Alva
Bunda menggeleng-geleng maklum, selama ayahnya masih ada urusan di luar negeri Naisa terlihat sangat menikmati hari-harinya yang agak bebas.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit,bus biru bercorak itu tiba di halte yang biasa tempat sakral utama menurut Naisa, karena lumayan sepi.
Yang turun hanya dia seorang, entah kenapa hasratnya hanya ingin berhenti di sini.
Setelah membayar supir bus, Naisa turun dari bus itu.
Kepalanya celingak-celinguk menoleh kesana kemari, seperti mencari sesuatu di belakang halte itu, di daerah jalan berlorong yang jaraknya sekitar 100 meter dari halte bus.
Hot Chapters