Tidak banyak yang menyadari bahwa nama 'sanma' sendiri mengandung petunjuk visual dan musiman yang menarik: karakter kanji '秋刀魚' sebenarnya secara harfiah bisa diterjemahkan sebagai 'ikan-pisau-musim-gugur'. Itu selalu terasa keren bagiku karena nama saja sudah menulis musim. Aku suka membayangkan orang dulu melihat bentuk tubuh panjang dan runcing sanma lalu membandingkannya dengan pisau, lalu menautkannya ke musim gugur—itu estetika Jepang yang sangat puitis.
Selain itu, fakta yang sering terlewat adalah perubahan fisiologisnya: sanma jadi sangat berlemak saat memasuki musim gugur karena menimbun energi untuk migrasi dan pemijahan. Makanya dagingnya begitu kaya rasa di musim itu; kalau kamu makan sanma di luar musimnya, rasanya bisa jauh berbeda. Aku pernah mencoba membandingkan sanma dari pasar lokal dan dari freezer toko, dan perbedaan kadar minyaknya jelas terasa.
Oh ya, satu trik nelayan yang jarang diceritakan ke penggemar biasa: sanma sering berkumpul di permukaan pada malam yang hangat dan bisa ditarik dengan kapal yang menyalakan lampu untuk menarik plankton yang jadi makanannya. Jadi ada hubungan antara cahaya, plankton, dan kadar lemak ikan—alasan mengapa musim panen dan teknik penangkapan ikut menentukan kualitas yang sampai ke piringmu. Kalau dipikir-pikir, makan sanma itu seperti menikmati potongan ekologi laut malam hari—selalu bikin aku mikir dua kali sebelum menyantap lagi.