Istri Keempat
Sebuah ranjang berukuran besar, dua nakas di antaranya, lemari di depannya, mejar kursi di dekat jendela, dan permadani cantik di lantai.
Satu-satunya yang menjadikannya berkarakter Sakha adalah aroma di dalam kamar tersebut, yang bercampur dengan aroma kapur barus yang khas.
“Kamu tampak kecewa?” kata Sakha yang sedari tadi memperhatikan Airin.
Airin tersenyum pelan. Dia memang kecewa dan tidak merasa harus menyembunyikannya.
“Aku jarang tidur di kamar ini dan tidak terlalu tertarik dengan dekorasi,” kata Sakha, sembari berjalan menuju lemarinya dan mengambil beberapa lipat pakaian dari sana.