Muriaz
Peter menyadari aku tidak menceritakan segala hal kepadanya lagi.
Saat perusahaan menugaskanku dinas luar kota, aku langsung menandatangani berkasnya.
Saat sahabatku mengundang kami berdua ke pernikahannya, aku datang sendiri dan memberikan hadiah yang besar.
Bahkan saat sakit, rawat inap, dan harus dioperasi, aku yang mengatur jadwalnya sendiri.
Sebagai dokter, Peter mengerutkan kening setelah mengetahuinya.
"Kamu sakit kenapa nggak bilang? Berikan rekam medisnya padaku, biar kuatur."
Tanpa berpikir panjang, aku menjawab, "Nggak usah, aku bisa sendiri. Jangan sampai merepotkanmu, terima kasih."
Begitu kalimat itu terucap, kami berdua sama-sama terdiam.
Padahal, setengah bulan yang lalu, aku masih sangat manja dan lengket padanya.
Bahkan untuk urusan baju kencan atau menu makan siang saja, aku harus mengirim pesan untuk meminta pendapatnya.