Buku tentang Kartini selalu punya tempat khusus di hati dan di kelas, menurutku. Aku ingat waktu pelajaran bahasa Indonesia dulu—guru kami nggak cuma menceritakan biografinya, tapi juga membacakan kutipan dari 'Habis Gelap Terbitlah Terang' sampai kami bisa merasakan kegalauan dan harapannya. Itu bukan cuma soal menghormati tokoh sejarah; ada energi pembelajaran yang muncul ketika siswa diajak meresapi suara seorang perempuan yang menantang norma zamannya. Kartini jadi jendela buat memahami bagaimana masa lalu membentuk nilai-nilai sekarang, terutama soal pendidikan, kebebasan berpikir, dan perjuangan perempuan.
Alasan utama kenapa
buku kartini masih wajib dibaca menurutku adalah kombinasi antara signifikansi historis dan nilai pendidikan karakter. Kartini bukan hanya simbol nasional; tulisannya menunjukkan proses sadar kritis terhadap ketidakadilan—itu pelajaran penting untuk anak sekolah yang sedang belajar berpikir mandiri. Selain itu, bahasanya, meski kadang formal dan bernuansa lama, mengajarkan kepekaan sastra: cara menyusun argumen lewat surat, penggunaan metafora, dan retorika pribadi yang tulus. Kalau guru mengemasnya secara interaktif—misalnya membandingkan pandangan Kartini dengan isu perempuan masa kini atau mengajak siswa menulis surat serupa—materi itu jadi hidup dan relevan.
Tapi aku juga nggak bisa pura-pura semuanya sempurna. Ada kritik valid bahwa koleksi
surat kartini merefleksikan pengalaman kelas ningrat Jawa—suara perempuan pribumi dari golongan bawah kurang terdengar. Karena itu aku sering menyarankan pendekatan pengajaran yang lebih kritis: jangan hanya memuja Kartini, tapi bandingkan, kontekstualisasikan, dan tambahkan perspektif lain. Ajari siswa membaca sumber sejarah dengan mata yang tajam—tanyakan siapa yang berbicara, siapa yang tidak, dan mengapa cerita itu penting untuk saat ini. Dengan begitu, buku Kartini bukan monumen tak tersentuh, melainkan titik awal diskusi tentang gender, kelas, kolonialisme, dan perubahan sosial.
Intinya, aku masih percaya buku Kartini layak masuk kurikulum asalkan penyampaiannya edukatif dan kritis. Ketika guru menggali konteks sejarah, menghubungkan gagasan Kartini dengan isu-isu kontemporer, dan memberi ruang bagi suara alternatif, pelajaran itu berubah dari hafalan menjadi pengalaman berpikir. Di akhir hari, nilai paling berkesan bagiku adalah kemampuan teks Kartini untuk memancing empati dan keberanian berpikir—hal-hal yang nggak lekang oleh waktu dan sangat berguna bagi generasi muda yang ingin memahami masa lalu sekaligus membentuk masa depan.