MasukOne night stand mengubah jalan hidup Earlene Yang dan Chyou Cheung, sang nona dan pengawalnya. Hubungan itu terus berlanjut hingga keduanya sama-sama jatuh hati. Namun, keluarga Yang menolak keras hubungan itu karena Earlene hendak dijodohkan dengan Matthew Zi Rui Liao. Chyou dipecat dan diusir. Earlene dikurung dan hanya boleh keluar untuk bekerja. Akan tetapi, mereka tetap melanjutkan hubungan dengan dibantu teman-teman. Hingga Earlene kabur, beberapa hari sebelum acara pertumangannya dengan Matthew digelar. Earlene memaksa untuk langsung menikah dan Chyou menurutinya. Chyou mengajak Earlene ke tempat asalnya di Taiwan, untuk diperkenalkan pada keluarganya. Setibanya di Taiwan, barulah Earlene mengetahui identitas asli Chyou yang selama ini disembunyikan sang pengawal. Siapakah sebenarnya Chyou Cheung? Mampukah Earlene dan Chyou mempertahankan pernikahan di tengah gempuran masalah bertubi-tubi? Apakah mereka bisa membalaskan dendam?
Lihat lebih banyakARIA
I was only five, innocent and clueless. I was made to stand on a platform in the center of the a dark room. I didn’t understand why I was there or why I wasn’t wearing clothes on my body. All I knew was that there were men, lots of them in black suits and their eyes were locked on me like vicious predators. Thick cigars sat between their fingers, and each one had a scary man behind him, also dressed in black suits and shades. Those men standing occasionally whispered things to the ones sitting. "Four hundred thousand dollars!" a deep voice shouted. "Eight hundred thousand!" another voice countered. Emily was the only woman in the room,she stood beside me and whisper instructions to me. She was the closest thing I had to a mother. She taught me everything I knew at that age. I only got to know that she wasn't my mother when her son Daniel,who was two years older than me told me. Emily was a care taker employed to look after me and this place was the only home I’d known, for as long as I could remember. I wasn't allowed to leave my room or interact with anyone else except Emily and her son, Daniel. I didn’t even know where I came from, or how I got here. However, Every night I kept having this scary dream of two cold bodies in a pool of blood. A blonde woman,naked, her thighs looking like they’d been broken with force and the second body, was that of. A headless man, lying beside her. I had no idea who they were, or why I kept dreaming of them. Emily touched my shoulder gently, then she leaned in, and whispered, “Turn around, sweetie.” I obeyed and turned slowly. “Five million!” A man suddenly called from the back. The room went quiet for a moment, no one could challenge that amount. A man in a gray suit approached us and whispered something in Emily's ear. She nodded quickly, then turned to me with a smile that didn’t reach her eyes. “Come on, sweetie, let’s get back to your room.” It was finally over, I stepped off the platform and gazed up at her. She smiled back weakly, held my hand and walked me down the narrow hallway, back to my room. I could still hear the men talking and laughing behind us. “She’ll make a nice doll for my boss” one voice said with a chuckle. I didn’t know what that meant but somehow, I knew it wasn't good. Daniel, Emily's son was inside my room, reading when the door opened. My eyes lit up when I saw him but as soon as he stood up , he walked to his mother and asked the question I hate to hear. “Can we go home now, Mom?” “Just a minute, honey. I need to get Aria ready,” she said,and brought out a new dress from a fancy bag. She got me all dressed up after which she knelt down, looked me in the eyes, and touched my cheek. “You did great out there, sweetie,” she said softly. “So brave. I’m proud of you.” I looked up at her. “Am I going somewhere?" She paused, then sighed and brushed my long hair behind my ear. “Yes.” “With you and Daniel?” I asked again. She smiled — the kind of smile that meant “no.” Then she shook her head, her eyes were sad. “No, sweetheart. But you’ll be taken good care of. It’s… it’s…” She paused, as if the words were too heavy to say. “It’s a .....a...good family. They will adopt you. You have to do whatever they say so they’ll take good care of you. Understand?” She had tears in her eyes. Seeing her like that, summoned tears in my own eyes and I allowed them to roll freely down my cheeks. “Hey, honey, you don’t have to cry. I promise to visit,” she said gently and cleaned my face. “I don’t want to go anywhere. I’m scared,” I sobbed and hugged her tightly. She wrapped her arms around me and kissed my forehead. "It's okay honey, it's okay". She whispered and consoled me. Daniel came over and joined the hug. Just then, the door opened. Daniel immediately stepped back in fear as two scray looking tall men in black suits walked into the room.124Jalinan waktu terus bergulir. Hari berganti menjadi minggu, hingga bulan terlewati dengan kecepatan maksimal. Situasi di Hong Kong, Shanghai, Guangzhou dan beberapa kota lainnya telah kembali kondusif. Tidak ada lagi perkelahian antara kelompok mafia yang tergabung dalam koalisi. Di Kota Taipei, kondisinya telah jauh lebih aman dan nyaman. Hingga warganya bisa beraktivitas dengan tenang dan santai. Tanpa perlu khawatir akan adanya perkelahian kelompok mafia lokal. Kehidupan rumah tangga Chyou dan Earlene pun kian harmonis. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan dan nyaris tidak terpisahkan. Meskipun Chyou beberapa kali harus berangkat ke luar kota ataupun luar negeri, Earlene tetap merasa diperhatikan sekaligus dicintai. Walaupun terpisah jarak.Bila tengah berada di Kota Taipei, setiap pagi Chyou akan menemani istrinya jalan kaki mengelilingi kompleks. Pria bermata sipit kian takjub dengan kepopuleran Earlene yang selalu disapa para tetangga. Baik yang muda maupun tua, akan m
123Hari berganti hari. Waktu yang diberikan pada kelompok Mùyáng Fheng pun usai. Chyou meminta Flint untuk menghubungi Tengfei, karena hanya dia yang bisa diajak bicara dengan tenang. Tengfei mengajak bertemu nanti malam di tempat yang telah ditentukan. Namun, Flint mengubah lokasinya, karena khawatir ada jebakan menanti di tempat yang diketahuinya sebagai restoran milik kerabat Mùyáng Fheng. Tengfei menyanggupi dan berjanji untuk datang tepat waktu. Setelah menutup sambungan telepon, pria berpipi tirus memandangi kakaknya yang sedang berbincang dengan sang bos. Mùyáng Fheng telah menyetujui ketiga syarat yang diajukan pihak Aiguo. Namun, Zimo masih bersikeras untuk tidak melakukan syarat pertama. Tengfei berdebat dalam hati. Dia bimbang, antara mendukung Zimo, atau memaksa pria tersebut menyerahkan diri. Tengfei berpindah ke dekat jendela. Dia mengetikkan pesan dan mengirimkannya pada Flint. Tidak berselang lama anak tertua Fang Xie membalas pesan dengan mengirimkan nomor tele
122Dante, Jianzhen, To Mu dan Yuze memasuki ruangan besar di lantai tiga sambil merunduk untuk menghindari peluru yang ditembakkan beberapa orang lainnya. Zulfi, Yanuar dan Yoga menyusul. Bila kedua rekannya balas menembaki pihak lawan dengan pistol masing-masing, Yanuar melepaskan banyak anak panah yang berhasil melumpuhkan para penjaga. Wirya masih baku hantam dengan Jingguo. Sementara Chyou bertarung melawan Quan. Sedangkan Alvaro berhadapan dengan Kang. Dante dan yang lainnya memilih lawan masing-masing, kemudian berkelahi dengan mengeluarkan tenaga penuh. Seunit mobil MPV hitam berhenti di dekat belasan motor di halaman depan. Salman turun sambil membawa kamera beresolusi tinggi miliknya. Yanzou dan Rangga mendampingi Salman yang hendak memanjati dinding, menggunakan tali yang diulurkan Gwenyth dan Dionna dari balkon lantai dua. Rangga memanah siapa pun yang hendak mendekat. Benton yang menjadi sopir mobil tadi, bergegas turun sembari menembakkan pistolnya ke pihak lawan. C
121Sekelompok orang memasuki pekarangan sebuah vihara. Mereka bergegas menghampiri kelima anggota keluarga Bao yang sedang duduk di kursi-kursi, di tengah-tengah halaman depan. Zimo Kuang berhenti 10 meter dari para kerabatnya, tepat di garis pembatas yang telah dibuat tim PBK muda. Asisten kepercayaan Mùyáng Fheng memperhatikan sekeliling sambil menghitung jumlah orang yang menjaga tawanan. "Kupikir Chyou yang akan datang langsung. Tahunya dia hanya mengirim ajudan," ledek Zimo Kuang sambil memandangi Alvaro dan rekan-rekannya yang berada di belakang para tawanan. "Menghadapi babi sepertimu, cukup hanya kami," balas Yusuf yang berdiri di sebelah kanan Alvaro."Bahasamu kasar, Anak muda!" desis Zimo Kuang. "Tidak perlu berlaku sopan santun pada kalian. Karena bagi kami, kalian cuma sekumpulan babi bau dan jorok." "Jaga bicaramu!" Yusuf mengacungkan jari tengah kanan tangannya. "Aku tidak takut padamu." Zimo Kuang hendak maju, tetapi tangannya ditarik sang adik. Tengfei mengge






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan