Godaan Maut CEO Cantik
Ponsel di genggamannya terasa berat, layarnya menampilkan ruang obrolan yang hanya berisi gelembung-gelembung pesan darinya yang tidak kunjung berubah menjadi centang biru.
"Ian... kamu ke mana?" bisik Binar lirih.
Setiap kali merasa cemas seperti ini, ingatan Binar selalu berlari ke delapan tahun yang lalu, di sebuah sore yang basah di halaman Panti Asuhan Sanctuarium.
Saat itu, Binar adalah putri pengurus panti yang baru pindah dari desa. Ia merasa asing, takut, dan kesepian. Ia sedang duduk di bawah pohon beringin tua, menangis karena tidak sengaja menjatuhkan botol minum kuning kesayangannya ke selokan yang dalam.
Bab Populer