Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)

Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)

Oleh:  Rumza  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
19Bab
747Dibaca
Baca
Tambahkan
Report
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Latar cerita tahun 2009 Bandung dulu ... Baru Jakarta ... Senyum dulu ... Baru dibaca ... Begitulah awal surat yang selalu mereka tulis. Percintaan didalam pesantren dengan berbagai macam larangannya, namun masih banyak santri yang melanggar. Di sini bukan tidak ada alat komunikasi canggih, namun para santri dilarang membawa alat komunikasi atau HP. Mereka dididik dengan cara yang berbeda. Terkadang mereka pacaran secara diam-diam, karena jika sampai ketahuan mereka akan dihukum sesuai dengan peraturan yang berlaku di pesantren. Penghianatan, percintaan, persahabatan dan perpisahan yang menguras emosi. Selalu hadir dalam hidup. Cinta segitiga, perasaan ditinggalkan oleh sang kekasih dan harapan yang pupus karena keadaan. Note: Mengandung pembelajaran agama dan kehidupan, ambil positifnya dan jangan ditiru kelakuan negatifnya. Semoga terhibur dan bermanfaat.

Lihat lebih banyak

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

Komen
Tidak ada komentar
19 chapters
Prolog
Assalamu’alaikum Pesantren(Assalamu’alaikum Cinta)  Berawal dari kisah gadis remaja, yang ingin masuk pesantren. Namun, tidak dengan niat yang tulus. Ya, boleh dikatakan tidak tulus karena, niat awalnya ingin kurus. Tidak masuk akal memang tetapi, itulah niat awalnya. Terjebak dalam cinta di Pesantren, di mana yang namanya pesantren melarang akan adanya santriwan/santriwatinya pacaran. Lambat laun menyadari bahwa niat awalnya masuk pesantren adalah salah. Dia merasa bersalah, terhadap orang tuanya dan diri sendiri. Saat biaya tak mampu lagi untuk menanggung, dia diharuskan pindah sekolah, walau para pengajar telah membebaskan biaya untuknya. Namun, orang tuanya telah bertekad untuk memindahkannya dengan alasan 'tak tega jauh dari sang anak'. "Nak ..., maafkan Abah ya. Abah dan Mamak tidak punya cukup biaya
Baca selengkapnya
Awal Mula
06, Juni, 2019Pesantrenyang istimewaDisinilah sebuah kisah bermula. Berkisah tentang percintaan di sebuah pesantren, kenakalan para santri dan bahkan suka dukanya menjadi santri. Santri tidak boleh membawa ataupun memiliki alat komunikasi yang canggih, dilarang untuk pacaran, keluar pesantren tanpa izin dan bertemu lawan jenis kecuali saat ada pembelajaran bersama saja. Namun, masih ada saja beberapa santriwan dan santriwatinya yang bandel. Mereka terus berusaha melanggar peraturan yang sudah di tetapkan oleh pendiri pesantren, baik secara sadar maupun tidak sadar. Ada yang diam-diam pacaran, ada juga yang menyelinap keluar dari pesantren, ada juga yang masih ngeyel membawa hp dan masih banyak lagi kelakuan nakal mereka. Kenakalan anak pesantren memang berbeda dengan anak sekolah pada umumnya. Bagi santri yang ketahuan pacaran, mereka akan dic
Baca selengkapnya
Persiapan Petualangan Part 1
Desir di jiwa dan hati yang tandus, akan terasa basah dikala cinta datang menyapa. Aliran darah seakan memanas saat hati terluka. **Janganlah kalian mencintai makhluk-Nya, melebihi cinta kepada-Nya dan Rasul-Nya.** 🌹🌹🌹 ***"Ikut aku pulang ke kampung saja, siapa tahu bisa mengurangi rasa rindu terhadap keluargamu," katanya sambil tersenyum pada ku. "Kalau dari sini kita bisa pulang dengan berjalan kaki, ya ... walaupun perjalanannya meniti hutan dan lumayan jauh sih. Hitung-hitung, sekalian cuci mata dan wisata ke alam bebas gitu," sambungnya lagi, sambil terus tersenyum ke arahku. "Boleh, kalau kamu tidak keberatan," ucapku sambil tersenyum balik kearahnya. 
Baca selengkapnya
Persiapan Petualangan Part 2
"Baiklah, kalian saya izinkan pulang. Namun, hanya dua hari setelah itu kalian harus segera kembali ke pesantren," kata Ustadzah mengizinkan tapi, tetap ada syarat yang harus kami patuhi. "Baik ustadzah ..., kami akan kembali setelah dua hari," jawab Mila. "Terima kasih ustadzah," ucap kami serempak. ***"Ayo ikut aku!" Lagi-lagi Mila menarik tanganku, sedangkan aku hanya pasrah menuruti kemana langkah kakinya melangkah. Aku hanya diam disamping, sambil terus memperhatikan langkahnya yang cepat. Seakan sedang diburu sesuatu, aku ingin bertanya. Namum, setelah aku mulai memperhatikan arah jalan yang mendekati pondokan santriwan. Kurasa, aku sudah mengetahui maksud dan tujuannya datang kesini. "Assalamu'alaikum, Budi!" Mila bers
Baca selengkapnya
Petualangan Dimulai
Pagi pun menyingsing, sinarnya menyeruak dari ufuk timur. Malam dingin berganti dengan pagi yang hangat. Ayam berkokok saling bersautan, bagai alarm yang setia setiap pagi berbunyi. Membantu orang-orang terbangun dari lelapnya tidur dimalam hari. ***Saat menjelang shalat subuh, kami semua di bangunkan oleh para santri yang berjaga. Gembok di luar pintu pun dibuka, agar kami semua bisa shalat berjamaah di musholla. Saat malam selepas ba'da insya, pintu asrama akan di gembok dari luar dan dibuka lagi menjelang subuh. Begitulah setiap malam. Para santriwan akan berjaga di sekeliling pesantren, menyusuri lorong-lorong asrama yang temaram karena minimnya pencahayaan dan setiap sudut pesantren guna memastikan keadaan sekitar aman. Terkadang mereka juga akan minta dibuatka
Baca selengkapnya
Takjub
**Sungguh indah kuasa-Mu, takjub netra memandang hasil karya luar biasa. Tak' pernah bosan aku bersyukur, sanubari tersenyum bahagia tatkala matahari menyongsong pagi.**   🌹🌹🌹   Kami terus bercerita, tanpa terasa kami sudah separuh jalan. Hutan yang lebat dan sepi, terdengar riuh tatkala kami melintasi nya. Canda tawa kami seakan bergemah didalam hutan.   Saat ini kami sudah melewati hutan yang berganti hamparan sawah yang membentang sejauh mata memandang.   Aku selalu terkagum saat melihat hamparan yang indah ini, mataku seakan dimanjakan dengan pesonanya. Para petani berkumpul di bawah pondok-pondok kecil sambil terus memantau padi mereka.   Burung-burung Pipit beterbangan di atas tanaman padi, bunyi-bunyi
Baca selengkapnya
Perjalanan
**Makan nasi pakai sambal Sambal ditumbuk hingga halus Persahabatan bukan abal-abal Namun, disertai rasa yang tulus** *** Sekitar setengah jam, kami berempat berada di atas perahu. Pasti ada yang nanya 'kenapa berempat ya, bukannya tadi cuma bertiga?' Ya ... berempat, Aku, Mila, Budi dan satu lagi adalah saudara laki-laki Budi. Dia ikut sebab perahu akan dibawa kembali kesawah saat setelah mengantar kami bertiga. Kami berhenti tepat didepan bilah bambu bertiangkan kayu ulin, yang di susun dipinggir sungai, sebagai labuhan untuk perahu yang kami tumpangi. Setela
Baca selengkapnya
Belajar Berenang
"Ayo ... sini nanti kuajarkan berenang!" seru Mila terhadapku yang hanya duduk di bilah bambu yang ada di sungai tersebut. "Tidak mau ah ... aku takut tenggelam, nanti kamu melepaskan genggaman tanganmu lagi," ucapku sambil cengengesan, karena aku sudah tahu apa yang bakalan ia ucapkan. "Memangnya kamu pikir aku gak ada perasaan gitu, memangnya aku tega buat kamu tenggelam di sungai, memangnya aku sekejam itu. Tega ya kamu!" ucapnya sambil cemberut. "Tuh kan, sudah kuduga ocehan anpaedah nya keluar," pikirku sambil menggaruk lengan yang tak gatal. "Terimakasih Mila karena sudah mau jadi sahabatku," gumamku dalam hati sambil tersenyum sangat manis kepadanya. "Kebiasaan ya ... kamu itu suka banget godain aku, kan jadi keluar cerewetnya aku," ucapnya masih cemberut.

Baca selengkapnya

Keliling Desa part 1
Setengah jam berlalu setelah kepergian Mila, aku pun mulai membereskan peralatan mandi yang tadi kami bawa bersama, saat ingin turun ke sungai.Badanku terasa sangat segar setelah berendam begitu lama, penat yang kurasakan tadi tak lagi melanda. Aku mulai menapaki tanjakan yang  dibentuk seperti tangga tersebut, satu-persatu anak tangga kulalui, seolah enggan untuk beranjak dari posisiku yang sekarang. Namun 'tak mungkin juga aku hanya menghabiskan waktu di dalam sungai dan terus menghitung anak tangga. Saat melanjutkan langkahku, diam-diam aku tersenyum, teringat akan pepatah lama 'roda terus berputar' begitu juga dengan yang kualami sekarang. Menapaki anak tangga, seolah kita memulai fase dalam kehidupan. Memulai dari bawah untuk terus menanjak ke atas, selalu berusaha walaupun keadaan tak semudah melalui jalan yang lurus. Kehidupan —, kadang aku berpikir.
Baca selengkapnya
Keliling Desa Part 2
Setelah selesai berkeliling, kami semua mulai menaiki perahu untuk menyeberang ke hulu sungai. Total kami sekarang ada enam orang, sedangkan yang menjalankan perahu adalah Budi. Tak ada wajah ketegangan, yang kulihat hanya wajah bahagia yang terukir indah dalam tatapan netra. Kalau ada yang bertanya keadaanku bagaimana? jawabanya hanya satu kata 'bahagia'. Ya, bahagia itulah yang aku rasakan. Entah mengapa, saat bersentuhan dengan air aku merasa sangat bahagia. Tangan mulai terulur membelai air seiring berjalannya perahu yang kami tumpangi. Membelah sungai, dihari nan cerah matahari seolah berpihak. "Kak Lia! kakakkan tidak bisa berenang, apa tidak takut kalau seumpama perahu terbalik dan kakak akan tenggelam?" tanya Mirna, salah satu adik kelaku di pesantren yang ikut dalam rombongan. "Alhamdulillah tidak takut dek, walaupun kakak tidak bisa berenang," seketika sedikit rasa takut menyelinap dalam sa
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status