Terpaksa Akad
tanyaku ketika menatap jatahnya yang masih utuh, ia tak menyentuhnya sama sekali.
“Aku sudah kenyang, itu untukmu saja. Bukankah kamu kelaparan?”
“Makasih ya, Om. Sering-sering berbaik hati sama Zi seperti ini ya?” ucapku sambil memamerkan senyumku. Tak apalah jika jatah Om Zuan ku makan, lelaki itu sudah terbiasa makan dengan porsi sedikit, mungkin usus dalam tubuhnya terlalu pendek hingga tak bisa makan terlalu banyak, berbeda sekali denganku, ususku sangat besar dan panjang, mampu menampung makanan yang banyak.
Hot Chapters