Putriku Kelaparan di Rumah Mewah Suaminya
“Ini kan Desember tinggal menghitung hari agar berganti tahun. Jadi artinya kamu mau kita resmikan hubungan ini secepatnya?”
Aku mengangguk dan tersenyum malu.
“Yes, yes, yes. Bulan depan akhirnya dikondangin juga,” serunya dan mengambil setangkai bunga mawar merah dan memberikannya padaku.
“Terimalah, Adinda. Tak akan lama, bunga ini akan layu karena merasa kalah dengan kecantikanmu yang bagaikan bidadari berparas jelita,” ujarnya melebih-lebihkan. Namun, meskipun kutahu kalau bunga segar akan layu seiring waktu, tapi aku memillih percaya dengan apa yang dikatakan lelaki ini. Semoga saja aku menjadi bidadari satu-satunyA di hati Bang Rian.
Bab Populer