Mohini
Di acara reuni kelas, begitu aku kembali usai membantu pacarku membeli barang, tempat dudukku sudah diduduki sahabatku.
Gelas anggur merah dan piringku sudah disingkirkan, diganti dengan satu set yang baru.
Sama sekali tidak ada jejak yang menunjukkan kalau aku pernah berada di sana.
Melihatku datang, Clara hendak berdiri, tapi Billy buru-buru menahannya untuk duduk kembali.
“Lagipula dia juga nggak akan paham kalau kita membicarakan soal kasus. Duduk di sini hanya bisa ikut-ikutan tersenyum.”
Yang lain tak ada yang berani menimpali.
Semua orang tahu, dulu keluargaku mengalami masalah besar, sehingga aku terpaksa berhenti kuliah di tengah jalan.
Saat kuliah, mereka adalah ‘pasangan terbaik’ di fakultas hukum. Mereka telah menyelesaikan begitu banyak kasus rumit bersama-sama.
Setelah lulus, mereka berdua langsung masuk ke jajaran firma hukum ternama, sementara aku hanya bisa mengandalkan pacarku untuk masuk ke firma hukum sebagai ‘sekretaris kecil’.
Aku berdiri terpaku dengan bodohnya di tempat.
Billy baru saja menerima rokok yang kubelikan untuknya, lalu kembali berkata santai,
“Clara mau minum milk tea, pergi belikan untuk dia.”
Saat mengatakannya, dia bahkan tidak melirikku sedikit pun. Setelah itu, dia kembali melanjutkan obrolannya.
Di tengah obrolan hangat mereka, tiba-tiba aku merasa lelah.
Orang yang dulu mati-matian kukejar, tapi tak pernah berhasil itu, kini aku tak lagi ingin mengejarnya.