulan kami tinggal di New Zealand. Grayson bahkan sudah mulai lihai memasak. Dan aku begitu menikmati masakannya yang nyaris jauh lebih enak dariku.Sinar matahari musim semi menyusup melalui jendela kamar, menyentuh kulitku yang mulai pucat. Aku duduk di tepi ranjang, tanganku refleks mengusap perutku yang masih rata, meski aku tahu di dalam sana ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang kecil, rapuh, tapi menjadi alasan baruku untuk hidup.Aku menatap Grayson yang berdiri tak jauh, sibuk membuka tirai sambil menoleh ke arahku. Wajahnya tampak lebih tenang dibandingkan beberapa minggu lalu, tapi aku tahu di balik matanya selalu ada kegelisahan yang tak pernah sepenuhnya pergi.“Gray…” suaraku lirih.Ia segera menoleh, mendekat, lalu duduk di sampingku. &
POV EleanorSetelah menikah kemarin, Grayson tak memberi jedah untuk kami. Grayson mengatakan ingin memberikanku sebuah hadiah pernikahan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ia menutup mataku dan ia membawaku menaiki sebuah jet pribadi yang sudah siap di halaman meski aku bahkan belum mandi pagi itu.Dan saat kami tiba, Grayson membuka penutup mataku. Sontak aku sangat terkejut. Tempat yang terlalu indah, penuh ketenangan.Aku menutup mulut dengan kedua tanganku.“Selamat datang di New Zealand istriku…” ucap Grayson dengan senyum yang begitu mengembang.Air mataku tak bisa tertahan lagi. Haru dan bahagia semakin tak terbendung lagi.“Gray… ahh terima kasih hadiah pernikahannya…” Aku masih menatap keseluruh penjuru dengan perasaan takjub.“Apa kamu menyukai tempat ini?”“Yah! Tentu…” mataku masih berkaca-kaca“Kalau be
POV EleanorUdara sore di luar kapel kecil itu terasa tenang, seolah angin pun menahan napas menyaksikan momen yang akan datang. Kapel tua di atas bukit yang dibelakangnya ada pantai yang indah, jauh dari hiruk pikuk dunia mafia, berdiri sederhana namun anggun. Dinding batu putih yang sudah berlumut tetap berdiri kokoh, sementara cahaya matahari senja menembus kaca patri, memantulkan warna merah dan emas di dalam ruangan.Aku—Eleanor—berdiri di depan cermin tinggi dengan gaun putih cantik nan elegant. Tidak ada kemewahan berlebihan, hanya renda lembut yang membalut tubuhku. Tanganku bergetar saat menyentuh kaca, seolah aku belum percaya bahwa hari ini akhirnya tiba.Suara pelan terdengar di pintu. “Eleanor…” Itu suara Clara. Ia masuk perlahan, mengenakan gaun biru gelap yang anggun. Tatapannya melembut saat melihatku. “Kau terlihat… indah. Bahkan lebih indah daripada yang bisa kubayangkan.”
POV GraysonSetelah rapat dengan Vincent, Clara, dan Damien berakhir, aku duduk sendirian di ruang kerja. Lampu meja menyinari berkas-berkas yang berserakan, tapi pikiranku tak lagi berada pada dokumen atau strategi. Jemariku berhenti di atas layar ponsel. Nomor yang sudah lama tersimpan, tapi jarang sekali kugunakan.Nomor ibuku.Aku menarik napas panjang, menekan tombol panggil. Suara sambungan terdengar, dan detik-detik itu terasa seperti menunggu vonis.“Gray?” suara ibuku akhirnya terdengar, lembut, hangat, tapi juga penuh keheranan. “Hallo sayang... tumben kamu telfon ibu, ada apa sayang?”Aku menutup mata sejenak, mencoba menahan gejolak emosi. “Ibu… aku ingin kau datang besok.”“Besok?” suaranya terdengar bingung. “Untuk apa? Kau jarang mengundangku mendadak seperti ini.” Ada jeda singkat sebelum ia menambahkan dengan nada lebih curiga. “Apakah
POV GraysonPeluruku melesat, menghantam udara dengan kecepatan kilat. Tapi Verena terlalu cepat—dia mendorong Eleanor ke samping, pisau hampir terlepas dari tangannya. Eleanor terhuyung, terjerembab ke lantai marmer yang berlumur debu dan darah.Suara raungan
POV GraysonUdara malam di Liguria menusuk paru-paru seperti belati dingin. Bau garam laut bercampur dengan aroma tanah basah hutan pinus. Aku menempelkan punggung ke batu tebing, tubuhku basah oleh percikan ombak ketika kapal selam perlahan menjauh ke balik kegel
Malam berikutnya datang dengan lebih sunyi daripada sebelumnya. Hanya desiran angin yang menembus celah dinding batu, membawa bau lembap bercampur besi tua. Aku duduk di lantai dingin dengan rantai yang masih membelenggu pergelangan, menatap baut karatan yang sudah menjadi obsesi baruku.H
Udara lembap menusuk tulang saat malam kembali menelan Villa Castel. Aku duduk di atas ranjang sempit berlapis kain tipis, mendengarkan derap langkah penjaga yang menjauh dari koridor. Pintu sel menutup dengan bunyi besi yang kasar, lalu kesunyian menguasai ruang.Inilah saat yang kutunggu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan