Cinta Untuk Suami

Cinta Untuk Suami

Oleh:  Kim YuMi  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
41Bab
2.6KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Yara harus merelakan impiannya untuk menikah dengan pangeran impiannya yang tampan. Karena terpaksa dijodohkan dengan anak dari teman orang tuanya. Tidak akan masalah baginya jika pria itu masih tampan dan muda. Terus apa jadinya kalau dia dinikahkan dengan pria yang bahkan umurnya terpaut empat belas tahun. Dan lagi wajah pria itu semakin terlihat pas-pasan karena ditumbuhi jenggot dan kumis-kumis tipis. Belum lagi sifat pria itu yang pendiam dan berwajah datar seperti tripleks, bahkan terlihat susah bicara saat berhadapan langsung dengan Yara. "Ya Tuhan, beginikah caramu menghukumku atas dosa-dosaku?" Yara "Sungguh dia mirip seperti cacing kepanasan yang tidak bisa diam." Aska

Lihat lebih banyak
Cinta Untuk Suami Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
41 Bab
Bab 1
Baru beberapa meter aku pergi meninggalkan gedung pencakar langit itu, kini suara teriakan heboh dan alunan musik yang sedari tadi mengganggu telingaku tak lagi terdengar, yang aku dengar sekarang hanyalah suara desingan mobil yang sedang kunaiki. Menurutku suasana senyap di dalam mobil ini lebih buruk daripada ke adaan pesta pernikahan yang baru saja aku tinggalkan beberapa menit yang lalu. Gila apa, aku sekarang merasa sedang berada di kuburan. Tiba-tiba saja aku jadi merinding saat tak sengaja mataku bertubrukan dengan mata tajamnya. Aku mencoba memberikan senyum manisku padanya, berharap rasa canggung yang kualami bisa pergi. Tapi lihatlah! Dia bahkan menghiraukanku dan kembali fokus melihat ke jalan di depan. Ingin sekali kumaki laki-laki di sampingku ini yang sekarang sudah berstatus sebagai suamiku. Hah, aku rasa aku tidak bisa menjalani masa mudaku yang indah lagi sekarang. Ya itu sudah pasti, karena semenjak aku menikah dengannya beber
Baca selengkapnya
Bab 2
Capek.Itulah yang aku rasakan sekarang, bagaimana tidak. Aku sudah sekuat tenaga mengomel, berteriak bahkan menarik kakinya agar hempas dari tempat tidur. Tapi, dia bergerak sedikitpun tidak. Dan akhirnya aku mengalah, jadinya malam ini aku akan tidur di sofa.Aku merasakan kalau tubuhku sudah lengket karena keringat, jadinya aku memutuskan untuk mandi. "Awas ya kalau om ngintip!" Aku menimbulkan kepalaku dari ruang ganti baju. Dia tidak menjawab, tidak masalah yang penting aku sudah mengingatkan. Aku membuka lemari baju pintu kedua di depanku. Kalau aku tidak salah ingat, kemarin aku menyusun baju-bajuku di sini. "Aaaaaa." Aku berteriak kuat, sumpah aku syok melihat isi lemariku. Baju-baju yang aku susun di sini menghilang semua. Sebagai gantinya ada beberapa baju-baju yang tampak kekurangan bahan dan pendek yang tergantung di situ. Aku memeriksa pintu lemari lainnya, hanya ada baju Om itu, selebihny kosong. Oh my god, ini
Baca selengkapnya
Bab 3
Aku duduk sambil menekuk kaki di pinggiran tempat tidur, menjadikan lututku sebagai sandaran daguku. Huh, masih pagi-pagi begini dia sudah marah-marah seperti itu, lagipula aku tidak salahkan kalau mengatainya om-om tua. Aku menangis tadi itu hanya akting agar dia tidak bersikap kasar seperti itu lagi. Dasar tua.Baru tinggal sebentar dengannya aku sudah tau kalau dia itu memiliki tempramen yang buruk. Dan lagi yang membuatku sangat kesal dengannya ialah wajah datarnya dan sikap anehnya itu. Tok tok tok.Aku melihat ke arah pintu yang di ketuk. Mau apa dia? Apa dia akan memarahiku lagi? Apa tidak puas tadi dia melihatku ketakutan?Tok tok tokKetukan itu tidak berhenti, malah terdengar semakin brutal. Aku berjalan gontai menuju pintu. Menyiapkan diri untuk hal buruk yang akan terjadi.Cklek. Dengan sangat pelan aku membuka pintu, menatapnya takut-takut.Dia langsung nyelonong masuk begitu pintu kubuka. Mataku mengikutinya yang k
Baca selengkapnya
Bab 4
Aku mengikutinya sambil membawa beberapa tangkai bunga mawar, sedangkan dia membawa keranjang sampah tadi. Sesampainya di depan rumah, dia langsung meletakkan keranjang sampah itu di pinggiran pagar rumah, agar nanti petugas pengangkut sampah bisa langsung mengambilnya."Nah!" Aku memberikan beberapa tangkai mawar yang kupegang tadi padanya."Buang sendiri!" katanya singkat. "Tanganku bisa kotor nanti om, aku kan sudah mandi." Aku membuat wajah seimut-imut mungkin di hadapanya."Wah lihat itu! Bukankah mereka tetangga yang baru pindah kemarin?""Mereka pengantin baru ya?""Aish, aku jadi baper sendiri melihat wanita itu memberikan mawar pada suaminya.""Aku jadi teringat saat pertama kali menikah dulu dengan suamiku.""Manis sekali mereka."Apa itu? Kenapa mereka berbisik-bisik seperti itu? Tunggu-tunggu! Aku tidak salah dengarkan tadi 'Aku memberi mawar pada suamiku' Aku baru sadar kalau tingkahku sek
Baca selengkapnya
Bab 5
Aku duduk sambil menyantap makanan yang di bawa Nadia tadi, sesekali memikirkan perkataan om itu. "Belum saatnya kau tahu," kalimat itu terus-terusan berputar di otak kecilku. Belum saatnya aku tahu? Emangnya apaan sih? Jangan-jangan tebakanku itu benar, kalau dia itu menikahiku karena memang tak ada yang mau padanya. Jadinya saat mendengar perjodohan ini ia langsung menerimanya. Dasar, pria tua, harusnya kan dia mencari wanita yang seumuran dengannya. Bukannya denganku.Apa yang harus aku lakukan sekarang, beberapa minggu lagi aku akan menjadi mahasiswa di salah satu kampus di kota ini. Ada kemungkinan juga teman-teman satu SMA ku juga masuk di sana. Setahu aku sih teman-teman seletingku belum ada yang menikah, baru aku saja. Ya sudahlah sudah terjadi, yang harus aku lakukan sekarang adalah menutup mulut rapat-rapat agar tidak ada yang tahu tentang statusku.Sedikit merasa bosan aku menghidupkan HP dan membuka grup chatku di salah satu aplika
Baca selengkapnya
Bab 6
Kami kembali ke rumah saat hari sudah mulai gelap, jujur aku sudah sangat lelah karena lebih dari dua jam aku berjalan terus. Aku baru tahu ternyata om Aska itu bisa memasak, makannya dia lebih memilih masakan sendiri untuk tetangga yang bakalan datang nanti malam.Aku sudah siap-siap sekarang, dengan pakaian rumahan yang terlihat sopan. Aku melihatnya yang sedari tadi sibuk memasak, sedikit kasian sih kalau melihat wajahnya yang tampak kelelahan itu. Tapi mau bagaimana lagi, aku kan tidak pintar memasak. Maaf sekali ya om.Aku berjalan menuju kulkas, mengambil beberapa buah-buahan dan cake yang kami beli tadi saat perjalanan pulang. Dia bernafas lega saat masakan buatannya sudah terhidang rapih di atas meja. Lalu terduduk lelah di kursi, sesekali menyeka keringat yang terus-teruss mengalir di bagian kening dan leher."Sebaiknya kau mandi dulu om." Aku mendekatinya sambil menaruh buah dan cake yang ku ambil tadi di atas meja. "Keringatmu bau sekali.
Baca selengkapnya
Bab 7
"Terima kasih atas jamuannya, kami pulang dulu. Kalau ada waktu mainlah juga ke rumah kami" Bu Indri bersamamu pada om Aska setelah itu bergantian padaku. Aku tersenyum kikuk. "Iya, nanti kami sempatkan datang ke rumah kakak" Om Aska tersenyum lebar, sungguh munafik. Lihat saja kalau setelah ini kau tidak mau tersenyum padaku, akan ku tarik bibirnya itu. Lihat saja, aku tidak akan main-main dengan kata-kataku.Setelah itu mereka langsung pergi dari rumah kami, rasanya sekarang aku lega. Lagipula aku juga sudah sangat mengantuk.Aku langsung naik ke atas, tapi sebelum itu aku mengambil bingkisan yang tadi di berikan oleh ibu-ibu itu. Sepertinya isinya makanan, kareanaaku bisa mencium aroma coklat dari dalam sana."Om aku naik duluan ya sudah ngantuk" Aku langsung meningggalkannya tanpa menunggunya menjawab perkataanku.Sesampainya di kamar aku langsung merebahkan diriku di atas kasur, rasanya nyaman sekali. Pokoknya malam ini aku akan tidur ny
Baca selengkapnya
Bab 8
Aku bangun lama hari ini, mungkin efek karena tadi malam aku bergadang hampir semalaman. Ternyata menggangu om Aska itu sangat menyenangkan ya, hehehe. Lain kali aku coba lagi deh mengganggunya.Dengan sedikit tergesa-gesa aku menuruni anak tangga, tujuanku sekarang adalah dapur. Aku sangat lapar sekarang, dasar pria tua kenapa dia tidak membangunkanku dari tadi sih. Aku melihat ke arah lemari makanan, bersyukur karena dia menyisakan sepiring nasi goreng di sana. Mungkin ini untukku karena tidak ada orang lainkan di rumah ini. Dengan lahap aku makan nasi goreng itu, terasa sangat enak begitu suapan pertama masuk ke dalam mulutku. Sepertinya nanti aku harus belajar masak padanya. Aku juga ingin pintar memasak, karena selama ini aku hanya bisa menggoreng telur ceplok dan masak mie instan, sangat tak pantas untuk di banggakan.Akhirnya aku siap dengan sarapanku yang sedikit terlambat ini. Setelah siap mencuci piring bekas makanku, aku mengambil b
Baca selengkapnya
Bab 9
Beberapa minggu sudah terlewat, kini hubunganku dengan om Aska semakin membaik. Dan dia juga mulai membuka diri padaku.Tidak banyak yang ku lakukan bersamanya, lggipula dia juga setiap harinya kerja di perusahaan milik papanya, yang sekarang juga sudah jadi papaku. Setiap hari sambil menunggunya pulang aku hanya bisa menonton film di laptop milikku sendiri. Aku ingat waktu itu aku datang ke rumah masih dengan perasaan kesal, merasa kalau mama dan papa itu egois, tidak memikirkan perasaanku. Walau sekarang aku juga masih kesal aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin ini sudah takdir dari yang kuasa, aku juga bisa apa? Sekarang aku mulai menerima pernikahan ini dengan lapang hati, tapi aku tidak tahu kalau dengan om Aska. Walaupun hubungan kami sudah membaik dia juga sepertinya tidak tertarik padaku. Itu merupakan keuntungan bagiku, karena akan merepotkan kalau sampai dia suka padaku. Kalau seandainya aku ya
Baca selengkapnya
Bab 10
Hari ini adalah hari minggu, hore aku bisa berteriak senang hari ini. Aku menyibak gorden kamarku, seketika cahaya-cahaya lembut dari matahari pagi langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Udara segar langsung kuhirup dalam-dalam begitu jendelanya ku buka. Ah, hari ini sangat cerah sekali. Setelah membereskan tempat tidur aku langsung bergegas mandi. Kalian harus tahu, aku sangat tidak suka menunda-nunda waktu mandi. Tidak butuh waktu yang lama bagiku untuk mandi. Ini masih pagi, kalau aku mandi lama-lama bisa mati karena kedinginan nanti. Wkwkwk.Siap berpakaian, hari ini aku memakai setelan training hitam dan t-shirt berwarna abu-abu, rencananya sih aku ingin mengajak om Aska joging bareng, ya walaupun udah agak siangan gak apa deh. Daripada di rumah terus aku bosen, kebetulan hari ini kan om Aska kan libur juga, iya kali dia hari minggu pergi ngantor. Ok, setelah berpakaian aku langsung turun ke bawah, perutku sudah minta jatah dari tadi. Sesampai
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status