ログインCahaya dengan bangga mengatakan kalau dia adalah anak yang sangat beruntung di dunia ini, dia punya ayah ibu yang sangat mencintainya juga otak yang cerdas, dia merasa hidupnya baik-baik saja hingga hari itu. Hari di mana dia pulang kembali ke rumah dengan rasa rindu yang menggunung. Rindu yang kemudian berubah menjadi amarah dan kepedihan. Tidak ada ayah dan ibu yang bercengkrama menunggunya, hanya ada sang ayah dan wanita asing yang menjadi ibu tirinya. Ayahnya berubah tak peduli, ibunya menghilang entah kemana. Dia merasa asing di rumahnya sendiri, apalagi saat sang ayah memperlakukan anak bawaan istri barunya seperti anak kandung menggantikan Cahaya. Hari-hari dia jalani seperti neraka sampai dia tahu, sang ibu menjadi penghuni rumah sakit jiwa...
もっと見るPUK!
Seketika lamunan Prita terbuyarkan. Ia meringis lalu mengusap kepalanya yang baru saja digetok Cici--teman sekelasnya.
"Buruan ambil! Itu 'kan lipstik emak lo." Karena keadaan mendesak Cici terpaksa mendorong tubuh Prita hingga sampai di depan kakak kelas yang terkenal arogan itu.
"Ngapain di sini?" Mata elang pria itu menyorot tajam.
"Mau ngambil itu, Kak--"
Jari Prita menunjuk benda yang sedang diinjak kakak kelasnya. Sumpah demi apa pun, saat ini Prita seperti sedang di ujung jurang yang siap terkena angin kencang lalu terjatuh ke lembah terdalam.
"O," katanya dengan bibir menyimpul. Aksa pria bernama Zain mengikuti arah telunjuk Prita. Ia menemukan benda itu tepat di kakinya.
"Ambil," imbuh Zain lagi.
Perlahan Prita berjongkok dan ....
Set!
Zain menginjaknya hingga penyek kemudian menendangnya ke sembarang arah. Ia tertawa dengan nada menyebalkan. Setelah itu pergi bersama teman-temannya yang lain.
Zain membangunkan jiwa monster Prita. Kini wajah Prita berubah menjadi merah padam. Kupalan asap seolah keluar dari dua buah telinganya. Ubun-ubunnya terasa akan meledak.
Raga Prita kembali kokoh. Kedua tangannya membulat. Gigi merapat dan langkahnya terlihat gagah.
"Woi, Zain! Dasar kakak kelas sialan!"
Tangan Prita yang mengeras menarik pudak Zain dan membenturkan kepalanya tepat pada dahi Zain.
Bruk!
Bekas memar di dahi Zain menjadi awal permusuhan mereka.
***
Semuanya berubah. Ketentraman yang melanda kini sirna. Kepuasaan saat membuat Zain terluka hanyalah sementara. Nasib sebagai siswa yang nyaris tak pernah membuat masalah kini setiap pagi malah masalah itulah yang mengintainya.
Rambut acak-acakkan. Seragam yang susah payah ia setrika, kini dibuat kusut oleh mereka dengan seenaknya. Setiap pagi selalu saja ada yang membuatnya seperti ini.
"Menyebalkan!"
Saat Prita terbangun ia melihat sebuah tangan terulur untuknya. Gontai kepalanya mendongak.
Mulut Prita terbuka lebar. Mendadak bengong dan tak menghiraukan tangan cowok itu yang masih melayang.
"Kamu gak apa-apa?" Suara indahnya membuat mata Prita kembali mengerjap. Kemudian ia menerima tangan cowok itu untuk membantunya berdiri.
Cowok itu mengambil tas yang berada di tong sampah lalu menepuk-nepuknya hingga debu berhasil enyah.
"Ini tasmu." Setelah memberikan barang tersebut pria berpengawakan layaknya model korea itu berlalu begitu saja.
Prita masih tak henti-hentinya menatap dia. Dia yang selama ini ia perhatikan diam-diam.
"Joan?"
Menggaruk kepalanya kemudian berteriak keras di tengah koridor. "Makasih Kak?!"
Sementara itu, setibanya di kelas, Zain mendapat setumpuk hadiah-hadiah dari penggemarnya yang mengusik pandangan matanya.
Sudah hal lumrah setiap pagi ia disuguhkan oleh tumpukan cokelat, bunga dan kado-kado yang lainnya.
Zain yakin cewek-cewek itu mengejarnya karena mereka tahu ia adalah anak dari orang kaya. Sebab Joan juga tak kalah tampan, tetapi kehidupan pribadi Joan tak ada yang tahu kecuali anak PARPATI. Mereka tidak tahu kayak atau tidaknya Joan. Namun, rupa-rupanya sebagian siswi di SMA ini juga diam-diam memberi hadiah manis. Sayangnya tanpa sepengetahuan siapa pun Joan malah menaruh hadiah-hadiah itu di meja Zain.
"Singkirin semuanya! Gue gak mau liat ada sampah lagi di meja gue!"
Hanya dengan petikan jari seisi kelas berebut untuk menunaikan perintah sang bos besar. Mereka berlomba-lomba untuk membersihkannya.
Di sisi lain, Prita sangat bahagia telah ditolong oleh pangeran berkuda. Jujur ini kali pertama ia melihat wajahnya secara dekat. Biasanya ia hanya melihat dari kejauhan.
"Awsh!" Lagi. Cici menghancurkan khayalannyan.
"Pelan-pelan Ci!"
"Maaf Pri. Lagian ada-ada aja sih mereka. Pagi-pagi udah buat jidat orang benjol."
"Salah gue juga si Ci. Tadinya gue mau nyerunduk tuh si Finka, tapi malah dia berhasil menghindar. Alhasil gue nyerunduk tembok dan jidat gue kayak gini."
Cewek belsteran China dengan mata sipit itu tak tahan untuk tidak tertawa. Memang sudah tidak asing dengan jurus andalan Prita. Ia juga dibuat terperanga atas kejadian sekitar minggu kemarin. Saat Prita membenturkan kepalanya pada dahi Zain. Ia melihat ada jiwa lain dalam diri sahabatnya itu.
Zain memang pantas mendapatkan itu. Dia sudah sering berbuat seenaknya pada yang lain. Dari sejak Prita tahu Zain seperti apa, ia sudah tak lagi menyukainya. Bahkan sudah hampir lupa ia pernah menyukai pria berhati iblis itu.
Yang Cici tahu, Prita pernah satu sekolah saat dia duduk di bangku sekolah dasar. Pada saat itu Prita mengaku pernah memberi Zain surat cinta. Namun ditolak mentah-mentah; padahal Zain belum membuka surat tersebut. Dan saat masuk SMA Prita semakin tidak menyukai Zain. Alasannya, karena sikap arogannya tak pernah berubah. Selalu melekat dalam dirinya.
***
Langit biru beralih pada lembayung yang tak kalah jauh lebih indah menghiasi cakrawala. Burung-burug berkicauan nan riang. Bersahutan memberitahu gelap akan segera tiba.
Di dalam ruangan dengan minimnya cahaya Zain mematikan pentung rokoknya lalu memberitahu rencana malam ini jika komplotan ZAGGAR tiba-tiba menyerang. Sebab mereka sering muncul di waktu yang tak terduga.
Geng motor yang diberi nama PARPATI oleh Zain berhasil membuat mereka ditakuti anak klub lain. Kecuali ZAGGAR. Klub yang sering membuat gara-gara dan dicap musuh bebuyutan PARPATI.
"Sialan! Si Danu ngancem kita gaes!" Deo memperlihatkan isi chat dari Danu pada kawan-kawannya.
"Mereka tuh emang gak punya nyali, yo. Beraninya lewat sms aja."
"Keun urang lawan, tenyahoen kalo Jaki teh jawara di kampung."
Zain mengepalkan kedua tangannya. Danu memang paling bisa membangkitkan amarah dalam dirinya.
Zain melempar jaket berlogo singa ke pangkuan Joan yang baru datang.
"Mau kemana?" tanya Joan bingung.
"Beraksi kawan!" sahut Yudi dan Jali hampir bersamaan.
***
Prita melirik ke arah wanita setengah baya yang baru bercibaku dari dapur. Mimik wajahnya mengambarkan wanita itu akan memberi perintah lagi sesaat tadi ia sudah menyuruh ini itu yang mengganggu acara nonton sang putri.
Resti merebut remot dari tangan sang putri begitu saja. Ia melemparkan kunci motor ala tendangan bruclie dan ditangkap dengan sigap oleh Prita secara sepontan.
"Antarkan kue ini ke Pak Jarwo dong, Pri."
Ekspresi Prita berubah kecut. Ia terduduk kembali sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Pasti ibu gak mau ketemu Pak Jarwo, karena ibu sering digombalin 'kan?"
Prita sudah bisa menebak. Pasalnya, laki-laki bernama Jarwo itu memang luar biasa dalam hal merayu. Rayuannya sering kali membuat ibunya mual. Akan tetapi, beberapa janda menganggap Pak Jarwo adalah pria ter-sosweet. Lain dengan yang dirasakan Resti. Wanita itu justru ngeri dan merasa tidak nyaman dirayu oleh laki-laki berstatus duda kaya raya itu.
Dengan wajah so cantik Resti mengangguk mantap. "Antarkan saja."
Desahan lolos dari Prita.
"Lagian masih aja terima order dari aki-aki itu. Seharusnya ibu tolak dong kalau pelanggannya meresahkan."
"Sayang Pri. Rezeki lho, masa ditolak. Ibu 'kan juga butuh uangnya buat lunasin hutang mendiang bapakmu."
Prita juga tak bisa menampik meski sebenarnya ia pun rada kurang suka terhadap laki-laki bernama Jarwo yang terkenal suka merayu perempuan. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Daripada ibunya yang akan kena sasaran. Lebih baik ia rela menggantikan sang ibu. Rela telinganya berbusa mendengarkan rayuan maut dari pria itu asalkan kadar rayuannya masih berbau humor nan menghibur.
Ia mulai membelah jalan di tengah angin malam yang menyapa tubuhnya. Untung saja ia memakai hoode yang berbahan sutera.
Saat Prita melaju di perempatan, ia tampak di datangi segerombol geng motor dari arah kiri yang mengacaukan degup jantunya. Klakson saling bersahutan karena ia dan motornya berhenti memdadak menghalangi jalan mereka.
Sesaat mereka telah menjauh dengan kebisingannya Prita berteriak kencang.
"Sialan lo pada! Ini nih kelakuan anak muda jaman sekarang, bikin meresahkan nyawa orang. Hampir aja gue jantungan!"
Prita kembali menyalakan mesin motornya. Namun, naas ternyata motor tuanya ini mendadak mogok.
"Ahelah! Kenapa musti ngadat sekarang sih? Mana ditengah jalan lagi--"
Telinga Prita kembali dipekikkan oleh suara kendaraan roda dua. Ia menoleh, melihat motor yang melaju cepat ke arah dirinya.
Kiikk!
Sett!
"Budek apa gimana sih, lo?" teriak Zain yang terpaksa mengerem.
Prita mulai membuka kedua telapak tangannya yang mungil. Saat matanya berserobok dengan Zain, ia mendapati aura iblis dari tubuh pria itu. Bibirnya tidak pernah mengeluarkan kata-kata lembut sekalipun.
"Lo gak dengar bunyi klakson gue? Bukannya minggir malah teriak! Pake tutup mata segala lagi. So drama lo!"
Agaknya menahan emosi untuk kali ini itu lebih baik. Sebab jika dirinya terlibat adu mulut lagi akan panjang urusannya. Apalagi di belakang sana ada teman-teman Zain termasuk Joan yang tengah memperhatikan mereka.
"Motor gue mogok!" Prita mendorong motornya ke tepi jalan sebelum itu ia menggertakan gigi pada Zain.
Sembari menggeram Zain kembali naik pada kendarannya. Kemudian melindas kue yang terjatuh di jalan yang ia yakini kue itu milik Prita.
Matanya mencari sesuatu ke jalanan sesaat dirinya tersadar sesuatu yang hilang. Kemudian netranya mendapati kue basah yang susah payah dibuat Resti terbuang percuma. Hancur. Hanya menyisakan bekas lindasan ban motor.
"Kalo dijual bisa dapat dua ratus ribu." Pelupuk mata Prita basah. Air matanya hampir tumpah berceceran. Prita sangat menyayangkan kuenya yang terbuang sia-sia. Menyayangkan waktu dan tenaga ibunya tanpa ada imbalan untuk jeri payahnya.
Mengingat kerja keras sang ibu, air mata Prita berderai begitu saja. Sebab ia juga malah teringat mendiang ayahnya yang sudah meninggal. Mereka berdua adalah panutan dalam mencari nafkah. Bisnis apa pun dilakukan yang penting bisa dapat uang dan Prita jangan sampai putus sekolah.
Prita membayangkan ada lingkaran cahaya di cakrawala yang mendengar doanya.
"Andai lo tahu rasanya jadi gue. Apa lo akan ngeluh dan ingin bertukar hidup dengan orang lain?"
"GUE HARAP LO BISA MERASAKAN APA YANG SELAMA INI GUE ALAMIN!"
Setelah mengucapkan sumpah sakralnya, terdengar jeritan kilat dan petir yang saling menyambar di langit sana.
"Neng ngapain malam-malam di sini? Mau hujan lho." Ibu-ibu dengan anak kecil yang sedang digandengnya berlalu menghindari gerimis yang sudah mulai lebat.
Imajinasinya lenyap seketika. Prita juga ikut berlari sambil mendorong motornya dengan perasaan gamang.
***
“Sudah siang. Bangunlah.” “Pergilahhh… aku masih ngantukkk” Ary menggelengkan kepalanya antara kasihan dan geli melihat sang istri yang kembali memeluk gulingnya erat. “Kamu tidak mau mengecewakan mama bukan.” Kembali Ary berbisik di telinga sang istri, sebenarnya dia tak tega juga melihat sang istri yang baru beberapa jam tidur karena melayaninya, tapi dia tahu Cahaya akan marah kalau dia tak membangunkannya. Entah kenapa dihadapan sang istri, Ary berubah menjadi laki-laki lemah yang gampang luluh, berbeda sekali dengannya saat berhadapan dengan anak buahnya. Apalagi saat tangannya menyentuh perut besar sang istri, dia merasa bisa menukar hidupnya dengan senyum sang istri. “Sayang, ayo mama pasti sudah menunggu,” kembali Ary berbisik di telinga istrinya. Kali ini mata indah itu mengerjap berusaha menghilangkan rasa kantuknya tangannya terangkat ke depan dan Ary tahu apa yang akan dikatakan istrinya. “Gendong.” Kan! “Dasar manja,” kata Ary sambil tertawa tapi tak ayal juga la
Selama hidupnya belum pernah Ary merasakan ketakutan seperti ini. Dia yang dianggap sebagai anjing penjaga yang tak pernah gagal menjalankan tugasnya, nyatanya sekarang harus duduk merosot di depan ruang operasi, merasa gagal menjaga istrinya sendiri. “Den, minum dulu.” Ary mendongak dan simbok berdiri di depannya sambil menyodorkan satu gelas teh hangat padanya. “Minuman ini mungkin bisa membantu, Non Aya butuh aden, jangan sampai ikut sakit.” Wanita tua itu menatap laki-laki muda di depannya dengan prihatin, awalnya dia memang agak kurang setuju saat gadis kecil yang dia asuh harus menikah dengan laki-laki ini, laki-laki yang terkenal dalam dunia malam. Simbok yakin kalau laki-laki seperti itu suka menyakiti istrinya, tapi apa yang dia lihat sekarang menghancurkan keyakinan itu. Ary tampak hancur dan merasa bersalah. “Selama ini insting saya tidak pernah salah, tapi bodohnya hari ini saya mengabaikannya. Kalau saja saya tidak pergi… semuanya tidak akan seperti ini…” Kengeria
“ Akhirnya pintu terbuka juga.”Harusnya suara itu membuatnya senang, tapi kali ini suara itu malah membuatnya takut. Bukankah Ary pernah bilang saat hatimu ragu untuk melakukan suatu hal percayailah instingmu.Kenapa dia tidak bias melupakan pesan suaminya itu. Pegangannya pada gagang pintu menguat, dia berusaha tersenyum pada orang di depannya. “Apa kami tidak dipersilahkan masuk.” “Boleh saja, tapi cuci dan tangan kalian dulu!” Memanfaatkan dua orang tamunya yang tertawa penuh ejekan, Cahaya berusaha menutup kembali pintu rumahnya sayang sekali gerakan mereka sangat terlatih dan cepat. “Tidak sopan menutup pintu saat ada tamu.” Cahaya sempat terdorong saat kedua orang itu merangsek masuk, tapi tentu saja tenaga satu orang wanita sama sekali tak sebanding dengan dua orang laki-laki tinggi besar yang sudah akrab dengan kekerasan.Jam segini perumahan ini sepi orang, kalaupun ada orang dia tak yakin mereka berani membantunya apalagi dengan reputusi Ary seperti itu, dia tak mau
"Kenapa belum pergi? Bukankah kamu bilang ada urusan penting?" Ary mendongak, wajahnya yang memang terbiasa datar itu agak pucat dan resah. Untuk pertama kalinya Cahaya khawatir pada keadaan laki-laki itu. Ary selalu kuat, dia bahkan menyaksikan langsung sang suami yang bertarung melawan beberapa orang juga saat dia harus berhadapan dengan senjata tajam maupun senjata api. Cahaya tak meragukan kemampuan fisik suaminya, itu jugalah yang membuatnya sering memukuli suaminya karena dia tahu pukulannya tak lebih dari gelitikan untuk laki-laki itu. Ary kuat dan cerdas tak dia ragukan lagi, tapi Cahaya juga tidak akan lupa kalau suaminya adalah manusia yang memiliki keterbatasan. "Kamu sakit?" Tanyan Cahaya menyentuh kening sang suami, tapi laki-laki itu malah menggenggam tangannya lembut. "Aku baik-baik saja, harusnya itu pertanyaan untukmu kamu pasti lelah dengan semua yang terjadi" Cahaya tertegun sejenak alu bibirnya tersenyum manis. "Jangan merasa bersalah selama kamu ada di s
"Saya ingin perawatan lengkap dan paling mahal di sini." Tari mengeluarkan segepok uang merah dari dalam tasnya. Dua orang pegawai salon itu berpandangan, lalu dengan sopan berkata, "Maaf, Nona. Pembayaran lebih baik setelah perawatan saja." "Saya tidak perlu menunggu saya punya uang." Keduanya
“Gagal lagi! Bagaimana bisa! Dia hanya wanita manja yang lemah!” “Maaf nona, tapi seseorang membantunya.” “Siapa! Siapa yang berani membantunya bukankah sudah kubilang lakukan saat dia jauh dari Ary!” “Sudah saya lakukan nona, tapi sopir itu-“ “Sopir! Kalian yang aku bayar mahal kalah dengan so
“Ehmmmm kangen banget sama telur gulungnya!” “Non jarang jajan sih sekarang.” “Benar saya yang salah jarang jajan,” kata Cahaya sambil mengangkat bahunya tak acuh. Tentu saja dia tahu ini karena siapa, suaminya yang tukang ngatur itu membuatnya harus rela meninggalkan makanan berlemak, berminy
“Pa, ini tidak adil kenapa papa mengusir mama?” Tari yang sejak tadi pergi kemana tiba-tiba saja dan menatap ayah tirinya dengan tak terima, matanya berkaca-kaca, dia tampak sangat berantakan, entah apa yang terjadi pada gadis itu. “Duduklah,” kata Pak Indra dengan lelah, setelah kepergian semua
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー