Novels
Short Stories

Genres

Realistis×
All
Romansa
Realistis
Manusia Serigala
Mafia
Vampir
Mitologi
Fantasi
Kehidupan Sekolah
Imajinasi
Reinkarnasi
Romansa Menggoda
Misteri/Thriller
Mistis Rakyat
Romansa Sejarah
POV Pria

Characters

27
Teman Masa Kecil×
All
Psikopat
Mandiri
Pelakor
Munafik
Wanita Kuat
Mafia
Istri Muda
Cinta Pertama
Kejam
Teman Masa Kecil
Dokter
Cinta Sejati
Pengasuh
Bestie
Pengganti
Guru
Bucin
Menantu
Sekretaris
Identitas Tersembunyi
Tetangga
Influencer
Vampir
Ahli Forensik
Pilot
Selebriti
Teman Sekamar
Show more

Plot & Setting

27
All
Dewasa 18+
Menggoda
Penyesalan
Pernikahan
Selingkuh
Karma
Hubungan Keluarga
Balas Dendam
Kesadaran Diri
Pura-pura Mati
Kriminal
Dunia Kerja
Sistem
Perundungan
Kehamilan
Penebusan
Nikah Kontrak
One Night Stand
Cinta Lama Bersemi Kembali
Kekuatan Super
Melawan Takdir
Kutukan
Dunia Hiburan
Petualangan
Dunia Paralel
Perjalanan Waktu
Pusat Perhatian
Show more

Themes

15
Plot Twist×
All
Plot Twist
Drama
Cerita Enak
Reinkarnasi
Bangkit
Manis
Obsesi
Toxic
Healing
Cinta Terpendam
Motivasi
Pusing
Kocak
Multi POV
Semangat
Show more

Plot Twist Realistis Short Stories & Teman Masa Kecil Novels

Discover a collection of engaging Plot Twist Realistis short stories featuring Teman Masa Kecil, with compelling plots and immersive storytelling. Perfect for readers seeking one-hour short stories and quick, immersive reads online.
Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung - Realistis novels & stories
Silas
Tepat di hari nilai ujian masuk universitas diumumkan, aku dan pacarku sedang berada di kereta cepat yang membawa kami pulang dari liburan kelulusan. Yang ikut bersama kami adalah Sherly, kakakku yang tidak memiliki hubungan darah denganku. Sherly selalu suka duduk di kursi F dekat jendela. Rian pun langsung mengambil kursi di sebelahnya. Dan aku? Aku menjadi satu-satunya orang yang duduk sendirian sepanjang perjalanan. "Alya, aku sama Sherly mau bahas pilihan jurusan dulu, ya." "Nilai prediksimu 'kan nggak terlalu tinggi. Udah, kamu duduk di sana aja, nonton drakor dulu, deh." Sepanjang perjalanan, mereka berdua tertawa dan mengobrol tanpa henti. Sementara aku, tak pernah benar-benar bisa masuk ke dalam percakapan mereka. Inilah perjalanan kelulusan yang telah dijanjikan Rian kepadaku selama tiga tahun. Tepat pukul sepuluh, hasil ujian pun diumumkan. Sherly langsung memeluk Rian, nyaris melompat dari kursinya. "Syukurlah! Dengan nilai kita berdua, semua jurusan di Universitas Nusa Bangsa bisa kita pilih!" Rian tersenyum lebar. "Coba cek grup chat, deh. Orang tua kita semua lagi ngucapin selamat, nih." Aku duduk di belakang mereka, mendengarkan. Tak lama kemudian, suara kedua orang tuaku terdengar. "Sherly dan Rian dapat nilai sebaik ini! Mereka benar-benar kebanggaan kita!" Lalu, disusul suara orang tua pacarku. Aku menunduk. Membuka WhatsApp. Tak ada undangan masuk ke grup mana pun. Tak ada seorang pun yang bertanya bagaimana hasil nilaiku. Sudahlah. Mereka telah memilih Sherly, juga masa depan yang ingin mereka jalani bersama. Sedangkan aku ... akan melangkah menuju masa depan yang benar-benar menjadi milikku sendiri.
Pilihan Terakhir: Cerai - Realistis novels & stories
Sasri Tasmirah
Adik iparku, Gina, bersikeras ingin berlibur ke Pantai Nirwana saat Natal, jadi aku memutuskan untuk mengajak seluruh keluarga pergi berlibur bersama. Namun, saat teman wanita suamiku mengetahui tentang rencana tersebut, dia memaksa untuk ikut dan membawa anaknya juga. Tanpa basa-basi, suamiku langsung membeli tiket pesawat. Namun, dia malah menyuruhku membawa barang-barang dan mengemudi sendiri ke sana. Semula, aku mengira seluruh keluarga akan mendukungku, tetapi ternyata mereka semua mendukung keputusan suamiku. Baiklah. Kalau begitu, kita urus urusan masing-masing saja. Namun, mereka semua menjadi ketakutan.
Lima Kursi untuk Mereka, Satu Tiket Pergi untukku - Realistis novels & stories
Burgundy
Acara makan bersama untuk merayakan hari kemerdekaan diadakan di rumah kontrakanku. Tiga teman masa kecilku hanya membeli minuman dan camilan, sementara Verren bilang dia tidak bisa memasak. Ada 12 hidangan yang harus kusiapkan. Aku sudah sibuk sejak pukul enam pagi sampai sore. Baru saja semua hidangan tersaji di meja, Verren tiba-tiba menerima telepon dari teman sekamarnya. "Dia nggak punya tempat untuk merayakan liburan. Aku boleh ajak dia nggak?" Aku memandang meja makan kecil yang hanya cukup untuk lima orang. Aku bahkan belum sempat menjawab ketika Casper sudah menarik kursiku. "Bukannya kamu bilang mungkin ada urusan di kantor? Kebetulan, kamu bisa pergi sekarang." Juan, teman masa kecilku yang lain, ikut tersenyum. "Lagian kamu juga makan masakanmu sendiri setiap hari. Nggak masalah kalau sesekali nggak ikut makan." Verren buru-buru melambaikan tangan dan berkata, "Kalau begitu, sudahlah. Biar dia pesan makanan sendiri saja." Ketiganya langsung membujuk Verren. "Dia sudah sampai di bawah. Mana mungkin kita mengusir tamu yang sudah datang?" Pacarku, Terry, memasukkan beberapa lauk yang sudah dingin ke dalam kotak makan hingga setengah penuh. "Ini kusisakan untukmu. Kalau nanti malam lapar, tinggal dipanaskan." "Jangan pasang muka begitu. Orang yang nggak tahu bisa mengira kami bertiga sengaja bersekongkol merundungmu." Aku menatap mereka yang duduk mengelilingi meja makan yang kubeli, menggunakan piring dan peralatan makan yang baru saja kuganti. Ternyata mereka juga tahu bahwa tamu tidak seharusnya diusir. Mereka hanya lupa bahwa akulah pemilik rumah ini. Aku melepaskan kunci rumah dari gantungan kunci milik Terry, lalu berkata, "Malam ini nggak perlu datang lagi." Ini rumahku. Kalaupun ada yang harus diminta pergi, seharusnya bukan aku.
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status