KUBUAT SUAMIKU SEMAKIN LAYU

KUBUAT SUAMIKU SEMAKIN LAYU

Oleh:  Putri putri  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
28Bab
17.3KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Apa yang kamu rasakan saat mendengar suamimu menyebut nama perempuan lain disaat dia mencapai puncak kenikmatannya? balasan apa yang pantas untuk lelaki model begitu? ikuti terus kisah Dinda dan Arga ya!

Lihat lebih banyak
KUBUAT SUAMIKU SEMAKIN LAYU Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
28 Bab
NAMA PEREMPUAN LAIN
“Dini...” Mas Arga, suamiku memekik tertahan dengan mata terpejam. Seketika telingaku memanas mendengar nama wanita lain yang disebut olehnya. Tanganku bergerak cepat mendorong tubuh yang sedang menindihku hingga terpental agak jauh. Hasrat yang semula telah berada di ubun-ubun menguap entah ke mana.“Siapa Dini, Mas!” bentakku dengan mata menatap nyalang padanya.Mas Arga gelagapan saat mendengar pertanyaanku. Sepertinya ada yang sedang ia sembunyikan. Coba lihat, matanya saja enggak berani membalas tatapanku.“Dini siapa? Aku enggak kenal,” elak mas Arga. “Jangan bohong! Dini yang kamu sebut namanya barusan.” Aku kembali mencecarnya dengan pertanyaan yang sama. Sudah jelas-jelas ia menyebut nama perempuan lain di penghujung surga dunia yang ia capai. Kok masih bisa bilang enggak kenal. Bukannya menjawab apa yang aku tanyakan, mas Arga justru melayangkan tamparan pada pipi kiriku. “Berani sekali kamu membentakku!” hardik mas Arga, “kalau aku bilang enggak kenal ya sudah, kamu j
Baca selengkapnya
pesan WA
Tanpa pikir panjang langsung kutulis pesan balasan untuk orang tersebut. Aku ingin mengetahui seberapa jauh hubungan mereka. (sabar sayang... semua butuh waktu.)Setelah selesai menulis, segera kukirim pesan itu. Sambil menunggu pesan itu dibalas, aku mulai memikirkan cara bagaimana cara membalas kelakuan mas Arga. Mempermalukan dia di depan umum? Ah, itu sama saja aku mempermalukan diri sendiri. Menguras habis harta suami sebelum cerai? Apanya yang mau dikuras, hidupnya saja pas-pasan. Kepalaku mulai pening mencari cara yang cocok untuk membalasnya. Tiba-tiba aku teringar dengan cerita Devi, sahabatku. sebuah ide cemerlang pun muncul terinspirasi dari ceritanya . Ya! Akan kubuat suamiku semakin layu. biar enggak ada perempuan yang mau sama dia. Aku tersenyum licik sambil menatap mas Arga.Sebuah pesan kembali tertera pada layar ponsel mas Arga yang didahului oleh bunyi nada pesan. Aku segera membaca pesan tersebut.(Kapan, Mas? Sudah empat bulan kamu janji mau ceraikan istrimu,
Baca selengkapnya
RAMUAN AJAIB
Siang ini udara terasa panas, tapi tak sedikit pun menyurutkan niat untuk bertemu Devi sahabatku. Tadi aku sudah bikin janji dengannya. Devi langsung membuka pintu sesaat setelah aku mengucap salam. Ia tampak senang dengan kehadiranku. Kami memang sudah cukup lama tidak ketemu karena kesibukan masing-masing. “Masuk yuk, Din!” ajaknya sambil menggandeng tanganku. Segera kuletakkan bokongku pada sofa yang ada di ruangan ini. Devi kemudian pergi sebentar lalu kembali dengan dua gelas minuman di tangannya.“Tumben banget muka kamu kusut begitu, Din?” tanya Devi. “Iya nih, habis dihajar.” sahutku. Tanganku bergerak cepat menyambar gelas di depanku lalu meneguk isinya hingga sisa separuhnya saja.“Dihajar sama siapa?” desaknya. “Dihajar sama kenyataan,” sahutku sembari melebarkan tawa. Mendengar jawabanku, Devi langsung mencubit pinggangku. Ia memasang wajah kesal. “aku serius nanya Din!” sungutnya kemudian.“Iya... iya...” Aku mencoba bersikap serius, “ aku lagi banyak masalah, Dev.
Baca selengkapnya
BUKTI TAMBAHAN
“Nggi, bantuin Mbak beresin meja dong,” pintaku pada Anggi, adik iparku setelah mereka selesai makan.“Emangnya kamu enggak bisa lakukan sendiri, Dek?” Mas Arga langsung menyambar ucapanku.“Bisa sih bisa Mas, tapi kalau ada yang bantuin kan jadi lebih cepat selesai,” jelasku. “Kalau bisa sendiri, kenapa mesti minta Anggi yang melakukannya?” tanya Mas Arga. “Aku Cuma minta bantuan doang, Mas! Lagian juga enggak tiap hari,” jawabku kesal. Kadang Aku heran sama suamiku. Kalau aku minta Anggi untuk membantu pekerjaan rumah, pasti dia langsung protes. Ujung-ujungnya aku sendiri yang mengerjakannya. “Aku mau ngerjain tugas dulu, Mbak! “ Adik iparku yang sedari tadi hanya diam kini mulai membuka suara. Sayangnya, ia berkata sambil pergi ke kamarnya. Aku hanya menghembuskan nafas kasar melihat tingkahnya.“Itu kan sudah kewajiban kamu sebagai istri!” timpal ibu, “Jadi jangan malas!” “Siapa juga yang malas, Bu? Bukankah aku setiap hari melakukan kewajibanku?” Aku membantah tuduhan ib
Baca selengkapnya
HADIAH UNTUK IBU MERTUA
Mentari pagi tampak cerah bersinar. Namun, cahayanya tak cukup hebat untuk menghangatkan hati yang terluka karena cinta. Semalam, setelah Mas Arga membuang bukti transfer, ia kembali ke kamar dengan wajah kusut. Entah apa lagi yang ia sembunyikan dariku. Hari ini dia tidak masuk kerja. Katanya sih alat vitalnya masih berasa enggak nyaman. Sampai begitu parahkah efek bubuk cabai yang kuberikan? Salah sendiri asal bercocok tanam!Aku segera menghubungi Devi, sahabatku. Menurutku ini saat yang tepat untuk melancarkan misi selanjutnya. “Iya, Din.” Terdengar suara Devi saat panggilan kami terhubung. “Hari ini mas Arga di rumah, bisa datang sekarang?” tanyaku. “Oke... satu jam lagi kami sampai,” sahut Devi. “Aku tunggu ya...” Aku mengakhiri panggilan ini setelah memberi kabar pada Devi.**** Saat aku, Mas Arga dan Ibu sedang berkumpul di ruang keluarga, samar terdengar suara ketukan pintu tiga kali disertai ucapan salam.“Kayaknya ada tamu deh, Din. Coba kamu lihat ke depan,” perinta
Baca selengkapnya
RAYUAN ARGA
Kutatap lekat sang rembulan melalui jendela kamar. Meskipun masih terlihat seperti biasanya, tapi bias sinar temaramnya tak lagi mampu tenangkan hati yang kecewa. Terluka karena sebuah pengkhianatan yang disengaja. Perlahan, langkahku bergeser menuju meja rias yang ada di sudut ruangan. Lalu duduk menatap cermin yang tengah memantulkan bayanganku. Dari sana kuamati wajah yang tampak lesu. Kalau diperhatikan, wajahku masih tetap cantik seperti biasanya. Hanya saja, tak terlihat make-up tebal menghiasinya. Bentuk tubuhku juga masih seksi. Dengan berat 50 kg dan tinggi 168 sentimeter, menurutku cukup ideal. Tapi mengapa Suamiku masih saja mendua? Dari pantulan cermin, kulihat Mas Arga mendekat padaku. Tangannya langsung memelukku dari arah belakang. Sebuah ciuman ia daratkan di tengkukku hingga bulu romaku merinding. Aroma parfum yang ia gunakan seolah mampu membius saraf. Jantungku berdegup hebat. Hampir saja aku terbuai oleh perlakuan darinya.“Kamu cantik sayang...” puji Mas Arga,
Baca selengkapnya
KERJA
“Cepat katakan, Mas!” Aku kembali mencecar suamiku karena dia tak kunjung memberi jawaban.“Tadi aku traktir teman-teman, Dek,” jawabnya kemudian. “Teman siapa?” tanyaku lagi. Aku merasa janggal dengan jawaban yang diberikan oleh Mas Arga. Setahuku, dia belum pernah mentraktir temannya. Kok tiba-tiba sekarang dia melakukan itu. Angin apa yang sudah mengubah kebiasaannya.“Ya temanlah!” sahut mas Arga sewot. Ia tampak tak suka aku terus menanyainya. “Aku kan sudah bilang, uangnya buat belanja besok.. kenapa masih saja dihabiskan!” Dengan sedikit menahan emosi, aku mengingatkan suamiku. “Kan bisa pakai uang kamu dulu.” Jawab suamiku. “Uang dari mana, Mas? Kamu aja ngasihnya enggak genap satu juta!” protesku. “Sudahlah, Dek. Aku males berdebat terus.” Ucap Mas Arga. Ia kemudian menenggelamkan wajahnya pada bantal. Melihat kelakuan suamiku, rasanya sudah enggak sabar ingin meminta pisah. Tapi aku harus bertahan sebentar lagi untuk memastikan kebanggaan mas Arga tak lagi berfungsi.
Baca selengkapnya
MENGIKUTI ARGA
Dengan semangat empat lima aku pergi meninggalkan rumah ini. Dalam hatiku aku berniat mengunjungi sahabatku. Siapa lagi kalau bukan Devi. Dia selalu menjadi tujuanku di setiap waktu luang.Sesampainya di rumah Devi, aku disambut dengan peluk cium sahabatku. Ia tampak heran karena enggak biasanya aku datang tanpa mengabari dulu. “Kamu rapi banget, Din! Kaya mau travelling aja,” puji Devi sambil memperhatikan penampilanku. “Biasa aja kali...” sahutku, “Hari ini kamu ada acara enggak, Dev?”“Enggak kok, emangnya kenapa kamu tanya begitu?” “Temenin aku yuk, stres di rumah terus!” ungkapku. “Ke mana?” tanya Devi lagi. “Terserah kamu saja!” jawabku sambil mengangkat kedua bahu. “Oke, tunggu sebentar. Aku ganti pakaian dulu,” sanggupnya. Ia pun lalu beranjak meninggalkan aku yang kini duduk di teras sendirian. Beberapa saat kemudian, Devi keluar dengan pakaian yang sudah berganti. Wajahnya terlihat cantik dengan make-up tipis menghiasinya. “Sudah siap?” tanyaku. Ia menunjukkan jempo
Baca selengkapnya
TAMU MISTERIUS
Belum sempat pergi jauh dari mereka, telingaku menangkap bunyi ketukan pintu beberapa kali. “Coba kamu lihat ke depan, Din! Kayaknya ada tamu, “ titah mertuaku. Dengan terpaksa aku menuruti perintah Ibu. Padahal sebenarnya aku sudah ingin beristirahat. Akhirnya kuayunkan langkah malas menuju sumber suara yang tadi terdengar. Seorang pria dengan perawakan lumayan tinggi, berdiri tepat di hadapku sesaat setelah aku membuka daun pintu. Wajahnya putih bersih dengan kumis tipis menghiasi. “Kirana...” Pria itu menggumam lirih sembari menatap lekat padaku. “Anda siapa?” tanyaku dengan menautkan kedua alis. Sejenak kuperhatikan wajah pria di hadapanku sambil menajamkan ingatan. Memang benar nama lengkapku Dinda Kirana, tapi yang bikin heran, dari mana pria ini bisa tahu nama belakangku. Apakah dia mengenalku? Tanpa disengaja, netra kami saling beradu pandang hingga akhirnya sama-sama membuang muka. Hatiku masih terus bertanya-tanya siapa sebenarnya orang ini.“Benar ini rumah Arga?” B
Baca selengkapnya
DILABRAK PELAKOR
Lima hari sejak kejadian petang itu, aku masih mendiamkan mas Arga. Semua pekerjaan rumah kuabaikan kecuali mencuci pakaian, itu pun hanya pakaianku sendiri. Biasanya aku mencuci pakaian semua penghuni rumah. Meski Ibu mertuaku sering marah gara-gara enggak masak, aku tak lagi memedulikan ocehannya. Biar saja dia makan di luar. Toh, ibu juga masih pegang uang hasil pinjam kemarin.Seperti biasanya, sejak pagi aku pura-pura berangkat kerja. Padahal aslinya cuma jalan-jalan enggak jelas bareng Devi. Pergi ke salon, nongkrong di cafe , pokoknya ke mana saja yang bisa bikin hati senang.Setelah lelah seharian bareng Devi, aku memutuskan pulang meskipun waktu baru menunjukkan pukul tiga sore. Biasanya sih sekitar jam lima aku baru balik.Saat tiba di rumah, kulihat ibu sedang mengobrol dengan seorang perempuan seusiaku di teras. Hanya sesaat aku memperhatikan perempuan dengan pakaian kurang bahan itu, lalu berniat masuk tanpa memedulikan mereka berdua. “Oh... jadi ini yang namanya Dinda.
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status