Serenity
Demi menghentikan peperangan, aku mengajukan permintaan untuk menikah dengan teman kecilku, Wolfey Arkananta yang berasal dari Bangsa Manusia Binatang.
Pada malam pertama, Raja Serigala yang menjadi suamiku bermesraan denganku di padang rumput layaknya pasangan yang tak ingin berpisah.
Aku mengira Wolfey mencintaiku.
Namun kemudian, justru dia yang memimpin seratus ribu pasukan Manusia Binatang dan menginjak-injak Kota Cagaraya.
Dia mencengkeram kepalaku dan memaksaku menyaksikan semuanya dengan mata kepalaku sendiri ketika Ayahku dicabik-cabik serigala, Kakakku sang Putra Mahkota ditebas hingga tewas.
Pasukan itu bahkan merenggut mahkota Feniks milik Ibuku dan merobek jubah Feniks-nya, lalu mempermalukannya di hadapan semua orang hingga tubuhnya dipenuhi luka.
Wolfey tersenyum dan bertanya kepadaku dengan tatapan kejam, “Alana Vexia, apa kamu benar-benar mengira dirimu begitu cantik hingga bisa menaklukkan hatiku?”
“Keluarga kerajaanmu telah membantai begitu banyak rakyatku. Apa kalian pikir hanya dengan menyerahkan dirimu kepadaku, itu bisa melunasi dendam sedalam lautan darah ini?”
Pada akhirnya, Wolfey menyatukan seluruh negeri dan memiliki seorang permaisuri yang sangat dicintainya.
Sementara aku dikurung di Istana Pengasingan, tanpa nama maupun kedudukan layaknya bukan siapa-siapa.
Setiap kali aku mencoba mengakhiri hidup, dia akan menggali satu jenazah dari makam kerajaan dan menghancurkannya menjadi abu di hadapanku.
“Tanpa perintahku, kamu tidak boleh mati!”
Aku akhirnya berhenti melawan.
Bagaimanapun, hanya tersisa tiga hari sebelum racun dari serangga parasit yang dahulu kutelan demi menyelamatkan nyawanya merenggut hidupku.