Nana
Malam ketika aku mengetahui bahwa aku hamil, aku melihat sebuah video tantangan berjudul "Beranikah Nggak."
Di kolom komentar, Tasya sahabatku menandai Galih, pacarku.
[Berani nggak kamu bilang ke dia, kalau kamu melepas alat bantu dengarnya setiap malam, karena takut dia tahu kamu tidur denganku di kamar sebelah?]
Galih menjawab dengan cepat.
[Nggak berani.]
[Tasya, jangan gila.]
Tasya membalas lagi: [Tenang, aku nggak akan bilang.]
[Aku juga sebentar lagi mati kok.]
[Satu-satunya harapan terakhirku sebelum mati adalah melihat kalian bahagia.]
Kolom komentar dipenuhi hujatan.
Namun, orang-orang itu tidak tahu.
Di masa kecilku, seorang pria di panti asuhan sering menjadikanku sasaran saat mabuk.
Tasya mendorongku masuk ke gudang dan mengunci pintu dari luar.
Malam itu, dia melindungiku.
Sedangkan Galih melepaskan kesempatan kuliah di luar negeri dan menolak tawaran masuk universitas tanpa tes.
Karena takut aku tidak lolos ujian masuk perguruan tinggi, dia menjadi guru lesku selama tiga tahun penuh.
Aku berutang sangat banyak kepada mereka. Begitu banyaknya sehingga ketika mereka selingkuh di belakangku, membenci mereka jadi terasa seperti tidak tahu terima kasih.
Setelah menutup video, aku menerima telepon dari rumah sakit. Mereka memberitahuku bahwa Tasya sudah tidak punya waktu lagi untuk menunggu donor hati.
Dan kebetulan sekali, hasil tes menyatakan aku cocok menjadi donor.
Aku menunduk melihat laporan hasil pemeriksaan di sebelahnya.
Hamil enam minggu.
Kemudian, aku pergi ke rumah sakit sendirian.
Menandatangani formulir persetujuan donor, dan juga surat persetujuan penghentian kehamilan.