Gairah Cinta Kakakku
"Kakak serius mau bertunangan dengan Mbak Friska?"
"Kakak serius, Dek. Bahkan dua rius bila perlu," sahutnya sambil perlahan-lahan menggenggam tanganku, mencium keningku. "Jadi Kakak mohon... kamu harus mengerti dengan posisi kita, tentang hubungan kita. Mulai sekarang... lupakan rasa cinta itu, dan anggap ciuman tadi tidak pernah terjadi di antara kita. Tapi kamu tenang saja... rasa cinta dan sayang Kakak padamu tidak akan pernah pudar. Selamanya kamu akan memiliki tempat di hati Kakak."
Air mataku mengalir deras, membasahi pipiku, mengalir tanpa bisa dihentikan. Hatiku sakit, hancur berkeping-keping, seperti kaca yang jatuh dan berserakan.