Embun/Desire - Mencintaimu Tanpa Syarat

Embun/Desire - Mencintaimu Tanpa Syarat

Oleh:  Lis Susanawati  Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
Belum ada penilaian
307Bab
128.5KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Sepuluh tahun berakhir sia-sia, meski tidak ada perselingkuhan mewarnai hubungan kita. Maafkan aku, jika tidak bisa menepati janjiku. Maafkan aku jika tidak bisa menemanimu hingga nanti kita menua. Kita cari kebahagiaan masing-masing. Kamu dengan pilihanmu dan aku dengan pria yang bisa menerima kekuranganku. "Mungkin di kesempatan kedua nanti, kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu dan aku mendapatkan bahagiaku." (Embun) "Penyesalan terbesar ketika aku kehilanganmu." (Fariq) "Aku menerimamu dengan semua kekuranganmu. Aku tidak akan mengkhianatimu. Seperti yang dilakukan papaku pada mamaku." (Andrean)

Lihat lebih banyak
Embun/Desire - Mencintaimu Tanpa Syarat Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
307 Bab
Part 1 Bertemu Mantan
"Embun, ada mantan kamu sama istrinya," bisik Yani padaku. Sontak aku memandang ke pintu masuk kafe.Benar saja. Beberapa langkah di hadapanku, seorang pria tegap yang lengan kirinya digelayuti manja seorang perempuan yang usianya jauh lebih muda dariku masuk kafe dan mencari tempat duduk. Jiwaku bergejolak, ada cemburu yang membuncah dan sakit yang tak dapat terlukiskan dengan kata-kata. Sepuluh tahun kami hidup bersama, sepuluh tahun juga kami berjuang untuk mendapatkan putra. Tapi hingga kesabaran mertuaku habis, aku tak kunjung mengandung. Hingga aku harus merelakan pria yang sangat kucintai menikahi perempuan pilihan keluarganya."Kita menghindar saja," ajak Yani. Dia ingin menyelamatkanku dari situasi yang tentu tidak nyaman bagi siapa saja yang mengalami peristiwa sepertiku. Lagian kami juga sudah selesai makan.Belum juga kami beranjak, dari pintu muncul mantan mertuaku. Dua orang yang tampak selalu kompak dan harmonis di usia senjanya bergabung duduk dengan putra dan menantu
Baca selengkapnya
Part 2 Situasi yang Rumit
"Please!""Maaf, saya nggak bisa. Saya bukan dokter. Sebaiknya di bawa ke rumah sakit saja. Ini bisa berbahaya jika dibiarkan dengan penanganan yang salah." Aku bicara dengan suara bergetar. Bertahun-tahun menangani pasien dengan luka berbagai macam, tapi aku tidak segemetar ini. Seorang laki-laki bertubuh kekar menghampiriku. "Tolong, bos kami, Nona. Kami tidak bisa membawanya ke rumah sakit. Apa yang Anda butuhkan, akan kami carikan."Tidak bisa membawanya ke rumah sakit? Kenapa? Nyawanya terancam tapi orang-orang itu keukeuh tidak ingin mendapatkan pertolongan di rumah sakit. "Ini lukanya sangat parah. Harus mendapatkan penanganan segera." Aku berdebat di kamar mewah bernuansa maskulin. Mereka tetap tidak ingin membawa lelaki yang sudah kehilangan banyak darah itu ke rumah sakit. Para lelaki berpakaian serba hitam itu menatapku tajam. Tampaknya mereka membenciku karena terlalu banyak bicara dan penolakan. Mereka benar-benar memaksaku untuk melakukan hal sebesar ini. Yang seharus
Baca selengkapnya
Part 3 Tatapan Dingin
Aku duduk di sebelah Yani yang sedang minum teh di kursi ruangan kantor kami. Aku mengambil gelas teh lain yang tadi di buatkan Yani untukku. Rasanya lama sekali menunggu jam sepuluh malam. Sungguh capek dan mengantuk malam ini. Rasanya tubuhku ingin segera rebah saja. Menunggu satu jam lagi kenapa terasa lama sekali."Embun, kamu kenapa? Kelihatan lelah begitu. Kamu nggak tidur semalaman?"Aku masih menyesap teh. Apa harus kuceritakan pada Yani tetang peristiwa tadi malam?"Kamu masih mikirin mantan kamu itu?" tanya Yani lagi.Aku tersenyum getir. Kejengkelan Yani melebihi kekecewaan yang aku rasakan sendiri. Yani tahu bagaimana aku dan Mas Fariq melewati sepuluh tahun kebersamaan kami. Dialah saksi susah senangku bersama pria yang kucintai sepenuh hati. Dan sekarang semua tinggallah kenangan yang amat menyakitkan."Sudah setahun yang lalu, lupakan itu. Kamu masih muda, cantik juga. Masih banyak kesempatan untuk mendapatkan pria yang jauh lebih baik daripada Mas Fariq.""Aku sekaran
Baca selengkapnya
Part 4 Namamu Siapa?
Hanya sekilas saja pria itu menatapku, kemudian melangkah ke sebuah ruangan dengan pintu kayu jati yang sangat megah. Aku tidak tahu itu ruang apa.Bu Atun menarik pelan tanganku untuk menuju ke dapur. Aku memilih makan di kursi dapur, rasanya tak pantas aku makan di ruangan dengan perabotan mahal itu. Meja makannya saja terbuat dari kayu jati tebal dengan pelitur mengkilat.Di atas meja masih ada makanan untuk sarapan tadi. Tampaknya tuan rumah sudah selesai makan."Tadi itu siapa, Bu?" tanyaku lirih pada Bu Atun setelah memastikan tidak ada orang di ruangan itu selain kami."Namanya Mas Andre tadi, Mbak. Putra sulungnya Tuan.""Oh." Aku lebih mendekati Bu Atun lagi. "Apa dia yang menembak Mas Hendri?"Bu Atun belum sempat menjawab, masuklah Bu Salwa. Aku kembali duduk setelah mengangguk sopan pada wanita yang rambutnya agak bergelombang terurai sebahu. Hari ini beliau hanya pakai gaun biasa bercorak bunga-bunga. Tapi penampilan sederhana itu tetap terlihat memesona. "Siapa yang data
Baca selengkapnya
Part 5 Namamu Siapa?
Usai mencuci dan menjemur pakaian. Aku merebahkan diri di ranjang. Saat begini baru kurasakan tubuh yang terasa letih. Aku menatap langit kamar dengan plafonnya yang baru di cat oleh ibu kos beberapa minggu yang lalu. Wanita pemilik kosan yang sangat baik padaku. Dulu Yani yang membantuku mencari kosan setelah putusan sidang cerai di pengadilan.Ingat cerai membuatku ingat Mas Fariq. Sejak semalam pesannya belum aku buka. Ponsel di meja sebelah tempat tidur kuambil dan membuka aplikasi pesan.[Embun, bisa kita bertemu?][30 hari lagi masih ada kesempatan untuk kita membicarakan hubungan ini.]Tidak kuteruskan lagi membaca deretan pesan selanjutnya. Rujuk, itulah intinya yang dia inginkan. Kalau aku sanggup hidup di madu, tentu saja aku tidak akan mengajukan gugatan cerai. Jika aku bersedia rujuk, aku akan jadi istri keduanya. Aku tersenyum simpul.Sepuluh tahun berakhir sia-sia. Aku terpaksa merelakan sebuah hubungan yang pernah kuperjuangkan. Sampai detik perpisahan kami, orang tua M
Baca selengkapnya
Part 6 Dua Pria Bersaudara
"Sebentar saya ambilkan." Aku melangkah cepat keluar kamar dan menuju dapur. Bu Atun kenapa lupa pula menaruh sendok di piring. Hendri makan dengan menggunakan tangan kirinya. Aku menunggu pria itu hingga selesai makan. Tapi yang membuatku jengkel, dia makan sambil melihat layar ponselnya. Makan satu suap meletakkan sendok, lalu memegang ponsel. Kapan mau selesai, sedangkan jam terus berputar dan aku harus segera berangkat ke rumah sakit."Maaf, bisakah agak cepat makannya. Saya harus segera berangkat ke rumah sakit." Hati-hati aku bicara pada lelaki itu. Bagaimanapun aku di bayar untuk merawatnya, harus sabar dan tidak boleh membuatnya tersinggung."Kenapa harus menungguku? Kalau mau berangkat sekarang, pergi saja," jawabnya angkuh. "Anda harus minum obat." Aku masih memegang kantung plastik berisi obatnya."Tinggalkan saja. Aku bisa meminumnya sendiri."Bagaimana jika dia tidak meminumnya? Kenapa juga aku harus cemas. Toh, itu badan dia sendiri, sakit juga di rasakaannya sendiri.
Baca selengkapnya
Part 7 Kamar VIP
"Selamat malam, Suster. Infsus untuk pasien di kamar nomer delapan sudah mau habis," seorang wanita setengah baya memberitahu kami. Tanpa menunggu yang lain, aku lekas berdiri. Dan Yani sudah menyodorkan jenis infus yang sesuai dengan catatan pasien padaku. Ini infus kedua untuk pasien.Bergegas aku ke kamar VIP nomer delapan. Aku tidak sampai mengetuk pintu karena pintu kamar sedikit terbuka. Aku tersenyum pada pasien dan tiga orang yang ada di dalam. Dan satu di antara dua pria itu aku mengenalnya. Andre. Apa hubungan laki-laki ini dengan pasien yang sedang menjalani perawatan karena typus.Setelah selesai mengganti infus dan memastikan cairan itu mengalir dengan lancar, aku segera keluar. Tapi baru beberapa langkah meninggalkan tempat itu, ada yang memanggilku. "Tunggu!"Andre berjalan menghampiriku. "Kamu bekerja di sini?" tanya laki-laki itu."Iya," jawabku singkat."Bagaimana perkembangan lukanya Hendri?" tanyanya dengan nada dingin."Alhamdulillah." Itu saja jawabanku. Aku tida
Baca selengkapnya
Part 8 Keras Kepala 1
"Saya bawa motor," jawabku pada lelaki yang berpakaian serba hitam itu."Saya ikuti di belakang."Aku tidak menolak. Memang lebih baik kalau aku tidak sendirian. Mengingat sudah hampir jam sebelas malam. Kulambaikan tangan pada Bu Atun yang masih berdiri di depan pintu samping. Lantas aku menstater motor dan pergi. Lelaki yang di suruh mengantarkan mengikutku dengan jarak yang lumayan dekat.Kosan sangat sepi. Lampu-lampu kamar sudah padam semua. Aku turun dari motor dan membuka pintu pagar. "Mas, terima kasih ya," ucapku pada pengawalnya Hendri.Lelaki itu mengangguk dan tetap mengawasi hingga aku berada di dalam pagar. Aku memasukkan motor di sebuah ruangan yang dikhususkan untuk menaruh kendaraan penghuni kosan. Setelah melepas helm, menaruh tas, dan menanggalkan jaket, aku langsung mengambil handuk untuk mandi. Bandanku terasa lengket dan tak sabar untuk lekas membersihkan diri. Biasanya aku merebus air dulu, tapi kali ini aku langsung mandi air dingin biar bisa segera istirahat.
Baca selengkapnya
Part 9 Keras Kepala 2
"Lukanya sudah kering. Tapi untuk sembuh total membutuhkan waktu yang lama. Minimal enam mingguan. Rajinlah minum obat biar lekas pulih. Terus perban harus di ganti, paling nggak dua kali sehari. Soalnya ini bekas luka tembak dan bukan bekas operasi biasa. Pastikan perban tetap kering agar nggak terjadi infeksi.""Apa tidak ada obat yang lebih baik lagi dari resep yang diberikan oleh dokter itu?""Ini sudah obat terbaik yang Pak Nanda beri. Bersabarlah, memang butuh waktu untuk menyembuhkan luka tembak ini."Aku memberikan obat di tangannya dan ia segera meminumnya. "Berikan obatku untuk nanti siang," pintanya sambil memandangku."Anda akan meminumnya sekalian?" tanyaku curiga."Aku belum tentu bisa pulang. Biar kubawa obat itu."Segera kuambil empat obat yang harus diminum siang nanti. Obat kubungkus dengan plastik kecil yang ada di situ. "Minumlah tepat waktu, jika ingin pulih dengan cepat. Sebab ini bukan seperti di film-film. Hari ini kena tembak, besok sudah pulih dan baku hantam
Baca selengkapnya
Part 10 Namaku Andrean
"Tapi kenapa mereka bermusuhan, Bu?" tanyaku makin penasaran. Sudah terlanjur di ceritakan, aku jadi ingin tahu banyak kehidupan mereka.Sebelum menjawab, Bu Atun minum seteguk air. "Sebenarnya Mas Andre ini baik. Hanya saja ada yang memprovokasinya. Yang membuat mereka selalu terlibat salah paham. Bu Salwa sendiri juga sangat sayang pada Mas Andre. Dulu hubungan mereka sangat baik, tapi mulai berubah ketika Mas Andre duduk di bangku SMP. Saya sudah mengenal Tuan Darmawan sejak beliau masih bujangan, Mbak. Suami saya teman baik beliau. Makanya saya tahu kisah mereka. Perusahaan itu sebenarnya milik mertuanya Tuan. Milik orang tuanya Nyonya Lili, mamanya Mas Andre. Tapi yang menjadikannya besar seperti sekarang ini ya Tuan. Kakek, nenek, dan mamanya Mas Andre sudah meninggal. Jadi Mas Andre satu-satunya pewaris. Neneknya Mas Andre belum lama meninggal, Mbak. Baru sekitar tiga tahunan ini."Oh, apa karena ini ada yang mengatai Hendri sebagai benalu. Apa mungkin Andre setega itu pada adi
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status