Katanya Dan Nyatanya

Katanya Dan Nyatanya

Oleh:  Chanie1001  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
82Bab
24.9KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Kanya di paksa pindah ke sekolah asrama oleh ayahnya, namun hanya satu ruangan yang tersisa. Ruangan yang di tempati Nata, yang katanya gay itu. Mau tidak mau akhirnya Kanya pindah, namun siapa sangka. Katanya yang menyebar tidak sesuai dengan Nyatanya. Nata tidak, gay. Malah dia terobsesi pada lehernya, sering menciumnya dengan paksa. Fakta dari katanya yang lain pun muncul. Qianolah yang sebenarnya pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Namun takdir mengambil perannya. Qiano harus menikahi gadis kekanak - kanakan yang di tidurinya karena kecelakaan. Kisah dari Fajar dan Adisty pun menjadi pelengkap. Katanya dan nyatanya kembali muncul pada kisah dari cicit, cucu mereka yang menjadi pemanis.

Lihat lebih banyak
Katanya Dan Nyatanya Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
82 Bab
1. Katanya, Gay.
     Kanya membuka mulutnya lalu menutupnya kembali, dia kehilangan kata - kata rasanya."Itu hanya rumor! Gosip! Gimana kalau dia engga gay ayah?" lirih Kanya dengan rasa tak percaya, ayahnya tidak terlalu percaya dengan gosip ternyata."Kanya hanya satu tahun setengah, tidak akan lama, kamu hanya perlu ijazah sekolah itu agar bisa masuk ke universitas yang bagus." bujuk Andri dengan setenang mungkin walau sebenarnya dia juga kini tengah cemas.Kanya menelan ludahnya kasar, mencoba kembali mencari kata yang tepat untuk menolak."Di sekolah sekarang Kanya akan berusaha!" yakinnya dengan penuh keseriusan dan tekad. Andri tetap pada keinginannya."Tidak bisa Kanya, hanya sekolah itu yang akan memudahkanmu." tegas Andri.Kanya memijat pelipisnya, kalau sudah begini mau bagaimana lagi, dia tidak bisa menolak."Yaudah! Terserah ayah aja." Ka
Baca selengkapnya
2. Gara - Gara Leher
     Kanya menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan menghela nafas berat. Pelajaran olah raga hari ini begitu melelahkan. Membuat tubuhnya terasa remuk.Kanya melirik kalender yang sebagian angkanya di lingkari spidol merah, tidak terasa sudah 3 minggu dia di sini di temani gosip yang tidak kunjung hilang. Malah gosip yang semakin hangat.Gosip terakhir yang kini berkembang itu semua masih ulah pelaku yang sama yaitu Nata.Kanya mendesah lelah mengingat itu. Sungguh muak dan rasanya ingin mencabik - cabik wajah si pelaku yang begitu santai menanggapi semuanya.Jelas saja semua gosip semakin berkembang, Nata selalu mengikutinya dan jika ada kesempatan dia selalu mengusap leher Kanya dengan tidak tahu tempat. Tentunya tidak sopan juga dan bisa di bilang pelecehan!Kanya akui dia lelah jadi bahan gosip seantero sekolah, telinganya selalu panas rasanya.
Baca selengkapnya
3. Bukan Gay
     Kanya mengusap lehernya dengan masih tersedu - sedu, langkahnya dia bawa masuk ke dalam asrama. Kanya bergegas menaiki kasur lalu menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut dan kembali terisak.Kanya bahkan heran, biasanya kebanyakan orang akan terobsesi pada bibir, ini malah lehernya. Aneh memang dan lebih kesalnya lagi Kanya semakin di buat yakin kalau Nata itu normal!"Bunda Kanya kangen hiks Huwaaa Nata sialan! Brengsek! Gay gila! Bajingan! Pembohong!" raung Kanya seraya menendang - nendang selimut.Nata yang baru masuk mengulum senyum geli, baru kali ini ada orang yang menghujatnya seterang - terangan begini dan lagi bukannya kesal dia malah geli, benar - benar gila! pikir Nata heran sendiri.Nata membuka pintu kamar Kanya, Nata menggeleng pelan. Dasar gadis ceroboh! Bukannya mengunci pintu malah sibuk menangis tidak jelas.Nata meraih Selimut yang sedang di tendang
Baca selengkapnya
4. Nata Vampire
    Kanya mengusap perutnya yang terasa penuh, baru kali ini dia merasa kenyang setelah makan. Biasanya baru tiga suap Kanya berhenti saking malasnya mengunyah, itu terjadi kalau sedang tidak nafsu makan!"Kita kayaknya belum kenalan?" celetuk Fajar membuat Kanya menatapnya dengan senyum canggung."Aku Kanya." kata Kanya pelan, dia tidak bisa ramah pada orang baru. Fajar mengulurkan tangan."Gue Fajar." setelahnya Fajar melempar senyum ramah.Kanya meraih uluran itu lalu melepaskannya dan beralih pada Qiano."Qian.."Kanya mengangguk dengan senyum canggung, Qiano tidak seramah Fajar."Kita dulu sering nginep di tempat Nata tapi semenjak lo ada kita ga ke sana lagi, takut ganggu." jelas Fajar yang membuat Kanya semakin canggung.Ganggu? Memangnya dia dan Nata sibuk apa? Kesannya Kanya selalu menghabiskan waktunya dengan Nata
Baca selengkapnya
5. Liburan
    Kanya merapihkan pakaian ke dalam koper kecil. Memasukkan semua yang di perlukan ke dalam tas gandongnya."Kayaknya udah siap! Ah dompet! Hampir aja, nyawa utama padahal." monolog Kanya seraya meraih dompet di meja belajar."Oke udah beres, keluar harus tanpa Nata!" tambah Kanya dengan penuh tekad.Kanya menyeret kopernya keluar kamar, sebelum kembali melangkah Kanya mengamati keadaan sekitar yang tampak sepi.Kanya melanjutkan langkahnya dengan bersenandung pelan, Kanya membuka pintu keluar lalu menjerit kaget saat melihat Nata berdiri dengan begitu kerennya. Nata kalau sudah tidak pakai seragam begitu terlihat sangat keren. Hitam - hitam, tampan! Ah ralat! Lebih ke seperti malaikat pencabut nyawa! Dumel Kanya."Lama banget, Semua udah jalan duluan.""HA!? Te-terus kita?" Kanya mengedarkan matanya liar. Asrama me
Baca selengkapnya
6. Pulau Untuk Kanya
     Nata tersentak kaget di tidurnya hingga membuatnya terjaga. Mimpinya tentang Kanya membuat Nata gila.Nata dalam mimpi menatap bibir merah alami milik Kanya di tambah kulit mulusnya yang bersinar dalam mimpinya membuatnya semakin gila.Nata mengerang pelan, kadang saat pagi sedang puncak - puncaknya. Tanpa kata Nata pergi ke kamar mandi lalu bersiap menuju ke tempat Kanya.Nata menggeleng tak percaya dengan ke-keboan Kanya, sepertinya gadis itu tidak berniat liburan. Nata menghampiri Kanya lalu menggoncang pelan tubuhnya.Kanya masih tak bergeming, tidak ada cara lain Nata harus melakukan cara yang satu ini. Dengan gemas Nata mencubit hidung Kanya agar gadis itu sulit bernafas."Ha! Aduh ayah!" pekiknya dengan terengah - engah, menghirup oksigen dengan begitu rakusnya."Udah jam 9 pagi, ga mau ke pantai?" tanya Nata dengan begitu santai.

Baca selengkapnya

7. Kamu Milik Aku Kanya.
     Nata meraih kaca mata hitam dan topi hitam di atas kopernya lalu memakainya. Di liriknya Kanya yang tengah mengikat rambutnya. Begitu cantik."Ga usah di iket! Mau aku serang saat di sana nanti?" alis Nata bertaut serius.Kanya menarik lagi ikatannya dengan kesal, mendelik ke arah Nata dengan sebal lalu meraih kasar topi dan kaca mata hitamnya."Udah puas?" tanya Kanya sewot nan jutek.Nata membuka pintu, mempersilahkan Kanya agar segera keluar."Awas aja kalo jelalatan liat bule - bule, aku ga ak—""Ga usah banyak ngomong! Ayo, aku ga sabar liat pulau yang KATANYA punya aku itu." jengkel Kanya, di tambah perutnya sedang sakit karena PMS.Lagian, siapa Nata? Kenapa harus mengaturnya seperti ayahnya saja. Kanya semakin sebal.Nata menutup pintu hotel lalu meraih lengan Kanya."Kamu kalo lagi datang bulan ngomel mulu." keluh Nata
Baca selengkapnya
8. Nata Gelap Mata
    Nata menggendong Kanya lalu meletakannya di atas kasur yang berada di dalam pesawatnya. Nata melirik asisten yang di kirim papanya yang kini berdiri di belakang Nata."Jangan kasih tahu daddy sama mommy kalau gue bawa cewek liburannya, oke?" pinta Nata penuh peringatan."walau acara sekolah tetep aja mereka engga boleh tahu kalau gue berduaan sama ni cewek." lanjutnya."Baik, tuan muda." dengan patuh asistennya menjawab.Nata menyelimuti Kanya yang terlelap, Nata sengaja mencampurkan obat tidur pada minuman Kanya agar Kanya tidak kelelahan selama perjalanan pulang."Lo keluar." usir Nata pada Bima, sang asisten yang sama umurnya dengan Nata."Baik, tuan muda."Setelah kepergian Bima, Nata bergegas Naik, memeluk Kanya dengan posesif. Sampai kapanpun Kanya tidak akan dirinya lepaskan.Nata mencuri ciuman di kening Kanya.Nata me
Baca selengkapnya
9. Pacaran Dengan Si Pemaksa
    Cantik memang tapi wajahnya tak bersahabat, Kanya terlihat sebal. Kanya sebenarnya Malas keluar asrama apalagi malam - malamNamun lagi - lagi karena kekuasaan Nata membuatnya tidak bisa menolak."Bawa jaketnya." Nata melangkah di depan Kanya.Kanya meraih jaketnya dengan tak bertenaga."Mau kemana sih? Besok sekolah." lirih Kanya benar - benar malas bepergian."Makan di luar sayang, berapa kali sih harus di jelasin." Nata masih fokus menalikan sepatunya.Kanya mendengus pelan, Nata masih saja memanggilnya sayang. Membuat telinganya geli!"Di undur bisa? Aku mau tidur aja." pinta Kanya sedikit merengek, wajahnya di tekuk malas."Sebentar sayang, cuma makan." Nata berdiri lalu menghampiri Kanya agar cepat memakai sepatu."Males pake sepatu." kata Kanya mencari alasan agar jangan berangkat."Aku pakein." Nata me
Baca selengkapnya
10. Bertemu Keluarga
    Nata duduk dengan santai, sedangkan Kanya gelisah di sampingnya. Kanya melirik Nata yang sepertinya tidak terganggu dengan Aura Kakaknya yang tengah marah."Nata Giofar, kakak bisa panggil Nata." kata Nata memperkenalkan diri dengan senyum sopan."Giofar?" beo Karel sedikit terkejut. Nata mengulum senyum, untuk pertama kalinya Nata bangga dengan nama belakangnya."Iyah kak, Giofar." senyum Nata kembali terbitkan."Woah! Kamu serius mau sama Kanya?" tanya Karel takjub.Kanya merapatkan kuat - kuat bibirnya saat mendengar itu. Dasar memang rese kakaknya itu."Emangnya kenapa kak? Ada yang salah sama Kanya?" tanya Kanya penuh penekanan."Haha, lucu aja, cewek galak kayak kamu laku dek." kekeh Karel. Karel berganti menatap Nata dengan serius, mengabaikan Kanya yang terlihat akan meledak itu.
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status